Selasa, 12 Desember 2017

Zakat dan Masa Depan Umat

Katakanlah: “Bahwasannya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku, bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadanya dan mohonlah ampun kepadanya. Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya, (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat, (Fushilat, 41:6-7)

Kamis 7 Desember 2017, pihak Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Banten melaksanakan milad, hari ulang tahun ke-7. Dengan mengundang Gubernur Banten serta anggota Dewan Pembina Baznas Banten; Pengurus Baznas Kabupaten/Kota se-Provinsi Banten, pengurus unit pengumpul zakat (UPZ), para muzaki, serta mustahik yang akan menerima bantuan. Barangkali milad tahun ini, bagi Baznas Provinsi Banten memiliki nilai tersendiri, mengingat sudah beberapa tahun aktivitasnya dilaksanakan di kantor kontrakan. Namun, pada 2017, mulai November yang lalu, Alhamdulillah sudah memiliki kantor sendiri, seharga 1,5 miliar atas bantuan Pemda Provinsi Banten.

Kantor sebagai pusat kegiatan oraganisasi, memberikan dorongan dan dukungan yang sangat dominan, sehingga aktivitas penghimpunan dan pendistribusian dan pendayagunaan zakat semakin meningkat secara signifikan. Hingga Desember awal ini banyak hal yang dilakukan pihak Baznas Banten. Umpamanya, pembangunan rumah tidak layak huni, yang pada tahun lalu hanya 8 rumah. Pada 2017 ini meningkat menjadi 15 rumah.

Pemberian beasiswa Satu Keluarga Satu Sarjana (SKSS), yang tahun lahu hanya 10 orang, pada tahun ini bertambah 15 orang, total menjadi 25 orang; Bantuan untuk lansia yang tahun kemarin hanya berjumlah 100 orang, sekarang naik menjadi 120 orang; 200 orang loper koran; 100 orang guru ngaji; 43 orang mustahik mandiri (pedagang kopi keliling); dan bantuan lainnya. Sudah barang tentu keberhasilan tersebut tidak dicapai dengan begitu saja. Selain dengan adanya regulasi yang berupa undang-undang (UU), peraturan pemerintah juga melalui sosialisasi yang intensif melalui dinas instansi/OPD di tingkat provinsi, termasuk di dalamnya Polda Banten, Pengadilan Tinggi Negeri, dan Korem Maulana Yusuf Banten.

Zakat sebagai salah satu rukun Islam, yang harus ditunaikan oleh umat Islam yang memiliki kemampuan ekonomi (nisob), baik dia sebagai petani, pedagang, pengusaha, peternak, dan para profesional. Apabila di antara mereka secara sadar tidak bersedia menunaikannya, maka orang seperti itu digolongkan sebagai orang yang murtad (penentang agama) atau syirik. “Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya, (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat,” (Fushilat: 6-7);

“Dan sesuatu Riba (tambahan) yang kamu berikan, agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya),” (Ruum: 39).

Risiko yang harus dipikul oleh seorang Muslim yang tidak bersedia mengeluarkan zakat, maka mereka dikelompokkan sebagai orang musyrik, bahkan kafir, karena tidak mengakui kebenaran Islam sebagai agamanya. Bukankah seorang Muslim itu harus ” tunduk dan patuh, kepada segala sesuatu yang diajarkan Rasulullah Muhammad SAW, baik lahir maupun batin,” ( Nadim Aljir, Al Husunul Hamidiyah).

Bagi orang semacam ini, agar bersedia mengeluarkan zakat, padahal mereka sudah mengetahuinya, maka seorang pemimpin/pejabat diberikan kewenangan untuk memberikan perintah dan tindakan, agar semua umat Islam yang memiliki harta nisob bersedia berzakat; “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui,” ( At Taubah: 103).

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang memberikannya (zakat), karena berharap mendapatkan pahala (dari Allah), maka dia akan mendapatkan pahalanya. Dan barangsiapa yang enggan mengeluarkannya, kami akan mengambilnya (zakat), dan setengah untanya, sebagai salah satu ‘uzman (kewajiban yang dibebankan kepadanya) oleh Allah SWT. Tiada sedikitpun dari harta itu yang halal bagi keluarga Muhammad,” (HR Nasa’i).

Untuk mendapatkan kesempurnaan sebagai hamba Allah, selain mengeluarkan zakat sebagai rukun Islam, umat Islam juga harus senantiasa berkontribusi dengan harta dan kekayaannya, sebagai infak ataupun sedekah, amaliyah semacam ini sebagai pendekatan diri kepada sang Pemilik Alam Semesta Allah SWT, yang telah menganugerahkan rezeki kepadanya. Dan bagi mereka Allah menjanjikan surga yang penuh kenikmatan; “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhan-Mu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan,” ( Ali Imran: 133-134).

