Akibat Hujan dan Angin Kencang, 26 Kantor OPD Pemprov Banten Rusak

KONDISI kerusakan di Aula Kantor BPKAD Banten di KP3B, Kota Serang akibat cuaca ekstrem, Kamis (14/11/2019).*

SERANG, (KB).- Sebanyak 26 kantor OPD pemprov Banten dan instansi vertikal akibat cuaca ekstrem berupa hujan disertai petir dan angin kencang yang melanda Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), Rabu (13/11/2019). Nilai kerusakannya ditaksir mencapai Rp 6,6 miliar.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banten mencatat kerusakan akibat cuaca ekstrem berupa hujan disertai petir dan angin kencang yang melanda KP3B, ditaksir mencapai Rp 6,6 miliar.

Selain 26 kantor OPD pemprov dan instansi vertical, cuaca ekstrem juga mengakibatkan sejumlah kendaraan di KP3B mengalami kerusakan dan banyak pohon yang tumbang.

Untuk yang di luar KP3B, juga ada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dan Samsat Kota Serang. “Instansi vertikal ada BPS (Badan Pusat Statistik) instansi vertikalnya. Kemudian juga di Masjid Albatani,” katanya.

Dia mengatakan, OPD Pemprov Banten yang mengalami kerusakan paling parah yaitu kantor BPKAD Banten dan RSUD Banten. “Sehingga, perlu segera dilakukan tindakan untuk mengoptimalisasikan pelayanan,” ujarnya.

Dia mengatakan, nilai kerusakan Rp 6.6 miliar tersebut masih perkiraan. Ke depan, bisa dilakukan perhitungan detail, sehingga nilainya kemungkinan bisa berubah. “Bisa berkurang, bisa bertambah. Tapi 26 OPD plus instansi vertikal,” ucapnya.

Terkait dana yang digunakan untuk memperbaiki kerusakan, pria yang juga Inspektur Banten ini belum bisa memastikan. Pihaknya akan rapat terlebih dahulu dengan stakeholder di Pemprov Banten. “Insya Allah dilakukan untuk penyelesaiannya, untuk melakukan rehabilitasi rekonstruksinya,” katanya.

Ia tak menampik dana tak terduga (DTT) menjadi salah satu sumber pembiayaan yang dipertimbangkan untuk perbaikan. “Tapi dana kan kalau dinyatakan status darurat dulu. Kami nanti dicarikan berbagai alternatif untuk pembiayaan pendanaan merehabilitasi, terutama kantor yang memang terdampak secara fisik adanya kerusakan,” katanya.

Sejauh ini belum diterima informasi terkait adanya korban jiwa akibat cuaca ekstrem. Ke depan perlu dilakukan kewaspadaan untuk mengantisipasi kejadian serupa. “Kami harus mewaspadai dari peringatan BMKG bahwa dimungkinkan terjadinya cuaca ekstrem. Bukan puting beliung, tapi cuaca ekstrem ternyata. Saya sudah koordinasi dengan kepala BMKG,” tuturnya.

Cuaca ekstrem memang biasa terjadi pada masa peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan. “Ke depan akan mempertimbangkan kalau misalkan hasil analisis BMKG dimungkinkan adanya terdampak, akan melakukan kesiapsiagaan,” ujarnya.

Disinggung terkait dampak kerusakaan cuaca ekstrem secara keseluruhan, kata dia, kerusakan paling parah terjadi di Kota Serang. “Ternyata (cuaca ekstrem) juga terjadi Kota Tangerang hari sebelumnya, (dampaknya) kebanyakan pohon (tumbang). Tapi kalau Kota Serang rumah sama pohon, kalau KP3B kebanyakan perkantoran,” katanya.

Belum merumuskan pembiayaan

Hal hampir senada dikatakan Sekda Banten Al Muktabar. Ia mengatakan, pihaknya belum merumuskan formula pembiayaan untuk memperbaiki kerusakaan. Khusus RSUD Banten, kata dia, kemungkinan besar akan menggunakan dana yang ada.

“Karena BLUD, kami lihat nanti berapa yang bisa segera luncurkan untuk memperbaiki itu. Dan rumah sakit harus sangat cepat, karena itu bagain dari layanan publik,” ucapnya.

Ia memastikan kerusakaan parah di BPKAD Banten tak begitu berdampak terhadap kinerja. BPKAD masih bisa memaksimalkan ruangan yang ada. “Tapi kalau tidak segera benahi takut bocor merembet ke mana-mana kan. Makanya kita segera ambil langkah,” tuturnya.

Direktur RSUD Banten Danang Hamsah Nugroho mengakui, RSUD Banten menjadi salah satu yang terdampak cuaca ekstrem. Plafon bagian atap sejumlah ruangan inap di lantai mengalami kerusakan.

Guna menghindari kejadian tak diinginkan sebanyak 15 pasien dievakuasi ke lantai satu. Kini kondisi pelayanan dipastikan sudah berjalan normal kembali. “Alhamdulillah kondusif. Tapi karena ruang operasi tidak dapat dipakai, maka pasien operasi kami rujuk,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala DKSP Banten Komari menuturkan, tumbangnya dua antena internet miliki DKSP Banten membuat jaringan internat di KP3B sempat terputus. Akan tetapi, masalah tersebut sudah diatasi dan kini jaringan internet sudah tersambung.

“Untuk perbaikan tidak bangun lagi. Kami menggunakan menara di gedung KNPI. Punya menara BTS (base transcevier station), kami perkuat dengan fiber optic,” tuturnya. (SN)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here