1,4 Juta Bidang Tanah di Banten Belum Bersertifikat

Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional Sofyan Djalil menyerahkan sertifikat tanah kepada sejumlah perwakilan saat penyerahan sertifikat tanah untuk rakyat di Gedung Plaza Aspirasi, KP3B, Kecamatan Curug, Kota Serang, Kamis (16/1/2020).*

SERTIFIKASI 1,4 juta bidang tanah di Banten ditarget rampung pada 2023. Dengan begitu, target sertifikasi tanah tingkat nasional dapat tercapai dan rampung pada 2025.

Hal tersebut disampaikan Menteri Agraria dan Tata Ruang atau Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Sofyan Djalil dalam pembagian ribuan sertifikat di Plaza Aspirasi, KP3B, Kecamatan Curug, Kota Serang, Kamis (16/1/2020).

“Jadi karena kita punya target, saya hitung jika mungkin seluruh tanah di Banten bisa terdaftar sertifikat tahun 2023,” katanya kepada awak media.

Mantan Komisaris PT PLN ini menuturkan, sertifikasi tanah yang dilaksanakan oleh ATR/BPN memberikan dampak positif kepada masyarakat. Pertama dapat mengurangi jumlah sengketa tanah. Kedua memberikan kepastian hukum atas kepemilikan tanah.

“Supaya masyarakat ada kedamaian, ada ketenangan di hati dia bahwa tanah ini sudah bersertifikat,” ucapnya.

Tak kalah penting, masyarakat juga dapat memanfaatkan sertifikatnya untuk mengakses permodalaan saat akan membuka usaha.

“Masyarakat akan mendapatkan akses pergi ke perbankan. Kalau mau berusaha bisa pergi ke bank untuk mendapatkan kredit,” katanya.

Akan tetapi, untuk urusan kredit masyarakat diharapkan terlebih dahulu memperhitungkan pinjaman yang diinginkan dan beban pengembaliannya.

“Kalau pinjam mudah, mengembalikannya harus mudah juga. Kalau Bapak dan Ibu mau pinjam, hitung dulu berapa. Harus digunakan pinjaman itu untuk yang penting. Kalau enggak dikembalikan nanti diambil bank,” ucapnya.

Ia juga meminta masyarakat mengakses penyedia kredit terpercaya dan tidak menjaminkan sertifikatnya pada rentenir.

“Jangan ke rentenir yang bunganya besar, nanti malah enggak bisa mengembalikannya. Kita harapkan masyarakat jangan menjual tanah,” tuturnya.

Melalui program yang dilakukan, kepercayaan masyarakat terhadap ATR/BPN dapat lebih meningkat. Sehingga mereka bersedia untuk melakukan sertifikasi tanah.

“Karena masih juga masyarakat kita keberataan, atau karena ketidakpahaman sehingga mereka tidak mau atau belum bersemangat menyertifikatkan tanah. Tapi setelah disertifikatkan mereka senang sekali. Mereka tahu akan punya nilai yang baik,” ucapnya.

Atas berbagai manfaat yang dapat dirasakan, ia menargetkan sertifikasi tanah di Indonesia rampung pada 2025. Adapun sisa tanah yang belum memiliki sertifikat diperkirakan mencapai126 juta bidang.

“Tahun yang lalu (2019) kami berhasil mendaftarkan 11 juta, tahun ini mudahan-mudahan sekitar 12 juta,” ujarnya.

Kepala BPN Provinsi Banten Andi Tanri Abeng mengatakan, sisa tanah di Banten yang belum bersertifikat diperkirakan berjumlah 1,4 juta.

“Jadi 30 persen yang belum terpetakan dan kami sedang melakukan pemetaan. Saya menargetkan selesai di tahun 2023. Tahun ini kami targetkan 358.000 bidang tersertifikat,” tuturnya. (Sutisna)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here