Rabu, 16 Januari 2019

Aktivitas Gunung Anak Krakatau Meningkat, Industri Perlu Dipantau

SERANG, (KB).- Industri di pesisir Banten yang rawan bencana perlu dipantau dan dilibatkan dalam anitisipasi dampak bencana, mengingat aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) meningkat. Hal itu dikatakan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten memantau.
“Gubernur perlu ada tim melakukan monitoring pendekatan ke pabrik besar. Area rawan bencana di Banten, ini harus mulai sekarang. Umumkan ke masyarakat cari humas, tidak menakut-nakuti tapi memberi pengertian wilayah terjangkau oleh batuknya maupun muntahnya (GAK), harus dicermati yang bisa muncul setiap saat,” kata Tjahjo saat berkunjung ke Pendopo Gubernur
Banten, KP3B, Kota Serang, Jumat (28/12/2018).
Pendekatankepada industri itu, menurut dia, bagian cara untuk mengantisipasi dampak bencana lebih besar, jika sewaktu-sewaktu bencana akibat GAK kembali timbul. “Saya kira perlu
persiapan, ini kan baru gejala. Ya mudah-mudahan tidak semakin membesar, tapi setidaknya ada
persiapan. Ada deteksi dini mempersiapkan kemungkinan, seandainya ada yang tidak kita
inginkan,” katanya.
Mantan Anggota DPR RI ini meminta agar pemetaan daerah rawan bencana di Banten dilakukan secara terintergasi. Mulai dari pemerintah daerah, desa sampai dengan pihak industri yang rawan bencana.
“Karena wilayah Banten Selatan ini yang berdekatan dengan Selat Sunda itu area rawan bencana. Harus siap siaga, Pak Gubernur sampai perangkat desa harus mengkonsolidasikan diri, menggerakan seluruh perangkatnya. Supaya meminimalisasi korban seandainya timbul hal yang lain,” tuturnya.
Disinggung apakah industri tersebut perlu menghentikan produksi, mantan Presidium Lembaga Pengkajian Sosial Politik Indonesia ini menyerahkannya kepada Gubernur Banten. Berdasarkan
informasi yang diterimanya, Gubernur Banten sendiri sudah melakukan pendekatan kepada industri.
“Saya kira itu diserahkan kepada gubernur. Pak gubernur sudah punya kebijakan, (industri di wilayah pesisir) sudah dikumpulkan Pak gubernur, sudah diberi penyuluhan untuk apa, yang penting mereka ikut terlibat. Menggerakan dan mengkondisikan seandainya ada kemungkinan,
akan timbulnya, marahnya GAK,” tuturnya.
Gubernur Banten Wahidin Halim memastikan sudah melakukan pendekatan dengan para industri
di Banten, untuk membicarakan antisipasi dampak bencana. “Pabrik atau industri yang berdekatan dengan GAK sudah berkoordinasi, melakukan langkah pengamanan mesti harus juga
ada perlindungan,” katanya.
Para industri juga merespon pendekatan tersebut, dengan melakukan analisis dampak lingkungan (amdal) tsunami, serta menentukan mekanisme evakuasi. “Mereka bilang tiga menit sebelum
paparan meledak sudah mematikan, hentikan kegiatan,” katanya.
Ia memita pemerintah pusat mengingatkan para investor untuk membangun industri jauh dari
pantai. “Kami juga mohon dukungan penguatan langkah-langkah, mengingatkan pemilik modal
atau investir membangun jauh dari pantai,” tutur pria yang akrab disapa WH ini.

