4 Desa di Lebak Masih ”Blank Spot”

LEBAK, (KB).- Empat desa di dua kecamatan di Kabupaten Lebak hingga kini masih sulit mejangkau jaringan internet atau blank spot. Untuk mendapatkan akses informasi melalui jaringan (daring) keluar desa mencari daerah dataran tinggi.
Keempat desa tersebut, yakni Lebak Peundeuy, Ciparahu, Citeupuseun Kecamatan Cihara dan Desa Cikaret Kecamatan Cigemblong.

“Di sini mah susah sinyal, kalau mau ada sinyal harus ke luar rumah atau pergi ke tempat tertentu. Misal, ke daerah dataran tinggi,” kata salah seorang warga, Mursid, Ahad (25/8/2019).

Warga lainnya, Dede Ilyana yang juga Ketua Ikatan Remaja Aktif (Ikara) mengatakan, negara Indonesia saja sudah menginjak di usia ke-74 tahun, tentu ini bukanlah usia yang muda.

Namun, masyarakat masih kesulitan untuk berkomunikasi dan mengakses informasi maupun memberikan informasi seputar perkembangan daerah juga nasional. Sehingga, sering kali ketinggalan informasi-informasi yang seyogyanya diketahui oleh khalayak umum.

“Tapi faktanya, masyarakat perdesaan masih saja serba keterbatasan dalam segala bidang salah satunya untuk mendapatkan hak informasi. Kami heran, untuk pemenuhan hak-hak warga selama ini masih ketimpangan khususnya bagi warga yang tinggal di desa,” ujarnya.

Menurutnya, keterbatasan jaringan komunikasi membuat masyarakat buntu dalam mengakses informasi atau berkarya melalui dunia maya. Misalnya, untuk mengenalkan produk lokal seperti hasil home industry dan sebagainya. Apalagi di era teknologi ini hampir sebagian besar serba online.

“Kami meminta kepada pemangku kebijakan agar memperhatikan warganya terutama yang ada di daerah pelosok desa. Pemerintah pusat sempat menggembar-gemborkan program internet masuk desa, tapi kok heran desa kami masih gelap dari informasi,” tutur Hilmi Fahmi warga Desa Citeupuseun yang juga mahasiswa Universitas Bandar Lampung (UBL).

Begitu juga di Desa Ciparahu, kondisinya masih gelap gulita dari penerangan informasi atau akses jaringan internet. Tak heran, jika banyak warga yang selalu ketinggalan atau kesulitan mendapatkan informasi. Sebetulnya, ini kritikan bagi pemerintah tetapi peluang juga bagi para pengusaha penyedia jasa telekomunikasi.

“Bagi kami, mau itu datangnya dari pemerintah atau pengusaha yang terpenting jaringan komunikasi ada dan bisa memberikan pelayanan dan kenyamanan bagi warga yang menggunakan nantinya,” ucap Ahmad Daerobi warga Desa Ciparahu. (PG)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here