1 Januari 2020, Antara Fakta dan Baduy Ngadongeng

H. Khatib Mansur.*

H. Khatib Mansur

Awal Tahun Baru 2020, ibarat pada posisi “titik nol kilometer” seperti halnya kendaraan bermotor, sebelum berangkat pada umumnya harus ada pemanasan mesin terlebih dahulu (langsam), untuk memastikan mesin dalam keadaan “oke!” dari bunyi suaranya. Kemudian, saat mulai jalan pun terlebih dahulu harus speed (gigi) satu, untuk memompa tenaga sebelum naik pada speed berikutnya dan seterusnya.

Demikian halnya perjalanan manusia dalam setahun. Setiap awal tahun seperti berada pada posisi “titik nol kilometer” (libur massal tahun baru), sehingga perlu refreshing untuk penyegaran pikiran dan suasana. Kemudian, me-recovering kembali rencana kerja dan beraktivitas pada hari berikutnya dan sebagainya.

Akan tetapi, pada Rabu (1/1/2020), sebagai lembaran baru, semangat baru di tahun baru itu, justru seakan “robek”! Bencana banjir bandang menerjang sebagian wilayah Kabupaten Lebak, Banten Selatan menghancurkan ratusan rumah penduduk, sekolah, dan bangunan lainnya, termasuk puluhan kendaraan bermotor milik warga hanyut. Bahkan, tidak hanya itu, jembatan yang membentang berbobot 10 ton pun terseret dahsyatnya aliran Sungai Ciberang setinggi lima meter, bahkan lebih.

Linangan air mata, jerit tangis, badan gemetaran, dan berbagai perasaan memilukan lainnya tak mampu harus berbuat apa? Tak berdaya melihat rumah-rumah penduduk hancur dan tenggelam seketika terseret dahsyatnya aliran sungai yang selama ini digunakan untuk kegiatan arung jeram itu! Selain itu, terjadi tanah longsor di sejumlah titik, (condition sine quanon).

Presiden Joko Widodo bersama rombongan didampingi Gubernur Banten Wahidin dan Bupati Lebak Iti Octavia meninjau lokasi banjir bandang dan para korban di Kecamatan Lebak Gedong, Selasa (7/1/2020) kemarin. Dilaporkan, salah satu sumber bencana tersebut, antara lain akibat penambangan emas liar. “Kami minta oknum penambangan emas liar di hutan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) itu ditindak tegas,” kata Presiden Joko Widodo.

Ternyata, bencana dahsyat banjir bandang itu tidak hanya terjadi di Banten saja, tetapi hampir merata di sejumlah kota di Pulau Jawa, mulai dari Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Ciledug, Bekasi, dan Ibu Kota Negara Jakarta, akibat meluapnya Sungai Ciliwung kiriman dari Bogor. Tidak hanya menggenangi separuh tembok rumah penduduk, bahkan ribuan kendaraan bermotor (ranmor) selain terendam, juga banyak yang hanyut terseret arus air deras.

Satu hal yang menjadi pusat perhatian publik, antara lain ranmor mewah yang harganya miliaran rupiah, sekelas Lamborgini, Ferrari, BMW, Mercedes Benz, dan sepeda motor Harley Davidson – yang selama ini menjadi kebanggan pemiliknya – tak berdaya pula menghadapi kenyataan itu. Pasrah!

Baduy ngadongeng

Artikel ini, terinspirasi dari beberapa fenomena yang secara tidak langsung terkorelasi dengan musibah banjir bandang dahsyat kemarin. Pertama, infrastruktur jalan raya nasional di Pulau Jawa dari Barat ke Timur atau dari Anyer, Kabupaten Serang, Provinsi Banten sampai Panarukan, Jawa Timur itu, “titik nol” kilometernya dari Mercusuar Anyer. Dalam bahasa Belanda disebut: “Grote Postweg” (Jalan Raya Pos) atau dalam istilah adat Baduy Pedalaman disebut “sirah” (kepala) di bagian Barat, dan “dampal” (kaki) di bagian Timur.

Musibah banjir bandang dahsyat yang nyaris menenggelamkan separuh Ibu Kota Jakarta tersebut, menunjukkan, bahwa kondisi sebagian bumi ini sedang dalam keadaan prihatin. Pulau Jawa ini pula dalam perspektif Baduy Pedalaman diibaratkan badan manusia, yang memiliki urat-urat untuk mengalirkan darah pada sekujur tubuh.

Kedua, konsistensi masyarakat adat Baduy Pedalaman yang mendiamani Gunung Kendeng di Kabupaten Lebak, sejak ratusan tahun silam sampai sekarang, menunjukkan isyarat penjagaan terhadap alam itu sangat penting. Tanah tempat tinggal mereka menyebutnya “tanah titipan” yang harus dijaga kelestariannya, agar ada keseimbangan.

Sehari setelah musibah banjir bandang itu, beredar di WhatsApp dan medsos lainnya tentang “dongeng keprihatian alam” yang disampaikan secara gamblang oleh seorang tokoh masyarakat adat Baduy Pedalaman (Cibeo, Cikeusik, dan Cikartawana), yakni ayah Karmain, kepada Tim Peneliti dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), terdiri dari William D. Danies (dari University of Lowa), Eri Kurniawan (UPI), dan kawan-kawan pada 2014 lalu.

Ayah Karmain dengan pakaian khasnya menceritakan kepada tim peneliti tersebut. “Nah, ayeuna rek nyaritakeun kahawatiran alam. Sebab, kami mah beda ti masyarakat umum di luar. Sebab, ti kokolot mah masyarakat adat ieu lahir jeung batinna teh katitipan luluhur ieu, kudu ngasuh ratu, kudu nyakap menak, kudu ngeraksakeun titipan saha-saha ratu,” katanya memulai cerita.