Intensitas dentuman

Sementara itu, Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) meningkat, dengan intensitas dentuman mencapai mencapai 14 kali per menit sejak Kamis (27/12/2018).
Kepala Badan Geology Kementrian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudy Suhendar mengatakan, aktivitas GAK cukup meningkat berdasarkan hasil evaluasi selama dua hari belakangan. Ditambah lagi, kata dia, beberapa hari lalu sudah ada jatuhan abu yang masuk ke daratan.
“Artinya, sudah ada wilayah terdampak. Selama ini, wilayah terdampaknya hanya di lingkaran GAK saja. Kemarin wilayah terdampak di Anyer dan Cilegon dengan ketebalan 1 milimeter. Mudah mudahan tidak ada lagi. Karena pada saat itu ada letusan dengan ketinggian lebih dari 2.500 meter dan kemudian arah angin menuju ke wilayah timur laut. Terus tremor juga meningkat dilihat dari seismograf kisaranya 15-20 mili,” tutur Rudy Suhendar kepada Kabar
Banten saat ditemui di Pos Pemantau GAK di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Jumat (28/12/2018).
Dia mengatakan, kenaikan status GAK menjadi waspada karena pihaknya sudah melakukan evaluasi terlebih dahulu. Namun untuk memastikan kondisi GAK tersebut, di pos pemantauan
ada empat pengamat, enam vulkanologi, dan teknisi yang sewaktu-waktu bisa memperbaiki peralatan di sekitar GAK. “Jadi full personel kita, dalam rangka memberikan pengamatan aktivitas GAK agar dapat diinfokan aman tidak,” ujarnya.
Disinggung soal alat pemantau, kata dia, sejak enam bulan terakhir pihaknya sudah memasang empat alat seismograf namun tiga diantaranya sudah rusak. Rencananya, pihaknya akan menambah dua lagi yang dipasang di Pulau Panjang dan Pulau Rakata. “Kami sudah siapkan untuk rencana itu tapi karena ada ancaman lontaran, ada ancaman
longsoran, sehingga mengganggu gelombag disana. Kalau situasi sudah tenang mungkin kita bisa mendarat disana Pulo Panjang dan Rakata. Karena pulau itu masuk radius 5 km,” katanya.
Di tempat yang sama, Sekretaris Badan Geology Kementrian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Antonius Ratdomopurbo mengatakan dentuman aktivitas Gunung Anak Krakatau
(GAK) terjadi hingga 14 kali dalam satu menit sejak Kamis (27/12/2018). Atas alasan tersebut, kata dia, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) meningkatkan status GAK ke level III (Siaga).
“Sampai 14 kali dentumannya. Setiap 5-7 detik itu dentumannya sejak kemarin (Kamis). Tapi sekarang agak turun jadi 9 kali per menit, tapi fluktuasi. Kalau turun bukan berarti turun terus, kalau turun kadang naik juga,” ujar Sekretaris Badan Geology Kementrian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Antonius Ratdomopurbo.
Purbo menjelaskan, walau dentuman itu sangat tinggi intensitasnya, namun itu bukan berarti bahaya. Kondisi itu, menurut dia, adalah data yang terus dipantau. Melalui dentuman itu,
pihaknya bisa memantau status kekuatan dan parameter seperti apa.
“Paramerter berapa tambah kecil atau gimana, itu berpengaruh dalam melihat mekanismenya. Kami kan vulkanologi ini memahami gunung ini kenapa, itu datanya dibangun. Kan dentuman ada frekuensinya, kadang tinggi, rendah atau gimana. Kami punya datanya,” tuturnya.
Flow debit magma
Ia menuturkan, karena tingginya intensitas dentuman tersebut maka atas kesepakatan bersama status aktivitas GAK pun dinaikan ke level III (Siaga). Sebab dengan tingginya dentuman, berarti flow debit magma pun semakin besar. “Kalau sampai 14 dentuman per menit itu berarti dalam 5 detik sekail, itu seperti enggak berhenti,” ucapnya.
Sampai saat ini pihaknya masih belum mencabut status Siaga GAK. Berdasarkan pengalaman, status tersebut tidak pernah berlaku hanya dalam waktu sehari. Status itu bisa saja dinaikan atau
bertahan lama jika aktivitas gunung meningkat. “Jadi tergantung gunungnya. Bisa saja turun, kalau turun ya masa kita juga enggak menurunkan statusnya,” tuturnya. (SN/DN)*

Sekilas Info

Iti-Ade Optimistis Kabupaten Lebak Lepas dari Predikat Daerah Tertinggal

SERANG, (KB).- Pasangan Iti Octavia Jayabaya-Ade Sumardi resmi dilantik oleh Gubernur Banten Wahidin Halim menjadi Bupati …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *