21 Rumah Sakit di Banten Turun Kelas

SERANG, (KB).- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI merekomendasikan 21 rumah sakit (RS) di Banten turun atau penyesuaian kelas. 21 RS tersebut terdiri dari RS miliki swasta, pemda maupun BUMN yang tersebar di kabupaten/kota se-Banten.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, 21 RS tersebut terdiri atas RS di Kabupaten Tangerang, meliputi RS Selaras yang direkomendasikan penyesuaian kelas dari C ke D, RSIA Tiara dari C ke C+, RS Mulia Insani dari C ke D, RS Ciputra dari B ke C, RSUD Pakuhaji dari D ke D+ dan RS Siloam Hotpitals Lippo Village dari B ke C.
Kota Serang terdiri dari RSUD dr Drajat Prawiranegara dari B ke C, RSUD Banten dari B ke C, RSU Ibunda dari D ke D+, RS Sari Asih Serang dari B ke C.

Kota Tangerang, RS Sari Asih Karawaci dari B ke C, RS Mayapada dari B ke C, RS Sari Asih Sangiang dari C ke D, RS Aqidah dari C ke D dan RSIA PKU Muhamddiyah Cipondoh dari C ke C+.

Tangerang Selatan terdiri atas RS Rumah Indonesia Sehat dari C ke D, RSIA Vitalaya dari C ke C+, RS Insan Permata dari C ke D serta RSUD Kota Tangerang Selatan dari C ke D.

Kota Cilegon, RS Krakatau Medika dari B ke C. Terakhir Kabupaten Lebak yang merupakan RSUD dr. Adjidarmo dari B ke C.

Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy menuturkan, pihaknya belum mengetahui alasan Kemenkes RI merekomendasikan RSUD Banten turun kelas. “Kenapa pelayanan rumah sakit bisa turun seperti itu, ini masih tahap evaluasi kita. Walaupun memang kok bisa diturunkan. Itu kan memang seharusnya dengan fasilitas yang ada harusnya tetap di B,” ujarnya.

Mantan anggota DPR RI ini menuturkan, pihaknya akan mengkaji rekomendasi tersebut untuk selanjutnya merekomendasikan ulang kepada Kemenkes, agar mempertahankan kelas RSUD Banten yang ada ini berada di posisi B.

“Jadi sekarang kita sedang kaji, jadi nanti kita usulkan tetap di B. Nanti kita yang kelabakan, orang rujukannya susah, nanti tidak bisa ke rumah sakit dimaksimalkan oleh pemerintah,” ucapnya.

Belum final

Rekomendasi yang diberikan oleh Kemenkes belum bersifat final, RS masih diberikan kesempatan untuk melakukan klarifikasi. “Saya nanti minta kepala dinasnya kan kebetulan masih Plt Pak Yusuf, untuk nanti mengecek kondisi pelayanan yang ada di seluruh rumah sakit umum yang ada di Banten, yang mana diklasifikasikan kelasnya diturunkan, untuk dilihat apa permasalahannya. Supaya nanti kita lihat istilah kalau dari media hak jawab dari pemerintah provinsi ke Kementerian Kesehatan,” tuturnya.

Terpisah, Wakil Direktur Pelayanan RSUD Banten H. A Drajat menuturkan, pihaknya sedang melakukan self assesment untuk klarifikasi rekomendasi penurunan kelas RSUD Banten. Disinggung dampak dari penurunan kelas, ia tidak menjawabnya.

Jika terjadi, penurunan kelas dapat berdampak banyak terhadap RSUD Banten. Di antaranya perubahan SOTK, revisi RPJMD karena tidak bisa menjadi RS B Pendidikan dan RS rujukan regional, penurunan tarif, perubahan mekanisme rujukan, izin operasional diterbitkan oleh Kota Serang, ada jenis pelayanan yang tidak dapat dilaksanakan di kelas C dan rujukan ke RS kelas B menjadi jauh harus ke Tangerang.

Pihaknya akan melakukan klarifikasi terhadap rekomendasi tersebut kepada Kemenkes RI. “Oleh Kemenkes diberi waktu 28 hari setelah surat diterima, besok Senin (hari ini) ada rapat dengan Persi (Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia) Banten untuk membahas hal ini bersama RS lain juga di Siloam Karawaci pukul 9,” ucapnya.

Ia menjelaskan, substansi yang menentukan penetapan kelas adalah jenis dan jumlah SDM sebesar 70 persen dan sarana prasarana 30 persen. (SN)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here