Kamis, 20 September 2018

Aki Gunung: Ulama Pembuka Jalan Gunung 

Semasa hidupnya, almarhum Dr. KH. Fuad Halimi Salim ‎terkenal sebagai sosok ulama yang berpenampilan  sangat sederhana. Tidak menampakkan asesoris keulamaan, tapi perbuatannya diakui melaksanakan tugas ulama. Masyarakat sering menyapanya dengan sebutan Aki Fuad atau Aki Gunung. Gunung disematkan di belakang namanya, mungkin karena ulama kharismatik ini memilih tinggal bersama para santrinya di puncak gunung.

Tidak sedikit pejabat negara dan cendekiawan yang rela bersusah payah naik gunung, demi untuk bertemu  sosok Aki Gunung. Tak hanya mereka, bahkan para banyak kiai yang menjadikannya sebagai “guru besar”. Wajar jika ulama yang tetap memilih tinggal di Kaduronyok, Pandeglang ini banyak memiliki murid kiai, bukan hanya di Indonesia tapi juga yang tinggal di luar negeri.

KH. Khozinul Asror  adalah salah seorang murid Aki Gunung. Di mata Kiai Asror, Aki Gunung adalah kiai besar dan guru besar yang memiliki harisma sangat besar. “Keilmuan beliau diakui para kiai yang yang pernah bertemu langsung dengannya. Namun demikian, beliau tidak pernah menampakkan diri sebagai kiai,” kata Kiai Asror. Keulamaan Aki Gunung sengaja ditutupinya dengan jubah kesederhanaannya.

Tidak banyak yang tahu, semasa hidupnya Aki Gunung pernah menjadi dosen di sejumlah perguruan tinggi di Indonesia. Bahkan, ia juga sering menjadi dosen tamu  di perguruan tinggi luar negeri. Di Indonesia, ia pernah menjadi pengajar di UI, Undip, UGM, dan Unpad.

“Saya mengenal sosok almarhum sebagai ulama, juga guru saya. Satu yang pernah saya saksikan, beliau pernah memegang daun kering. Saat daun itu diracik tangannya, spontan daun berubah menjadi uang. Tapi waktu itu dia berpesan kepada saya, jangan melakukan ini. Ini saya lakukan hanya kepepet,” ujar KH Asror menirukan ucapan almarhum.

Masih menurut Kiai Asror, almarhum satu-satunya ulama yang pernah membuka jalan menuju Gunung Kaduronyok sepanjang 5 kilometer. Kalau tidak menyaksikan sendiri, Kiai Asror mengaku tidak akan percaya dengan peristiwa yang sulit diterima akal tersebut. “Aki Gunung membuka jalan tersebut hanya dibantu oleh 14 orang. Anehnya, tidak seorangpun warga di kampong tersebut yang mengenal 14 orang yang membantu Aki Gunung,” katanya.

Menurut Kiai Asror, selama bekerja membantu Aki Gunung, ke-14 orang itu tidak pernah berbicara sepatah katapun. Dan, setiap selesai bekerja mereka langsung pulang menuju hutan. “Ya, bisa saja itu bantuan gaib,” ujarnya. Menurut Kiai Asror, ada pesan mengharukan yang disampaikan Aki Gunung kepada istrinya. Pesan tersebut disampaikan beberapa hari sebelum Aki Gunung wafat.

Kepada sang istri, Aki Gunung berpesan agar bersabar. Pesan tersebut terkait kesehatan fisiknya yang dua tahun terakhir mulai menurun. “60 tahun saya diberikan sehat. Kalau dikasih sakit dua tahun, itu sangat tidak berarti apa-apa,” kata Aki Gunung kepada istrinya. Dan, selama  hidupnya Aki Gunung tidak pernah mengeluh soal penyakitnya.

Tentang karomah, sejumlah warga menceritakan tak sedikit jemaah umroh dan haji yang mengaku bertemu Aki Gunung di Mekah. Akan tetapi memang, sejumlah warga mengakui tidak setiap hari bisa melihat Aki Gunung di pesantrennya. “Aki sering tidak terlihat ada di pondok. Mungkin saja itu ada kaitan dengan cerita banyak orang yang pernah bertemu dengan Aki di Mekah,” kata Abdullah, salah seorang pelayat. Ia menjadi salah seorang dari ribuan pengiring jenazah Aki Gunung menuju pemakaman.

Kini, Aki Gunung telah pergi menghadap Yang Maha Kuasa. Akan tetapi, jasa-jasa Aki Gunung kepada bangsa tak akan ikut pergi. Antara lain karena jasanya membangun jalan menuju puncak gunung, ulama serba bisa itu dikenal dengan panggilan Aki Gunung.*


Sekilas Info

Pemkab Pandeglang Diminta Transparansi Publik

PANDEGLANG, KB.- Massa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Pandeglang berunjuk rasa di depan Gedung Setda …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *