Abdul Rochim (Pemimpin Redaksi Kabar Banten), Sederhana, Tangguh Hingga Akhir Hayat

Jumat, 3 November pukul 21.00, ruang redaksi Kabar Banten sudah penuh oleh wartawan dan para redaktur. Sebagaimana biasa, jajaran redaksi setiap Selasa, Kamis dan Jumat malam melakukan rapat proyeksi. Rapat proyeksi, jika tidak ada halangan, selalu dipimpin Pemimpin Redaksi Abdul Rochim. Abdul Rochim atau yang akrab dan biasa kami panggil Pa Ohim, selalu tepat waktu memimpin rapat.

Di antara jajaran redaksi, Pa Ohim memiliki style berbeda. Ia berpenampilan sederhana, baju batik dan tak lepas dari kopiah hitamnya. Dalam setiap memimpin rapat, hal yang selalu diingat oleh jajaran redaksi, yakni pesannya kepada kami yakni agar menjaga kesehatan. “Jaga kesehatan ya, cuaca sedang kurang baik. Jangan sampai sakit,” katanya dengan suara yang agak serak dan disertai batuk-batuk.

Usai berpesan demikian, Pa Ohim kemudian minta izin tidak ikut rapat sampai selesai. Sudah sejak lama kami mengetahui Pa Ohim memang sedang mengalami kondisi yang kurang fit. Namun karena dedikasinya terhadap tugas sebagai panglima di jajaran redaksi Kabar Banten, beliau selalu mengutamakan untuk hadir.

Ahad (5/11/2017) malam, sebagaimana biasa, saya komunikasi terkait dengan pemberitaan. Karena Pa Ohim belum ada di ruangan kerjanya, saya menelepon beliau. Saat itu, suara Pa Ohim tampak lemah dan mengabarkan sedang dirawat di RS Kencana Kota Serang karena sakit. Sontak saya kaget, karena baru kali ini Pa Ohim mau dirawat di RS.

Segera setelah itu, sekitar pukul 21.00 jajaran redaksi menengoknya di RS Kencana. Kami masih sempat bercengkrama meskipun Pa Ohim sedang diinfus. Tapi kami merasakan Pa Ohim sedang menahan sakit. Esok harinya, rekam medis menunjukkan Pa Ohim menderita penyakit gangguan ginjal dan asam lambung. Segera jajaran manajemen melakukan pendampingan dengan keluarga untuk melakukan rujukan ke RSUD Drajat Prawiranegara.

Sejak Senin hingga Selasa malam, Pa Ohim dalam penanganan dokter Instalasi Gawat Darurat (IGD) hingga kemudian ditempatkan ruang Melati. Rabu (8/11/2017) pagi, saat saya dan teman-teman redaksi mau jenguk, Manajer Pemasaran Ucu Mutmainah dan Sekretaris Perusahaan Rachmat Jamaludin menyampaikan kabar duka. Pa Ohim telah meninggal dunia pukul 09.50. Sontak kabar duka tersebut cepat menyebar ke rekan-rekan kerja maupun teman dan kerabat. Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Sesungguhnya semua milik Allah, dan semua akan kembali kepada -Nya.

Sederhana

Di kalangan rekan kerja, teman-temannya, almarhum dikenal sebagai sosok yang sederhana dan ramah. “Almarhum orang mulia, sederhana, dan zuhud,” tutur Sihabudin, akademisi UIN SMH Banten, rekan almarhum. Selama menjadi wartawan, kata dia, hingga naik posisi redaktur dan hingga puncak karier keredaksian, almarhum tetap rendah hati. “Orangnya tak itung-itungan tetapi yang diutamakan persaudaraan,” ucapnya.

Selama menjadi jurnalis, Pa Ohim dikenal sebagai wartawan yang perhatian pada sektor pendidikan. Berita dan tulisan tentang pendidikan, banyak menghiasi di halaman Kabar Banten (dulu Fajar Banten).
Salah satu tulisan terakhirnya saat menulis di kolom edisi khusus HUT ke-17 Kabar Banten edisi Senin (4/10/2017), dengan judul ”Maju Bersama Warga Banten”. Dalam kolom tulisan tersebut, Pa Ohim mengungkapkan tentang sejarah Kabar Banten yang tak terpisahkan dengan sejarah pembentukan Provinsi Banten. Selain itu, Kabar Banten maju karena peran masyarakat Banten.

