Akbar Tandjung ”Chemistry” Perjuangan Provinsi Banten

H. Khatib Mansur.*

H. Khatib Mansur

Ada catatan kecil dari postingan WhatsApp grup sebelah, sehari menjelang acara peresmian dan deklarasi organisasi baru tokoh-tokoh rakyat Banten, yakni Keluarga Besar Badan Koordinasi Pembentukan Provinsi Banten – disebut Bakor Banten – karena ada rencana kehadiran Wapres RI K.H. Ma’ruf Amin di acara pertemuan dan pengukuhan organisasi baru tersebut, di Pendopo Gubernur Banten, Rabu (15/1/2020) kemarin.

Ternyata pada hari “H”, Wapres K.H. Ma’ruf Amin tidak bisa datang, mendadak harus rapat terbatas dengan Presiden Joko Widodo di Istana Negara pada jam yang sama, sehingga tidak mungkin dalam waktu yang sama, dalam jam yang sama juga, ada dua agenda. Waktu tak bisa dibagi dua oleh siapa pun.

Memang sekitar seminggu sebelumnya, pada Kamis (9/1/2020), Staf Sekretariat Wakil Presiden telah mengonfirmasi kepada Ketua Panitia H. Aeng dan Ketua Umum Bakor Banten H. Irsjad Djuwaeli perihal peserta yang diundang pada acara tersebut. Namun, secara mendadak pada tanggal pelaksanaan, rupanya beliau tidak bisa meninggalkan Jakarta.

“Meskipun demikian, alhmadulillah putri beliau Hj. Siti Nur Azizah Ma’ruf yang menduduki posisi sebagai Bendahara Umum di Bakor Banten selalu aktif dalam beberapa kali rapat, sejak rapat-rapat persiapan pelaksanaan acara peresmian Bakor Banten sampai hari “H” hadir bersama-sama di sini,” kata H. Aeng.

Selain itu, menurut penjelasan Sekjen Bakor Banten H.M. Aly Yahya, bahwa Ketua Dewan Kehormatan Keluarga Besar Bakor Banten Dr. Ir. H. Akbar Tandjung dipastikan hadir sesuai hasil konfirmasi kehadiran beliau.

Menurut Ketua Panitia Pelaksana H. Aeng Haerudin, kegiatan yang semula akan dipusatkan di Gedung DPRD Banten mendadak dipindahkan ke Pendopo Gubernur Banten sesuai keinginan Gubernur Banten. Alhamdulillah surat undangan sudah direvisi dan masih ada waktu untuk segera dicetak dan diedarkan.

Pada saat menyampaikan kata sambutan pengukuhan Dewan Pengurus Bakor Banten, Ketua Panitia Pelaksana H. Aeng Haerudin sempat terbata-bata dengan mata sembab. Seketika suasana seisi ruangan pendopo pun hening. “Saya sempat haru tak tertahankan, karena terbayang perjuangan selama 1999-2000, cukup berat, melelahkan. Namun, setelah Provinsi Banten berdiri, tokoh-tokoh rakyat Banten nyaris ditinggalkan begitu saja oleh pemprov, kurang ada kebersamaan. Ini yang memicu saya sedih,” katanya kepada penulis.

Chemistry Akbar

Sosok Akbar Tandjung saat masih sebagai Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), turut dalam rombongan kunjungan silaturahim Presiden B.J. Habibie dengan para ulama se-Banten di Ponpes Darul Iman, Pandeglang, Jumat (5/2/1999). Rombongan Presiden selain didampingi ibu Negara Ainun Habibie, turut hadir juga Menteri Agama Malik Fajar, Panglima TNI Jenderal Wiranto, Menteri Koperasi Adi Sasono, Gubernur Jawa Barat R. Nuriana, Bupati Pandeglang H. Yitno, tuan rumah K.H. Aminudin Ibrahim, K.H. Mansyur Muhyidin, dan tokoh-tokoh Banten lainnya.

Dalam kesempatan berikutnya, pada saat tokoh-tokoh rakyat Banten menyampaikan aspirasi ke DPR RI, Selasa (25/1/2000), bertemu lagi dengan Akbar Tandjung selaku Ketua DPR RI, didampingi Wakil Ketua DPR RI Soetardjo Soerjogoeritno, anggota DPR RI dari Fraksi TNI Dedi Sudarmadji, dan anggota DPR RI asal Banten dari Fraksi Partai Golkar H.M. Aly Yahya.

