42 Kitab Syekh Nawawi di Eropa

Mufti Ali, Ph.D

Siapa yang tidak kenal ulama legendaris dan dirujuk sebagai mahaguru yang masa hidupnya merentang dari tahun 1813-1897 ini? Seorang peneliti Belanda akhir abad 20, Martin van Bruinessen menyebutnya sebagai mahaguru bagi semua ulama di Asia Tenggara yang telah menulis bahan ajar bagi semua disiplin ilmu keislaman tradisional di pesantren.

Syeikh Nawawi al-Bantani, yang mendapatkan kehormatan dan gelar, Sayyidu Ulama Hijaz. Yang karya-karya diterbitkan oleh penerbit-penerbit kelas internasional di Mesir, seperti Bulaq, Darul Kutub al-Misriyya, Wadi al-Nil, Isa al-Babi al-Halabi, Mustafa Bab al-Halabi, di Mekah seperti Mekka al-Miriyya, al-Maymuniyya, dan percetakan besar di Semarang, Surabaya, Bandung seperti al-Ma’arif, Darul Ihya al-Kutub al-Arabiyya, Toha Putera, Menara Kudus, dll.

Sebagian karyanya telah dicetak ratusan kali sejak ditulis pertama kali tahun 1856. Sebaran karya Syeikh Nawawi al-Bantani ini sangat luar biasa dan Library of Congress Amerika Serikat, British Library London, Universiteit Bibliotheek Leiden (UBL), dan perpustakaan nasional di Indonesia (PNRI), Brunei (DBP), Malaysia (PNM) dengan sebaran murid-muridnya hampir merata di negeri-negeri bermasyarakat Muslim seperti Afrika Selatan, Asia Tenggara, Asia Tengah dan Timur, Asia Selatan (India, Pakistan, Sri Lanka).

Sejak orientalis Belanda, Snouck Hurgronje, yang pura-pura masuk Islam dan bernama Abdul Ghafur berhasil tinggal bertetangga dengan ulama besar ini di Mekah tahun 1880-an, karya-karya Syeikh Nawawi menjadi kajian para sarjana di Barat maupun di Timur. Ratusan disertasi dan tesis telah ditulis di berbagai negara: Belanda, Amerika Serikat, Mesir, Tunisia, Malaysia, Australia, Inggris dan Indonesia. Begitu pula ratusan artikel dan laporan penelitian telah dibuat para pengkajinya baik di berbagai lembaga penelitian, perguruan tinggi, di Barat dan Timur.

Karya-karyanya dan misinformasi tentang jumlahnya

Hampir di semua forum yang penulis ikuti di Banten: seminar, launching buku, diskusi publik, pengajian, dan diskusi informal melalui media sosial, para partisipan diskusi, maupun para narasumber dan penceramah selalu menyebut jumlah keliru karya ulama besar ini. Pada sebuah ceramah dai kondang nasional yang videonya viral, karya ulama besar ini berjumlah 115 buah.

Begitu pula di forum-forum pengajian dan pengkajian hampir selalu disebutkan bahwa jumlah karyanya ratusan. Namun ketika diminta konfirmasi tentang judul-judulnya secara detail sampai saat ini, tidak satupun yang sanggup mendaftarnya secara rinci.

Ratusan pesantren dan tokoh agama di Banten telah penulis datangi saat riset ulama Banten antara tahun 2008-2014, namun tidak ada seorangpun yang mengoleksi lengkap karya Syeikh Nawawi, apalagi sampai jumlahnya ratusan. Paling lengkap di kisaran 15 karya, sisanya tidak pernah penulis dapatkan. Begitu pula saat menyusun katalog naskah kuno di Banten tahun 2014, jumlah karya Syeikh Nawawi yang naskahnya ada di masyarakat tidak beranjak dari jumlah tersebut.

Lalu dari mana datangnya angka 115 atau ratusan. Sumber informasi masyarakat sebelum era disrupsi informasi 4.0 umumnya adalah sumber lisan, cerita turun temurun dan terkadang bersifat hagiografis (atau cerita yang dilebih-lebihkan). Meskipun sudah ada hasil riset dari Litbang Kemenag (1986), Martin van Bruinessen (1993), Alex Widjojo (1997), maupun penulis (2008-2015), sumber rujukan utama umumnya masyarakat ketika ingin mengetahui jumlah karya-karya Syeikh Nawawi al-Bantani tetap saja cerita lisan dan Wikipedia, openplatform referensi yang level akurasinya diragukan karena bukan hasil proofreading dan peerreview apalagi ditulis oleh para pakar yang telah mengkaji karya-karya Syeikh Nawawi dari sumber-sumber primer. Walhasil informasi dan pengetahuan masyarakat tentang jumlah karya ulama besar ini tidak pernah akurat dan cenderung menyesatkan.

Hasil riset penulis terhadap jumlah karya dan tahun cetak karya-karya Syeikh Nawawi dapat dilihat dalam tabel berikut ini:

Dari tabel tersebut di atas terlihat jelas bahwa karya Syeikh Nawawi al-Bantani berjumlah 42 buah dan bukan 115 seperti diyakini secara umum oleh masyarakat. Dari 42 karya tersebut, hampir semuanya telah dicetak kecuali risalahnya tentang tasauf, no 41. Hampir semua penerbitnya telah penulis identifikasi dan ratusan edisi cetaknya kini tersebar setidaknya di 8 negara: Amerika Serikat, Mesir, Belanda, Inggris, Malaysia, Indonesia, Arab Saudi dan Brunei.

Dari 42 karya Syeikh Nawawi, seperti tertera dalam tabel di atas (kolom 6 dan bertanda +), hanya 15 judul yang beredar di pesantren dan lembaga pengajaran Islam di Banten dan daerah lainnya di Asia Tenggara, sisanya disimpan di Perpustakaan Universitas Leiden (33 judul dan ratusan edisi) dan National Archief Den Haag (1 judul), British Library Inggris (5 judul), Library of Congress Amerika Serikat (20 judul dan puluhan edisi), dan terselip di rak-rak toko-toko kitab tua di Kairo Mesir.

Inisiatif Gubernur Banten

Dalam satu dan lain kesempatan, Gubernur Banten berkali-kali ingin mengumpulkan karyakarya Syeikh Nawawi al-Bantani dan ingin menyimpannya di museum yang akan didirikannya.

Inisiatif dan ikhtiar kepala daerah ini sangat mulia dan patut didukung. Oleh karenanya, perlu dibackup dengan informasi komprehensif mengenai keberadaan dan sebaran karya-karyanya di seluruh dunia harus diidentifikasi dengan akurat, mengingat, seperti disebutkan di atas, yang ada di Indonesia dan negara Asia tenggara lainnya tidak lebih hanya lima belas karya.

Sementara 27 karya lainnya harus dicari dengan cermat di perpustakaan-perpustakaan besar di Eropa Barat, Amerika Serikat, Mesir, dan Saudi Arabia, disamping Perpustakaan Negeri Melayu Kuala Lumpur dan Dewan Bahasa dan Pustaka Brunai Darussalam. (Penulis, Peneliti Sejarah dan Kebudayaan Banten, Sultan Abul Mafakhir Institut)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here