Wartawan LKBN Antara H. Mulyana menilai sosok almarhum adalah sosok guru, sederhana, sabar dan ramah. “Almarhum juga dikenal memiliki spirit memajukan dunia jurnalistik yang mengutamakan keluhuran nilai agama, sosial, dan pendidikan,” ucapnya. Rekan kerja almarhum di HU Pikiran Rakyat, Enton Supriyatna Sind, dalam kolom in memoriam yang diunduh di laman facebooknya, mengenal Pa Ohim sebagai sosok yang pantang mengeluh dan tidak suka memperlihatkan kesusahan di depan orang lain.

“Perjalanan hidup dan kariernya memperlihatkan ketangguhan sosok periang dan ramah ini. Tak berlebihan kalau kami katakan, Ohim adalah sosok yang lengkap,” tulisnya. Menurut Enton, gaya almarhum begitu sederhana, penampilan seringkali berkopiah hitam, dan ramah. “Keluwesannya dalam bergaul membuatnya mudah membangun relasi. Daya jelajahnya luas. Penguasaan teritorialnya hebat. Wilayah-wilayah pelosok Banten dikuasainya. Kenalannya di mana-mana,” tuturnya.

Enton mengenal Pa Ohim sejak almarhum sebagai office boy (OB) ketika pada tahun 1990-an saya mulai bertugas sebagai wartawan Pikiran Rakyat. Membuatkan minum, membelikan makanan, atau melayani keperluan lain para karyawan adalah pekerjaannya sehari-hari. “Belakangan saya baru tahu, ternyata perantau asal Lampung ini, bekerja sebagai OB sambil kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung. Tentu kami ikut bangga dan haru ketika Ohim menyelesaikan kuliahnya. Foto wisudanya terpampang di koran kami,” ujarnya.

Dengan ijazah S1, ucap dia, Pa Ohim melamar menjadi wartawan dan ikut seleksi. Setelah diterima, dia ditugaskan sebagai wartawan “PR” untuk wilayah Ciamis, kemudian Tasikmalaya. Lalu bergabung dengan koran Kabar Priangan (grup “PR”) yang bermarkas di Tasikmalaya. Juga pernah jadi wartawan Galamedia. Ketika “PR” melahirkan “Fajar Banten” pada tahun 2000, Ohim bergabung dan kemudian bermukim di Desa Kuranji Kecamatan Taktakan Kota Serang.

Kesederhanaan Pa Ohim juga melekat dikalangan teman-teman kerja di Kabar Banten. Ruang kerjanya selalu terbuka terhadap wartawan maupun redaktur yang hendak berdiskusi mengenai pekerjaan maupun yang lainnya. Hal yang selalu teringat, bahkan jadi candaan teman-teman di Kabar Banten, hidangan di meja kerjanya yang sering ada setunduk pisang dari kebun rumahnya, maupun makanan kecil lainnya. Kala bekerja sampai malam, pisang dan makanan kecil yang di ruang Pa Ohim yang jadi pelepas lapar kami.

Abdul Rochim dilahirkan di Majalengka, 4 Oktober 1969. Ia menamatkan sarjana S1 UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Almarhum meninggalkan satu orang istri (Iim Masturoh) dan dua orang anak Fitria Nurahma (17) dan Nurul Azkia (12). Kariernya di Kabar Banten dimulai sejak 2000, kemudian menjadi redaktur, redaktur pelaksana, dan tahun 2015 diangkat menjadi Pemimpin Redaksi Kabar Banten. “Ya Allah Ampunilah baginya, kasihani dan maafkan kesalahannya. Muliakan kedudukannya, lapangkan kuburnya, dan bersihkan dia dengan air salju dan air dingin. Bersihkan dia dari kesalahan sebagaimana dibersihkan kain putih dari kotoran….”. (Maksuni Husen)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here