Hadir pada kesempatan pertemuan tersebbut, sejumlah tokoh-tokoh penting rakyat Banten hingga tokoh-tokoh muda, antara lain H. Uwes Qorny, Hasan Alaydrus, H. Tubagus Tryana Syam’un, H. Tubagus Chasan Sochib, H. Muchtar Mandala, H. Irsjad Djuwaeli, Tubagus Farich Nahril, H. Mardini, H. Mufrodi Muksin, H. Tubagus Aat Syafaat, H. Mulyadi Jayabaya, H.M.A. Tihami, Sanuri Almariz, H. Maman Rizal, H. Aceng Ishak, H. Jajat Mudjahidin, Agus Najiullah Ibrahim, H. Juwanda, Uu Mangkusasmita, Jajuli Mangkusubrata, Sarbini Suharta, Dr. H. Sholeh Hidayat, H. Sagaf Usman, Aeng Haerudin, Udin Saparudin, K.H. Mansyur Muchyidin, H. Irja Jaris, H. Zaidan Rivai, Hary Zaini, termasuk BEM mahasiswa Banten dari sejumlah perguran tinggi, dan lainnya.

Saat itu, tokoh-tokoh rakyat Banten menyampaikan naskah aspirasi pembentukan Provinsi Banten kepada Ketua DPR RI Akbar Tandjung. Naskah aspirasi tersebut disampaikan secara berantai dari K.H. Aminudin Ibrahim ke Tubagus Edy Mulyadi (selaku Koordinator DPRD se-Banten), dilanjutkan ke Dadang Kartasasmita (Ketua DPRD Kabupaten Tangerang), kemudian diserahkan kepada Ketua DPR RI Akbar Tandjung.

Sosok Akbar punya chemistry (keterikatan emosional dan kesan yang mendalam) bagi tokoh-tokoh rakyat Banten, terutama di bidang politik, karena dukungan Akbar selaku Ketua DPR RI cukup berpengaruh mewarnai aspirasi rakyat Banten menggelinding dari tingkat pusat sampai ke daerah. Akhirnya pada Sidang Paripurna pengambilan putusan dan pengesahan RUU tentang Pembentukan Provinsi Banten yang didahului dengan mendengarkan pendapat akhir Fraksi-fraksi terhadap RUU Pembentukan Provinsi Banten, yang dipimpin Wakil Ketua DPR Soetardjo Soerjogoeritno, Rabu (41/10/2000), seluruh anggota DPR RI menyetujui pengesahan RUU tentang Pembentukan Provinsi Banten.

Sejumlah tokoh nasional lainnya selain Akbar, yang juga mempunyai chemistry terhadap perjuangan pembentukan Provinsi Banten, antara lain Presiden H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Jenderal TNI (Purn) Surjadi Soerjadi, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, Prof. Dr. Ryass Rasyid, Adi Sasono, Sarwono Kusumaatmadja, Bursah Zarnubi, dan Hj. Mien Sugandhi.

Akbar Tandjung saat menerima rombongan tokoh-tokoh rakyat Banten tersebut menyatakan, DPR RI menanggapi positif keinginan kuat rakyat Banten untuk meningkatkan status daerah Keresidenan Banten menjadi daerah otonom provinsi. “Usul pembentukan Provinsi Banten merupakan usul yang berurgensi tinggi, karena keinginan kuat tersebut, telah menjadi tuntutan dan aspirasi segenap rakyat Banten sejak dasawarsa tahun 1950-an,” tuturnya.

Menurut Akbar, untuk mewujudkan kelahiran Provinsi Banten, DPR telah meneliti persyaratan, baik dokumen maupun berkas yang telah diserahkan untuk mempelajari gambaran kehendak segenap rakyat Banten mengenai pembentukan Provinsi Banten. Semua persyaratan yang diserahkan, kata Akbar, telah dipenuhi. Artinya, dari aspek geografis, ekonomi, SDM, SDA, Banten memiliki potensi yang cukup memadai untuk ditingkatkan menjadi daerah provinsi.

“Atas dasar tersebut, DPR menindaklanjuti usul tersebut dengan mengajukan Usul Inisiatif tentang Rancangan Undang-Undang (RUU) Pembentukan Provinsi Banten yang sudah ditandatangani oleh 52 anggota DPR RI. Padahal, persyaratan minimal sesuai Tata Tertib DPR RI saat itu cukup ditandatangani oleh 25 anggota DPR RI. Usul inisiatif DPR RI tersebut, segera dibahas dalam Badan Musyawarah (Bamus) DPR RI. Dari kesepakatan Bamus inilah akan dilakukan pembahasan berikutnya bersama pemerintah,” ucap Akbar.

Itulah gambaran chemistry sosok Akbar Tandjung di mata para tokoh rakyat Banten. Kehadiran sosok Akbar Tandjung dalam acara peresmian sekaligus Pengukuhan Dewan Pengurus Keluarga Besar Bakor Banten, Rabu (15/1/2020) kemarin, adalah mirip reuni, sekaligus mengenang dua dasawarsa silam, dinamika perjuangan tokoh-tokoh rakyat Banten dalam membentuk Provinsi Banten.

