98 Warga Meninggal Akibat HIV/AIDS

LEBAK, (KB).- Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak mencatat 98 warga dilaporkan meninggal dunia akibat teridentifikasi positif penyakit Human Immuno Deficiency Virus (HIV) dan
Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS). Kepala Bidang Pencegahan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak, dr. Firman Rahmatullah menyatakan, penderita penyakit HIV/AIDS di Kabupaten Lebak sejak tahun 2002 sampai 2017 mencapai 240 orang dan di antaranya 98 orang dilaporkan meninggal dunia. Saat ini, penderita yang masih hidup 142 orang terus dilakukan pengobatan diagnosa untuk memperbaiki kualitas hidupnya.

”Jumlah penderita penyakit HIV/AIDS dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan, bahkan tahun 2017 ditemukan sebanyak 14 orang. Kami minta masyarakat, pers, tokoh agama, ormas dan elemen lainnya agar berperan aktif mencegah penyebaran HIV/AIDS,” kata dr Firman, Selasa (20/2/2018). Ia menjelaskan, selama ini penyebaran HIV/AIDS ditularkan melalui pergaulan seks bebas, penggunaan jarum suntik bekas narkoba, transfusi darah dari penderita positif, serta melalui air susu ibu.

”Kebanyakan penderita HIV/AIDS di Kabupaten Lebak akibat perilaku seks bebas juga jarum suntik narkoba, bahkan dari kalangan ibu rumah tangga. Kemungkinan besar penyebaran penyakit HIV/AIDS itu akibat perilaku suaminya yang seringkali melakukan seks bebas di jalanan,” ucapnya. Dr firman mengakui, penyebaran virus HIV/AIDS di Kabupaten Lebak seperti fenomena gunung es dan perlu adanya tindakan pencegahan dan penanggulangan dari masyarakat.

”Cukup banyak kasus penderita yang tidak terdeteksi oleh tim medis karena mereka tak dilakukan pemeriksaan. Sedangkan yang diketahui menderita HIV/AIDS setelah dilakukan pemeriksaan tim medis. Kami terus mengoptimalkan sosialisasi dan kampanye baik di sekolah maupunmasyarakat untuk menanggulangi penyebaran virus mematikan itu,” tuturnya.

Kepala Bagian Humas RSUD Adjidarmo Rangkasbitung Budi Kuswandi mengatakan, pihaknya setiap hari melayani pengobatan penderita HIV/ AIDS dengan membuka Klinik Seroja. ”Pengunjung Klinik Seroja cukup banyak untuk mendapatkan pengobatan terapi antiretroviral atau ART. Pengobatan terapi ART tidak dapat menyembuhkan HIV, namun dapat mempertahankan hidup lama,” kata Budi.

Budi menambahkan, jika sebelumnya obat ART sulit ditemukan juga harganya sangat mahal. Namun, saat ini pengobatan ART digratiskan oleh pemerintah melalui rumah sakit rujukan ARV. ”Saya kira melalui pengobatan gratis itu tentu dapat meningkatkan kualitas penderita agar bisa bertahan hidup lama,” tuturnya. (ND)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here