Ajak Masyarakat Bangun Spiritual Salakanagara, Gesbica UIN Banten Road Show Kailasa

Kelompok teater kain hitam UKM Gesbica UIN SMH Banten menampilkan salah satu adegan saat digelar pertunjukan teater berjudul "Kailasa" di Aula Kampus UIN SMH Banten, Senin (4/11/2019).*

SERANG, (KB).- Gema Seni Budaya Islam Campus (Gesbica) Universitas Islam Negeri (UIN) Banten menggelar road show teater bertajuk “Kailasa”, untuk mengajak masyarakat umum membangun spiritual Salakanagara.

Acara yang disutradarai oleh Kang Robin Haris dan melibatkan 20 pemeran ini, diselenggarakan di Aula Sadjeli Hasan lantai I kampus UIN Banten pada tanggal 4-7 November 2019. Kemudian dilanjut pada 8-9 November di Kaduengang Pandeglang, dan terakhir pada 19 Desember di Tengkurak Tirtayasa.

Ketua Umum Gesbica UIN Banten Nursilmi Astaji mengatakan, tujuan dari diselenggarakan teater Kailasa ini guna memaknai hidup lebih dalam, sehingga menggambarkan kehidupan sehari-hari manusia yang mencoba kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“Kailasa itu kan arti dari tempat perenungan, dan salah satu nama dari gunung lokal di Banten yaitu Pulosari. Jadi, tempat bersemayam untuk mendekatkan diri kepada tuhan. Sehingga, dengan bermeditasi, umat manusia dapat mengembalikan spirit Salakanagara yang positif. Seperti memfungsikan peran khalifah di muka bumi ini,” ucapnya.

Nursilmi mengungkapkan, ada sedikit perbedaan dari teater Kailasa. Di antaranya, tidak adanya sebuah dialog atau perbincangan secara dua arah, layaknya dua atau lebih manusia sedang berkomunikasi.

“Kalau nanti kalian melihat di adegan, kami tuh kebanyakan bermeditasi, tidak ada sama sekali dialog, menyampaikan pesan pula lewat kata-kata, syair, alunan suara, dan bahasa tubuh, seperti gambaran keributan hiruk-pikuk manusia. Lalu yang berbeda dari Kailasa, kami di sini memakai beberapa bahasa, di antaranya bahasa Sunda, rahmi, pali, Salakanagara,” katanya kepada Kabar Banten.

Sementara, Ketua Pelaksana Teater Kailasa Krisno Ardi mengatakan, kegiatan itu bermula dari keinginan mengangkat lokalitas Banten, seperti ‘Beluk’ yang didalamnya terdapat spirit Salakanagara.

“Naskah percakapan disini tidak ada, yang ada cuma meditasi pertunjukan-pertunjukan, agar segala yang berasal dari alam bisa dengan mudah berubah atas kehendak Allah. Sehingga, itu juga menjadi bahan mengingatkan kepada manusia untuk terus menjaga dan merawat alam semesta,” ujarnya.

Teater yang berdurasi kurang lebih 45 menit tersebut, didesain lebih mendalam dan intim agar pesan dan kesan yang tersirat dapat tersampaikan.

“Yang namanya teater pastinya lebih sering di indoor, dengan konsepan desain dekorasi yang gelap. Tapi di Kailasa, lebih gelap dan minim cahaya, guna lebih mendekatkan kembali antara penonton, pemain, dan yang maha kuasa, Allah Subhanallahu Wata’ala,” tuturnya. (Azzam/SJ)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here