Jadi, kami mah ayeuna – los teuing nu aya kemajuan di luar, alat-alat teknologi canggih – mun ceuk bahasa di luar mah ayeuna zaman globalisasi. Ari kami mah globalisasi eta kudu jeung persetujuan. Kami mah leuwih pokus ku adat, jeung kahawatiran alam. Karena, kami mah katitipan alam jeung lingkungan tea. Matak kami mah ayeuna mikiran di alam iyeu loba gunung dilebur, lebak dirusak, buyut dirobah di mana-mana tempat.

Eta ngarana ngeruk harta kekayaan! Sebab, harta kekayaan di lingkungan alam iyeu cukup keur manusia sadayana. Tapi, kuduna jeung aturan, di mana nu bisa dikelola, dikelola. Tapi, nu teu bisa dikelola ulah dikelola. Kami mah hawatir, manusia sakitu lobana geus dicukupan lahir jeung batin. Manusia ulah sarakah jeung rakus teuing, karena bumi alam iyeu kudu aya kaseimbangan. Sebab, lamun loba teuing gunung dilebur, lebak dirusak, buyut dirobah, kami hawatir akan aya bancana.

Ayeuna di mana-mana tempat, pertambangan batu bara, jeung pertambangan emas, geus dirusak. Sebab, menurut sejarah di wiwitan alam iyeu teu beda jeung wujud manusia. Ceunah geh alam lingkungan iyeu di Pulau Jawa mah hulu kajungkulan (bagian Barat), jeung ka balambangan (bagian Timur). Di bagian Barat eta Sanghyang Sirah, di bagian Timur eta Sanghyang Dampal. Ti Sanghyang Sirat ka Sanghyang Dampal aya nu ngarana “urat”, tulang punggung Gunung Kendeng.

Ayeuna matak kami dongeng kahawatiran alam iyeu. Manusiana geus pada rakus. Lamun gunung dikeruk ambruk, manusia masa depanna kumaha? Anak incu urang sadaya kumaha masa depanna? Lamun di lingkungan layat (tanah adat) iyeu komoh kami mah dipertahankeun. Menta doana, menta dukunganana ka seluruh bangsa jeung agama, kami mah ogah dirobah, hayang dikukuhkeun, hayang ditenteremkeun.

“Tah, urang dongeng sakitu bae. Sebutna dongeng mah meureun lamun dipondokeun, pondok. Lamun dipanjangkeun, panjang. Meureun urang dongeng mah dugi ka dieu bae. Bahasana bahasa Sunda. Sakitu bae!,” ujar ayah Karmain cukup luwes dan sistematis dalam ceritanya itu di hadapan tim peneliti tersebut.

Tim peneliti yang berhasil mewawancarai ayah Karmain tersebut, layak mengajukan namanya sebagai tokoh utusan Baduy Pedalaman meraih hadiah Nobel Perdamaian Dunia melalui pelestarian bumi tempat manusia menetap. Karena, alamlah sumber utama perdamaian dunia itu, karena keseimbangan alamlah yang mampu mewujudkan ketenteraman dan hidup damai.

Keadilan sosial

Sesungguhnya bencana alam itu terjadi karena ulah tangan manusia, (Q.S. Ar-Rum: 41). Namun, seringkali manusia itu mengingkari sendiri keingkarannya, (Q.S. Al-‘Aadiyaat: 6-7). Patut pula dipertimbangan adanya “darurat hukum” (Pasal 1 ayat [3] UUD 1945, hasil amandemen), agar ada efek jera kepada oknum perusak hutan!

Eksploitasi hutan dan isi bumi harus segera dicegah. Demikian juga, kerusakan air baku di beberapa sungai harus dicegah untuk kelestarian areal pertanian. Sebut saja Sungai Ciujung, misalnya, sudah mengakibatkan ratusan usaha tambak di Pantura, Kabupaten Serang, “gulung tikar”, karena kualitas air makin buruk, yang diduga akibat tercemar limbah industri. Rakyat tak berdaya menghadapi kenyataan itu, ibarat nasi sudah menjadi bubur.

Pemerintah selalu menetapkan istilah “darurat bencana” setelah musibah alam itu terjadi, dengan korban kerugian materiel dan imateriel begitu besar. Pemulihan korban bencana itu terus dilakukan oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BPBD yang ada di Kabupaten/Kota dan Provinsi, termasuk bantuan kemanusiaan dan bantuan sosial untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan bagi para korban bencana alam.

Bantuan untuk para korban bencana itu pun datang mengalir dari berbagai lembaga BUMN, BUMD, swasta, parpol, ormas, bahkan dari perorangan pun turut bergotong royong menyalurkan berbagai bentuk bantuan, dari mulai bahan pokok, sandang, kebutuhan anak-anak sekolah, dan sebagainya.

Bila, saja aktivitas bantuan sosial kepada fakir miskin, pengemis, tuna wisma atau gelandangan dilakukan dalam kondisi normal – rakyat sedang tidak menjadi korban bencana alam – alangkah indahnya Indonesia ini hidup bergotong royong, seperti dalam pribahasa: “Ringan sama dijinjing berat sama dipikul”, sekaligus impelementasi Sila kelima Pancasila: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Hanya saja kepedulian sosial itu ramai bila ada bencana alam. Apa jadinya bila bencana alam datang setiap minggu? Jangan sampai kota-kota yang indah berubah menjadi “kota mati” porak poranda, dan penduduknya sebagai korban pada mati pula. Renungkanlah pada “titik nol kilometer” di awal tahun baru ini. Berhentilah merusak alam!*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here