Setiap Muslim yang mampu dan rela hati untuk berkontribusi dengan sebagian hartanya, Allah menempatkan mereka sebagai orang-orang yang mendapatkan kesuksesan dalam mengarungi kehidupan dunia serta mendapatkan balasan surgawi di akhirat kelak. “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam sembahyangnya. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna. Dan orang-orang yang menunaikan zakat, ” (Al Mukminun: 1-4) dan firman Allah dalam ayat lain; ” Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan”. Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya,” (Al Baqarah: 215).

Seharusnya, kita senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah kepada kita, sehat jasmani dan rohani, memiliki sandang, pangan, dan papan yang memadai. Untuk itu, sebagai bukti syukur kita kepada Pemberi Nikmat, Allah SWT, kita tingkatkan kesadaran kita baik sebagai pejabat, abdi negara, TNI, ulama, wakil rakyat, kiai, cerdik-cendikia, dan segenap umat Islam untuk senantiasa beribadah dengan sebaik-baiknya, baik ibadah yang bersifat badaniyah, harta kekayaan, serta kebajikan lainnya. “Sebaik-baik kalian, adalah orang yang banyak memberikan manfaat untuk orang lain,” (Al Hadits).

Dengan zakat dan infak kita membangun negeri

Pada pertengahan Desember 2017 ini, Baznas Banten sesuai dengan peraturan yang berlaku telah mengadakan sosialisasi ke-25 sekolah; SMK negeri, SMAN, MAN, dan sederajat sebanyak 25 sekolah se-Provinsi Banten (baru di lima kabupaten/kota, yaitu Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, Kota Serang, Kabupatan Lebak, dan Kota Cilegon, sedangkan Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, dan Tangerang Selatan belum dapat dilaksanakan).

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam sembahyangnya. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna. Dan orang-orang yang menunaikan zakat, (Almukminun; (23:1-4). Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan”. Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya, (Al Baqarah: 215).

Sesungguhnya zakat-zakat tersebut, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mualaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah, dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, serta Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Bijaksana, (At Taubah: 60). Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa Lagi Maha Bijaksana.

Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan keridaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar, (At Taubah: 71-72).

Yang berhak menerima zakat, ialah: 1) Orang fakir: orang yang amat sengsara hidupnya, tidak mempunyai harta dan tenaga untuk memenuhi penghidupannya, 2) Orang miskin: orang yang tidak cukup penghidupannya dan dalam keadaan kekurangan, 3) Pengurus zakat: orang yang diberi tugas untuk mengumpulkan dan membagikan zakat, 4) Mualaf: orang kafir yang ada harapan masuk Islam dan orang yang baru masuk Islam yang imannya masih lemah, 5) Memerdekakan budak: mencakup juga untuk melepaskan Muslim yang ditawan oleh orang-orang kafir,

6) Orang berutang: orang yang berutang, karena untuk kepentingan yang bukan maksiat dan tidak sanggup membayarnya. Adapun orang yang berutang untuk memelihara persatuan umat Islam dibayar utangnya itu dengan zakat, meskipun dia mampu membayarnya, 7) Pada jalan Allah (sabilillah), yaitu untuk keperluan pertahanan Islam dan kaum Muslimin, di antara mufasirin ada yang berpendapat, bahwa fisabilillah itu mencakup juga kepentingan-kepentingan umum, seperti mendirikan sekolah, rumah sakit, dan lain-lain, 8) Orang yang sedang dalam perjalanan yang bukan maksiat mengalami kesengsaraan dalam perjalanannya.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah, agar kamu mendapat keberuntungan. Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir. Dan taatilah Allah dan rasul, agar kamu diberi rahmat. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhan- Mu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang.

Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui, ( Ali Imran: 130-135). Yang dimaksud perbuatan keji (faahisyah), ialah dosa besar yang mana mudaratnya tidak hanya menimpa diri sendiri, tetapi juga orang lain, seperti zina dan riba. Menganiaya diri sendiri, ialah melakukan dosa yang mana mudaratnya hanya menimpa diri sendiri baik yang besar atau kecil.

Yang dimaksud riba di sini, ialah riba nasi’ah. Menurut sebagian besar ulama, bahwa riba nasi’ah tersebut selamanya haram, meksipun tidak berlipat ganda. Riba tersebut ada dua macam: nasiah dan fadhl. Riba nasiah, ialah pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan. Riba fadhl, ialah penukaran suatu barang dengan barang yang sejenis, tetapi lebih banyak jumlahnya, karena orang yang menukarkan mensyaratkan demikian, seperti penukaran emas dengan emas, padi dengan padi, dan sebagainya. Riba yang dimaksud dalam ayat tersebut, riba nasiah yang berlipat ganda yang umum terjadi dalam masyarakat Arab zaman jahiliyah. (HM Suhri/Wakil Ketua II Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan BAZNAS Provinsi Banten)***


Sekilas Info

Lebak Menuju Kabupaten Ramah Anak

Saat mendengarkan nama-nama siswa berprestasi yang dicapai dalam berbagai cabang lomba, baik olah raga, karya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *