Absurditas Islam-Arab

Oleh : Sukron Makmun

Ala man ahabba al-Araba fa bihubbi uhibbuhum wa man abghadha al-‘Araba  fa bi bughdhi ubghidhuhum (barang siapa yang mencintai Arab, maka karena cintaku aku akan mencintai mereka, dan siapa yang membenci Arab, dengan kebencianku aku akan membenci mereka).” Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar ini kadang disalahpahami, sehingga melahirkan Arabisme. Dipakai justifikasi untuk mengkultuskan ras atau bangsa tertentu karena dianggap suci dan dianggap sebagai bagian integral agama.

Al-Qur’an menganjurkan kita untuk saling mengenal dengan bangsa, suku dan ras yang lain. Persahabatan dapat langgeng jika dibangun di atas prinsip kesetaraan. Dalam pergaulan dengan masyarakat lokal maupun global, keadilan harus dijunjung tanpa membedakan ras, suku bahkan agama.

Istilah-istilah yang memiliki akar bahasa Arab ─bagi  sebagian Muslim Indonesia─ terkesan berbeda dengan yang akarnya dari bahasa-bahasa Non Arab. Prasangka terhadap bahasa Arab dan bahasa selain Arab sangat berbeda meskipun secara subtantif memiliki makna yang sama. Ini tidak terlepas dari cara pandang masyarakat yang terlanjur mengakar bahwa semua hal yang berbau Arab harus ditinggikan karena dianggap terkait erat dengan agama dan sumbernya.

Termasuk kepatuhan membabi buta pada habaib, terutama pada kultur masyarakat tradisional. Benar bahwa keturunan Nabi mendapat tempat khusus dalam tradisi Islam, namun perilakunya tetap dihukumi sebagai manusia. 

Saat ini masyarakat masih sangat sulit membedakan narasi-narasi keislaman dan Arab. Elit agama & politisi lebih suka bersekongkol –demi kukuasaan– dan tidak sungkan-sungkan mencomot aneka terminologi dalam Islam seperti imam, jihad, ulama, ijtima’ tanpa memperhatikan relevansinya dengan konteksnya masing-masing. Harus dibedakan antara agama dan pengetahuan agama, antara budaya Arab dan Islam. Jangan terlalu menyederhanakan perbedaan tsb, tanpa garis demarkasi yang jelas.

Benar bahwa bahasa Arab adalah bahasa al-Qur’an, juga bahasa akademik, namun bukan berarti bahasa Arab adalah bahasa yang suci. Saat digunakan untuk membahasakan pesan suci Tuhan, maka kedudukannya menjadi suci, sebab bersandar pada kalimat Tuhan. Namun ketika dipakai untuk membahasakan konsep-konsep manusia, maka kedudukannya menjadi sama dengan bahasa-bahasa yang lain. Kesuciannya lebih kepada apa yang ditransmisikannya, bukan bahasanya. Terbatas, tidak absolut.

Kita harus melihat kesucian bahasa dalam konteksnya sendiri. Mana yang merupakan bagian dari Islam dan mana yang merupakan bagian dari tradisi lokal Arab? Memilah antara keduanya, masih menjadi hal yang sangat sulit dan krusial untuk konteks Indonesia. 

Ada faktor diskursif, di mana mayoritas wacana Islam rata-rata terdokumentasikan dalam bahasa Arab. Ada faktor praksis, di mana praktik keislaman yang dilakukan oleh Muslim Indonesia selalu merujuk pada narasi-narasi Arab. Kedua faktor ini sangat kental, bahkan sedikit berlebihan, karena pengaruh geopolitik dan sosial Indonesia bila dibandingkan dengan negara / tempat asalnya.

Selain dua faktor tadi, ada juga faktor kearaban dan faktor kesejarahan, di mana Islam Indonesia diyakini, dibawa langsung oleh para pedagang Arab-Yaman. Teori ini lebih ditonjolkan oleh kalangan sejarawan ideolog Islam, meskipun teori ini sebenarnya kurang didukung dengan data yang kredibel. Tapi dukungan emosional justru sangat kuat dari masyarakat Muslim Indonesia.

Dengan menyatakan Islam datang langsung dari Arab, maka secara tidak langsung ingin menyatakan bahwa Islam yang datang ke Indonesia adalah Islam murni. Dengan demikian, maka harus dikembalikan pada bentuk aslinya. Untuk tujuan ini, terkadang memaksa pemeluknya harus menegasikan segala yang lokal. Karena yang berbau lokal dianggap tidak murni lagi.

Berbeda dengan yang di atas tadi, beberapa sejarawan justru mengungkapkan bahwa Islam datang ke Indonesia tidak langsung dari Arab, tapi melalui India atau melalui orang-orang Persia. Ada ahli yang mengatakan bahwa Indonesia adalah negeri Muslim yang pengaruh Arabnya paling sedikit. Islam pertama kali diperkenalkan oleh para pedagang Muslim Arab (abad 8 dan 9), tapi saat itu tidak terjadi konversi orang lokal ke dalam Islam.

Para pedagang itu lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berdagang. Justru momentum Islamisasi baru terjadi ketika para guru Sufi datang ke berbagai daerah di Indonesia pada akhir abad 12 (yang lebih dikenal dengan Wali Songo). Itulah kenapa Islam di Indonesia memiliki corak akomodatif yang unik, harmonis dengan kearifan lokal. Sangat kontekstual dengan lingkungan Indonesia.

Perlu ada dikotomi tegas antara Islam dan Arab, agar tidak terjadi absurditas antara keduanya. Dikotomi bukan untuk memisahkan, tapi agar mengetahui mana yang domain agama, mana yang non-agama? Untuk sakralisasi Islam dari anasir-anasir lokal Indonesia, termasuk unsur lokal Arab. Islam boleh berdialog dengan tradisi lokal manapun, tapi lokalitas Arab tidak bisa dipaksakan untuk diterapkan dalam konteks lokalitas Indonesia. Sebab, tanpa kompromi dengan budaya lokal, agama justru menjadikan manusia akan teralienasi dari lingkungannya sendiri. (Penulis adalah Wakil ketua PWNU Banten, Anggota Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI Provinsi Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here