Sejalan dengan itu, dilaksakan berbagai kegiatan seminar dan warkshop pembangunan di wilayah Banten yang diselenggarakan oleh H. Tubagus Tryana Sam’un (Ketua Bakor Pembentukan Provinsi Banten saat itu) dengan menampilkan tokoh-tokoh penting lainnya sebagai pemberi materi, seperti Prof. Dr. Tubagus Ronny Nitibaskara, Mayjen Pol. Taufiqurrahman Ruki, Prof. Dr. Hariri Hadi, Dr. Herman Haeruman, Ir. Tubagus Haedar Ali, Ir. Tubagus Yayat Sukiat, Prof. Dr. Abdul Bari, Dr. Djoko Munandar, Drs. Aman Sukarso, Drs. Yas’a Mulyadi, dan H. Yitno yang langsung dihadiri oleh Mendagri Surjadi Soedirdja, di Hotel Hilton Jakarta, Sabtu hingga Ahad (19-20/8/2000).

Akhirnya, Provinsi Banten lahir berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000 yang ditandatangani oleh Presiden RI H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Selasa (17/10/2000). Sekaligus diundangkan pada tanggal tersebut dan masuk dalam Lembaran Negara Nomor 182.

Puji WH-Andika

Ketua Umum Dewan Pengurus Bakor Banten H.M. Irsjad Djuwaeli pada kesempatan menyampaikan kata sambutannya pada peresmian dan deklarasi Besar Bakor Banten di hadapan Akbar Tandjung sebagai Ketua Dewan Kehormatan, Gubernur Banten Wahidin Halim (WH), Ketua DPRD Banten, Andra Soni, Kapolda Banten, Ketua Dewan Penasihat Bakor Banten, Tubagus Farich Nahril, unsur Forkopimda Banten, dan undangan lainnya menyatakan perjuangan Provinsi Banten memang berat, karena macam-macam keinginan sejumlah tokoh, kadang menegangkan. Itulah perjuangan.

Provinsi Banten di era kepemimpinan WH-Andika ini sudah banyak kemajuan, infrastruktur jalan dari Serang ke Pandeglang sampai Malingping sudah bagus dan mulus. “Tentu saja ini satu kemajuan. Kita patut bangga punya Provinsi Banten dan punya gubernur seperti sosok pak Wahidin ini,” ujarnya disambut applause hadirin.

Empat tahun sebelumnya, banyak orang masuk Ibu Kota Provinsi Banten sedikit heran dan kaget, karena setelah ke luar dari Tol Serang Timur, masih nampak seperti masuk perkampungan, belum nampak wajah ibu kota dan kondisi badan jalannya masih sempit. Sekarang, setelah adanya pemangkasan pohon dan pelebaran badan jalan, nampak terang dan terasa memasuki Ibu Kota Provinsi Banten. Ini terjadi di periode pak Gubernur WH-Andika.

Kami berharap, semoga di era kepemimpinan Gubernur WH-Andika ini tidak terdengar lagi kasus-kasus korupsi, seperti tahun-tahun sebelumnya. “Kami merasa malu mendengarnya moto juang pembangunan Banten “iman takwa”, tapi korupsi jalan terus. Ini jangan terjadi lagi di era sekarang,” ucapnya.

Ketua Dewan Kehormatan Bakor Banten Akbar Tandjung mengapresiasi pembangunan Provinsi Banten di era kepemimpinan WH-Andika, karena adanya peningkatan APBD hingga Rp 13 triliun lebih. Mudah-mudahan prestasi WH-Andika terus meningkat hingga APBD Banten mencapai Rp 20 triliun, sehingga akan lebih mudah mencapai cita-cita luhur pembentukan Provinsi Banten untuk segera menyejahterakan semua lapisan rakyat Banten.

Ketua DPRD Banten Andra Soni mengapresiasi adanya wadah Bakor Banten ini. Sudah saatnya Provinsi Banten dikritisi, agar lebih transparan. “Kami jangan terlalu banyak dipuji, kasihan rakyat jika hidupnya tidak sejahtera. Ini kewajiban kami bersama Pemprov Banten mengemban amanat sebaik-baiknya,” katanya saat bincang-bincang dengan penulis didampingi Ketua Fraksi DPRD Banten Agus Supriyatna dan lainnya.

Canda batik

Di sela-sela obrolan sejumlah pengurus Bakor Banten – sebelum acara dimulai – sempat ada candaan segar yang dipicu oleh berbagai model kemeja motif batik yang dikenakan pengurus, ternyata ada yang terbalik-balik. Candaan dan saling ledek pun pecah, makin akrab di antara pengurus, geerrr…

Ternyata sesuatu yang nampaknya mudah, belum tentu mudah pula dilaksanakan. Boleh jadi, itu semua fenomena kehadiran Bakor Banten sebagai mitra strategis Pemprov Banten, untuk mendorong percepatan kesejahteraan rakyat Banten. Kurang dan lebih adalah manusia biasa. Jika ada yang mengkritisi pembangunan Pemprov Banten itu spirit kepedulian, agar kembali ke jalan yang benar. Bukan benci! (Ketua Divisi Humas BAKOR BANTEN)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here