Akan Masuk Indonesia, Imigrasi Tolak 1.488 WNA

TANGERANG, (KB).- Sebanyak 1.488 warga negara asing (WNA) yang hendak masuk ke Indonesia melalui Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) Tangerang ditolak masuk ke Indonesia. Hal tersebut ditegaskan Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Bandara Soetta Safar Muhammad Godam, kepada Kabar Banten di kantornya, Rabu (20/11/2019).

Ia menuturkan, dari ribuan WNA tersebut, India diketahui sebagai WNA terbanyak yang ditolak masuk ke Indonesia. “Tercatat ada 252 orang, sedangkan di tempat kedua, adalah Bangladesh sebanyak 170 orang,” katanya.

Ia mengatakan, selain kedua negara tersebut, ada juga warga negara Sri Lanka 132 orang, Cina 105 orang, dan Nigeria 93 orang. Angka tersebut, menurut dia, merupakan jumlah data dalam periode Januari hingga Oktober 2019. Di mana penolakan tersebut bukan tanpa alasan.

Ia menjelaskan, penolakan didasarkan dari syarat keimigrasian yang ditentukan seperti surat-surat yang tidak lengkap dan lainnya. Selain alasan itu, lanjut dia, ada juga WNA yang tercatat dalam daftar tangkal atau red notice dari interpol.

Menurut dia, penolakan tersebut merupakan bentuk konkret penegakan kedaulatan Indonesia yang Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Bandara Soetta. “Hal ini dilakukan sebagai bentuk penegakan Kedaulatan Negara Republik Indonesia,” ujarnya.

Sulit deteksi perdagangan manusia

Masih kata Godam, pihaknya juga mengakui sangat sulit untuk mendeteksi perdagangan manusia dengan modus pengantin pesanan (mail-order bride). Terlebih, modus praktik pengantin pesanan sering terjadi pada perempuan Indonesia yang menikah dengan laki-laki asing, melalui peran agen perjodohan atau yang lazim disebut “mak comblang”.

Praktik tersebut, kemudian berkembang menjadi kasus yang terindikasi tindak pidana, karena para perempuan yang menikah dengan laki-laki asing, dalam hal ini laki-laki Cina, justru menjadi korban kekerasan. “Siapa yang bisa mengerti ini pengantin pesanan? Dokumen lengkap, mereka kemudian berangkat,” ucapnya.

Namun demikian, dia meyakini, bahwa dari data terakhir yang dia terima, tercatat ada 39 pengantin pesanan yang dipulangkan melalui KBRI Beijing. Namun, kasus serupa sebenarnya lebih banyak, akan tetapi tidak dilaporkan oleh para perempuan yang menjadi pengantin pesanan.

“Tetapi, fenomena itu muncul pada Juli 2019, di mana ada 39 pengantin pesanan yang dipulangkan dari Cina, karena KDRT atau merasa dipekerjakan tanpa gaji dan (alasan) lainnya. Dari 39 ini, ada yang lain yang lebih besar yang tidak ada masalah,” tuturnya.

Selain itu, saat terjadi masalah dalam rumah tangga, pengantin pesanan cenderung diam dan tidak melaporkan dirinya sebagai seorang korban perdagangan manusia.

Ia menuturkan, permasalahan pengantin pesanan banyak terjadi di Cina, karena jumlah laki-laki dan perempuan di Cina tidak seimbang, karena pemerintah setempat menerapkan kebijakan program menekan jumlah penduduk satu anak untuk satu keluarga. “Muncul kesulitan laki dan perempuan tidak seimbang. Akhirnya mencari jodoh di negara-negara (Asia Tenggara), bukan hanya di Indonesia,” katanya.

Untuk diketahui sebelumnya, Pemerintah Indonesia memulangkan 14 warga negara Indonesia (WNI) korban kasus pengantin pesanan (mail-order bride). (DA)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here