1.702 WNA Ditolak Masuk Indonesia

TANGERANG, (KB).- Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Bandara Soetta mencatat telah melakukan penolakan kepada 1.702 warga negara asing (WNA) yang akan masuk ke Indonesia.

Kepala Kantor Imigrasi Bandara Soetta Saffar Muhammad Godam mengatakan, ribuan WNA yang ditolak tersebut terdata sejak 2019.

“Kegiatan tahun 2019, Januari sampai Desember sudah ada penolakan kendatangan WNA sebanyak 1.702 orang dengan alasan keimigrasian,” katanya, Rabu (4/3/2020).

Ia menjabarkan, ada 836 orang yang ditolak, karena masalah keimigrasian, NTL/INAD sebanyak 373 orang, lalu daftar cekal sebanyak 106 orang.

Kemudian, ada paspor yang kurang dari enam bulan sebanyak 83 orang, dan kasus lainnya sebanyak 304 orang. Selama 2019, Imigrasi Bandara Soekarno-Hatta juga melakukan pencegahan keberangkatan kepada ratusan TKI.

“Kami melakukan penolakan atau penundaan keberangkatan kepada terduga TKI non-prosedural pada 2019 sehanyak 275 orang,” ujarnya.

Menurut dia, selama 2019 jajarannya melakukan deportase kepada 153 WNA yang melanggar keimigrasian di Bandara Soekarno-Hatta. Secara rinci, dia menyebutkan, melakukan deportase kepada 37 WNA India, 27 orang asal Nigeria, dari Iran 16 orang, Irak sebanyak 12 orang, 12 orang orang Srilanka, dan lain-lainnya sebanyak 49 orang.

“Selain tindakan administratif keimigrasian, terdapat sembilan kasus tindakan pidana keimigrasian yang telah melalui proses penyidikan pro justisia,” ucapnya.

Palsukan paspor

Sementara itu, seorang warga negara Singapura diamankan petugas Imigrasi Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) Tangerang, karena kedapatan menggunakan paspor Indonesia palsu saat masuk ke Indonesia dari Malaysia.

Ia menuturkan, pelaku terbang dari Malaysia dan mendarat di Terminal 2F Bandara Internasional Soetta, Tangerang.

“Saat mendarat, pelaku membawa paspor Indonesia dan mengaku orang Indonesia, tapi saat diajak berkomunikasi pelaku kesulitan menggunakan bahasa Indonesia, sehingga petugas mencurigai pelaku,” tuturnya, Rabu (4/3/2020).

Ketika dilakukan pemeriksaan lanjutan, pelaku masih bersikukuh, bahwa dia merupakan warga negara Indonesia yang lama menetap di Malaysia. Namun, dari hasil interogasi petugas mencurigai pelaku merupakan warga negara Singapura.

“Kami juga menyadari, bahwa tidak bisa menuduh dia bukan orang Indonesia dengan kemampuan berbahasa, lalu kami hubungi otoritas Singapura untuk mengonfirmasi apakah pelaku memang warga negara Singapura,” katanya.

Dari konfirmasi tersebut, pihak otoritas Singapura mengonfirmasi, bahwa pelaku tersebut benar merupakan warga negaranya.

“Jadi, memang dia ini bermasalah di Singapura, kabur lah dia ke Malaysia dan tinggal selama 9 tahun di sana hingga membuat paspor dan KTP Indonesia palsu, setelah itu dia melapor, bahwa paspornya hilang untuk membuat paspor asli dan terbanglah ke Indonesia untuk kabur lagi dari kejaran Pemerintah Singapura,” ujarnya.

Atas dasar tersebut, pihaknya lantas menahan pelaku, karena menggunakan paspor palsu. Kini, kasus tersebut telah dilimpahkan ke Kejaksaan dengan status P21 dan akan segera diadili di persidangan. (DA)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here