TERIMA KASIH RAMADHAN DAN IDUL FITRI

Oleh : Kholid Ma’mun

Hakikat bulan Ramadhan tak lain adalah bulan pelatihan yang diberikan Allah kepada hamba-hambaNya. Sehingga Ramadhan tercatat sebagai satu dari dua belas bulan yang ada dan mendapatkan keistimewaan di hadapan umat Islam

Ramadhan adalah bulan yang menyediakan tiga tahapan penting. Sepuluh hari pertama adalah rahmat, sepuluh hari ke dua maghfirah dan sepuluh hari ke tiga pembebasan api neraka, demikian sabda Rasulullah saw. Dalam salah satu hadisnya

Tahapan demi tahapan di bulan Ramadhan ini telah kita lalui bersama, siang dan malamnya, segala macam jenis ibadahpun in sya Allah juga telah kita tunaikan, mulai dari yang wajib seperti sholat lima waktu dan puasa siang hari di bulan mulia sampai dengan amalan-amalan sunnah seperti sholat tarawih, sedekah, tilawah Al-Qur’an dan ibadah yang lainnya pun telah kita tuntaskan sebagai bukti ketaatan kita kepada-Nya

Ramadhan menjadi bulan suci dan penuh berkah bagi umat Islam, karena di dalamnya terdapat keistimewaan-keistimewaan yang tidak ada pada selainnya.

Ramadhan menjadi berkah paling tidak karena enam keutamaan, pertama diturunkannya Al-Qur’an, kedua puasa di siang harinya, ketiga sholat tarawih di malam harinya, keempat lailatul qadar (malam spesial yang lebih baik dari seribu bulan), kelima zakat fitrah di penghujung dan keenam ditutup dengan perayaan hari Raya Idul Fitri.

Berakhirnya Ramadhan bukanlah akhir dari segalanya, tapi justru menjadi awal mengkomitmenkan diri dalam meningkatkan dan melanggengkan perbuatan baik setelah sebulan lamanya kita menempa dan menggembleng diri dengan ibadah puasa selama satu bulan lamanya.

Bulan Ramadhan merupakan arena pergulatan penting guna membina kualitas pribadi seseorang melalui berbagai pendidikan ruhani. Berbagai ritual dan ketulusan spiritual diwujudkan sebagai bekal menyongsong “peperangan” yang sebenarnya dalam hidup di sebelas bulan berikutnya.

Mulai dari awal Ramadhan hingga akhir bulan Ramadhan adalah saat-saat menempa berbagai pelatihan guna mendewasakan hati, pikiran dan sikap selama ini. Berbagai macam ujian digelar guna membina jiwa yang kokoh dan tangguh

Sungguh mulia engkau duhai Ramadhan, engkau ajarkan kepada kami bagaimana berbagi cerita kehidupan dengan orang lain melalui ritual puasa yang dimulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari.

Sungguh mulia engkau duhai Ramadhan, melakui ibadah puasa, engkau ajarkan bagaimana kami mengasah ketajaman pikiran, mengajarkan kepada kami bagaimana merenungkan pentingnya keterbatasan dan keseimbangan hidup, hidup kami yang selalu berbenturan dengan keterbatasan sehingga kami harus senantiasa merasa berkecukupan. Hidup kami yang selalu tergoda oleh sikap berlebih-lebihan, menuntut pikiran untuk bisa menyeimbangkan kebutuhan di antara dua persinggahan dunia dan penghujung keabadian di akhirat kelak.

Sungguh mulia engkau duhai Ramadhan, engkau ajarkan kebeningan pikiran lewat lantunan do’a yang kami panjatkan, engkau ajarkan kesabaran dan kesungguhan dalam beramal melalui sholat tarawih, qiyamullal dan i’tikaf yang kami lakukan

Terima kasihku padamu duhai Ramadhan, engkau telah ajarkan kebersamaan kepada kami untuk merasakan haus dan dahaga sebagaimana yang dirasakan oleh saudara-saudara kami yang tak berkecukupan.

Terima kasihku juga tak lupa untukmu duhai Idul Fitri, engkau telah persatukan hati kami dalam jalinan kuat kebersamaan, engkau ajarkan kepada kami bahwa hidup yang bahagia adalah bersama-sama sukses dengan saudara-saudara kami dan orang lain, bersama-sama merayakan kemenangan atas hawa nafsu yang selama ini membelenggu kami.

Idul Fitri sungguh telah menyadarkan kami terhadap kekurangan untuk kemudian kita sempurnakan bersama. Untuk menyadari kelemahan masing-masing kemudian saling membantu satu sama lain, mengoreksi kesalahan masing-masing untuk kemudian saling memaafkan.

Keistimewaan Idul Fitri tidak tercipta begitu saja tanpa ada perantara, akan tetapi keberadaanya dikarenakan satu bulan
sebelumnya umat Islam mendapatkan tugas mulia dari Allah untuk berpuasa sebagai bakti ketaatan

Kebersamaan dalam Idul Fitri mengajarkan kepada kami agar tidak bersikap saling menyalahkan satu sama lainnya, saling mencaci satu sama lainnya, saling mendengki satu sama lainnya tetapi bagaimana kami harus saling introspeksi diri dan untuk saling memaafkan.

Terima kasih Ramadhan, terima kasih Idul Fitri, semoga kami dapat berjumpa lagi denganmu di kemudian hari dengan penuh keceriaan dan kemenangan. Wallahu alam bisshawab (Penulis buku Celoteh Santri)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here