100 Persen Pertamina, Pemerintah Diminta Pertahankan Bisnis LNG

Pekerja Pertamina yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) menyatakan bahwa  bisnis gas alam cair atau Liquid Natural Gas (LNG) merupakan bisnis masa depan perusahaan yang harus dijaga eksistensinya sehingga negara akan mendapatkan 100 % keuntungan yang digunakan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.  

Berdasarkan road map Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor energi, dinyatakan bahwa perlu adanya konsolidasi bisnis gas BUMN dalam rangka peningkatan pemanfaatan gas bumi domestik. Penggabungan bisnis Perusahaan Gas Negara (PGN) dan Pertamina pada  RUPS Luar Biasa PGN terkait Perubahan Pemegang Saham dari Pemerintah menjadi PT Pertamina (Persero) tanggal 26 April 2018 dimana  kepemilikan saham Pertamina atas PGN sebesar 56,96 % dan 43,04 % dimiliki oleh publik (Pengusaha Swasta/Lokal/Asing).

Ketua Umum Serikat Pekerja Pertamina UPms III, Aryo Wibowo Hendra Putro, dalam siaran pers menyampaikan pengalihan bisnis gas existing, Liquid Natural Gas (LNG) existing, Jargas, dan SPBG dari Pertamina ke PGN akan menyebabkan potensi kerugian negara karena kepemilikan saham publik (Pengusaha Swasta/Lokal/Asing) di PGN sebesar 43,04 %.

Ia mengatakan, produksi LNG Indonesia saat ini sebesar 16 MT sekitar 7 % LNG Dunia dan cadangan gas nasional sebesar 135 TSCF. Indonesia menjadi eksportir LNG “Terbesar kelima” setelah Qatar, Malaysia, Australia dan Nigeria. “Kapasitas Kilang LNG Indonesia sebesar 28,7 MTPA artinya masih ada potensi untuk meningkatkan penjualan dari hasil produksi baik untuk domestik ataupun pasar export. Pangsa pasar export LNG Indonesia adalah kawasan Asia Pasifik dan Amerika Utara. Sementara negara importir pengguna LNG kita adalah Jepang, Korea Selatan, China, Taiwan, Mexico, Thailand, India dan UEA,” ujar Aryo Wibowo.

Ia mengatakan, bahwa pasokan LNG kepasar dunia meningkat sekitar 12 % per tahun. Volume perdagangan LNG tahun 2017 meningkat menjadi 293,1 MT atau meningkat sebesar 35,2 MT dari tahun 2016. Pertumbunan  pasokan LNG merupakan respon terhadap pertumbuhan pasar di Asia  untuk memenuhi permintaan China dan Korea Selatan. Kedepan, kebutuhan gas akan semakin besar seiring dengan kepedulian lingkungan dan perubahan pola pasar atau pemain LNG Dunia. “Saat ini, terjadi crossing pola bisnis LNG dan semakin berkembangnya penjualan secara spot basis serta future trading, sehingga menjadi portofolio player lebih mudah karena memiliki flexibilitas,” ujar Aryo Wibowo.

Ia mengungkapkan, untuk bisnis LNG saat ini, Pertamina mendapatkan wewenang  sebagai penjual bagian negara  (melalui Tim LNG Commercial) untuk WK tertentu yang dilakukan melalui penjualan secara tender dan ‘beauty contest’ (penjualan term dan penjualan spot/strip deal). Kemudian, sebagai pengelola LNG Portofolio (Tim LNG Business Commercialization) yang dilakukan untuk pengelolaan LNG Domestik melalui Pembelian LNG  yang dilakukan dengan cara Bilateral B2B- tender dan beauty contest dan penyediaan kebutuhan LNG Global melalui optimasi Penjualan LNG dengan cara sesuai bisnis yang ada. 

“Berdasarkan wewenang bisnis tersebut, Pertamina dapat mengembangkan rencana bisnis LNG Integrasi upstream to downstream mulai dari monetisasi upstream hingga security of supply untuk demand own use (kilang Pertamina) dan demand domestik lainnya sehingga adanya security of supply gas untuk RDMP dan Nasional.  Selain itu sebagai agent of development Pertamina terlibat langsung dalam pasar di seluruh value chain sehingga Pertamina dapat mempengaruhi pasar tidak hanya menjadi target pasar,” ujarnya.

Kemudian, kata dia, konsekuensi yang didapat dari wewenang bisnis yang diberikan pada Pertamina diantaranya karena bisnis LNG merupakan bisnis jangka panjang yang usia kontraknya bisa mencapai 20-30 tahun maka harus ada kejelasan kontrak jangka panjang antara seller–buyer, komitmen dan penanganan bisnis LNG telah diakui secara international sebagai exportir terbesar ke lima sehingga reputasi dalam Bisnis LNG telah mencapai world class energy company.

Selain itu, pengelolaan volume Portofolio LNG mencapai  puluhan milyar USD dari sumber domestik maupun internasional. Kemudian, atas penjualan volume Portofolio LNG Pertamina potensi margin sebesar +/- 10 persen, pengelolaan volume LNG hulu (sebagai penjual LNG bagian negara) senilai puluhan Milyar USD per tahun yang bersumber dari LNG Bontang dan sebagian dari Tangguh dan atas pengelolaan dan penjualan LNG hulu (sebagai penjual LNG bagian negara) berpotensi mendapatkan fee, ungkapnya.

Terkait dengan hal tersebut, pihaknya meminta Pemerintah Republik Indonesia wajib mempertahankan proses bisnis LNG pada Pertamina yang keuntungannya  100%  untuk kemakmuran rakyat dimana saham 100 % milik negara. Kemudian, meminta pemerintah (Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral) untuk memastikan Pertamina dapat menyusun program kerja rencana Bisnis LNG yang mendukung Security of Supply Nasional baik jangka pendek ataupun jangka panjang karena proses bisnis LNG yang bersifat jangka panjang untuk tetap menjaga kedaulatan energi nasional. Pihaknya juga mendesak pemerintah untuk menghentikan segala upaya pengalihan proses bisnis  LNG yang dilakukan melalui Holding Migas ke PGN karena menyebabkan  potensi  kerugian negara karena kepemilikan saham publik ( Pengusaha Swasta/Lokal/Asing) di PGN sebesar 43,04 %.

“Kami Serikat Pekerja Pertamina UPms III, sebagai kontituen FSPPB siap siaga memperjuangkan kelancaran distribusi energi nasional dan terus berjuang mempertahankan bisnis LNG 100% Pertamina, 100% Negara, 100% Kemakmuran Rakyat Indonesia,” pungkas Aryo Wibowo. (KO)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here