2020, Kabupaten Serang Jadi Lokus Penurunan Stunting

SERANG, (KB).- Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Serang Heni Widhani mengatakan, pada 2020 Pemerintah Pusat telah menetapkan Kabupaten Serang menjadi lokus untuk penurunan stunting.

Untuk itu, Dinkes mengajak semua organisasi perangkat daerah (OPD) melakukan penggalangan komitmen dalam menurunkan angka stunting.

“Ada OPD lain yang harus membantu ke masyarakat dari mulai makan buah dan sayur dari Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP), Dinas Pertanian (Distan), dan lainnya. Semuanya sudah berkomitmen,” katanya saat ditemui di ruang kerja, Senin (19/8/2019).

Ia mengatakan, dari total sasaran 156.345 balita, terdapat 19,55 persen menderita stunting. Data tersebut diambil per Februari 2019 sampai saat ini. Jumlah tersebut, dinilai masih tinggi dalam pertengahan 2019 ini.

“Kalau tahun lalu hampir 30 persen sepertinya. Soalnya kan data kemarin itu belum dilakukan validasi, itu masih estimasi. Bahkan, stunting di sini lebih banyak dari gizi buruk sekitar 200 balita,” ujarnya.

Ia menjelaskan, data tersebut didapatkan dari hasil laporan petugas Posyandu maupun Puskesmas di tiap kecamatan. Stunting atau penyakit kerdil yang dialami bayi atau balita dipengaruhi juga oleh faktor gizi buruk ibu hamil. Sebab, banyak ibu hamil yang kekurangan energi kronis (bumil KEK).

“Ini hubungannya dengan gizi buruk. Tidak semudah pilek, ini perlu waktu untuk penyembuhannya apalagi ini dialami balita. Makanya, saat ini sasaran kami pada ibu hamil,” ucapnya.

Ia menuturkan, stunting dikenal masyarakat penyakit kerdil atau hanya pendeknya bukan dari badannya saja, tetapi pertumbuhan otaknya juga ikut tidak berkembang.

“Mungkin terlihat seperti biasa saja, tapi IQ tidak berkembang. Saat ini kan banyak ibu hamil yang tidak paham. Apalagi ibu-ibu muda takut gemuk, sehingga tidak memikirkan nasib janin atau bayinya,” tuturnya.

Sehingga, lanjut dia, hingga usia dua tahun, pihaknya terus melakukan upaya penyembuhan. Sebab, jika penyembuhan di atas usia dua tahun akan banyak kesulitannya. Selain itu, pihaknya juga berupaya mengajak ibu hamil untuk menerapkan hidup sehat atau gerakan masyarakat sehat (Germas).

“Kami mengajak ibu hamil untuk makan buah dan sayur, kemudian menerapkan program isi piringku. Artinya menyeimbangkan antara karbohidrat, protein, dan lainnya saat makan,” katanya.

Ia mengatakan, terdapat 5 kecamatan paling tinggi penderita stunting, yakni Tunjung Teja, Bojonegara, Tanara, Binuang, dan Petir. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu faktor ekonomi maupun pendidikan. (TM)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here