8.000 Anak di Pandeglang Menderita Stunting

PANDEGLANG, (KB).- Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Pada Dinas Kesehatan Pandeglang, Eni Yati mengatakan, saat ini ada sekitar 8000 anak menderita stunting (gagal tumbuh) tersebar di sejumlah kecamatan di Pandeglang.

Hal tersebut berdasarkan data stunting dari E-PPGBM itu menunjukkan 8000. Namun saja yang menjadi lokus intervensi pusat hanya ada 10 desa.

“Harapannya, stunting bisa turun 19 persen dan mudah-mudahan lima tahun ke depan Pandeglang bisa menurunkan angka stunting,” katanya saat menghadiri acara pelatihan para kader Organisasi perempuan Asiyiyah Cabang Pandeglang bertema “Peningkatan Kapasitas Mengawal Kesehatan Ibu dan Anak serta Pencegahan Stunting” di salah satu hotel di Pandeglang, Selasa (12/11/2019).

Ketua Majelis Kesehatan Aisyiyah Pusat, Chairunnisa mengatakan, dipilihnya Kabupaten Pandeglang sebagai lokus pencegahan stunting, karena berdasarkan data dari WHO angka penyandang atau penyitas stunting di kota badak ini cuku tinggi se Indonesia.

“Aisyiyah sebagai organisasi perempuan Muhammadiyah punya perhatian terhadap kesehatan anak dan ibu dan ikut menekan kasus stunting,” kata Ketua Majelis Kesehatan Aisyiyah Pusat, Chairunnisa.

Ia menjelaskan, setidaknya ada 25 kader yang berasal dari 10 Desa yang menjadi lokus pencegahaan stunting. Mereka dilatih agart mamu mengimplementasikan ilmu yang didapatnya selama pelatihan.

“Jadi kita pilih kader-kader yang tinggal di wilayah stunting di desa-desa. Kami meminta kepada pengurus Aisyiyah di Pandeglang agar mengimplementasikan upaya pencegahan kasus stunting. Jadi dengan pelatihan ini para kader akan turun ke desa untuk memberikan edukasi kepada masyarakat dalam rangka pencegahaan stunting,” ujarnya.

Sementara itu Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat pada Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Herawati mengapresiasi komitmen Aisyiyah terhadap kepedulian kesehatan anak dan ibu, khsusunya dalam pencegahan stunting di Indonesia.

Upaya pencegahaan stunting tidak bisa dilakukan oleh pemerintah, tetapi membutuhkan peran aktif dari semuanya.

“Jadi memang stunting ini tidak bisa dikerjakan oleh Kemenkes saja. Tetapi harus ada campur tangan semuanya, karena berdasarkan data kemenkes hanya bisa menyelasaikan 30 persen saja dan di luar kesehatan 70 persen,” ujarnya.

Herawati berharap kader Aisyiyah yang telah dilatih ini bisa memberikan edukasi kepada masyarakat tentang kesehatan ibu dan anak. Sebab, upaya pencegahan penyakit gagal tumbuh kembang pada anak ini tidak mudah. Untuk mencegahnya butuh perilaku hidup sehat.

“Banyak faktor munculnya stunting akibat tidak memperhatikan pola hidup sehat. Jadi perlu pola asuh anak, sanitasi yang sehat dan asupan gizi yang bagus saat usia ibu hamil,” ujarnya. (Ade Taufik/EM)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here