Kamis, 19 Oktober 2017

Watu Gilang di Banten Lama Tempat Penobatan

Watu Gigilang atau Watu Gilang adalah sebuah batu andesit berbentuk persegi panjang yang terletak tidak jauh dari Keraton Surosowan, Banten Lama, Kecamatan Kasemen, Kota Serang. Watu atau dalam bahasa Indonesia berarti batu ini merupakan tempat penobatan para sultan saat itu.

Dahulu, batu itu dianggap sesuatu yang sakral. Sultan Maulana Yusuf saat itu pernah diperintahkan oleh kakeknya untuk menjaga baik-baik batu tersebut. Jika bergeser, maka kesultanan Banten akan runtuh. “Karena dulunya memang menjadi tempat penobatan sultan,” ujar Direktur Banten Heritage, Dadan Sujana kepada Kabar Banten, Jumat (21/7/2017).

Dalam catatan sejarah, batu yang telah dijadikan cagar budaya ini dibawa dari Kerajaan Pajajaran. Di kerajaan ini, batu juga selalu dijadikan tempat penobatan para raja. “Setelah ditaklukkan batu itu dibawa ke Kesultanan Banten, lokasinya masih tetap disitu aja, karena ada amanat watu ini tidak boleh dipindahkan,” ucapnya.

Penaklukan Kerajaan Pajajaran terjadi pada tahun 1579 Masehi, saat itu Kesultanan Banten dipimpin oleh Sultan Maulana Yusuf. Penaklukan Kerajaan Pajajaran termasuk yang kedua kalinya, setelah upaya pertama saat dipimpin oleh Sultan Maulana Hasanuddin gagal. “Kalau penaklukan yang pertama tidak berhasil,” tuturnya.

Setelah berhasil, kerajaan yang berlokasi di Bogor itu secara otomatis runtuh. Saat itulah Watu Gilang kemudian dipindahkan ke Kesultanan Banten. Selain memperluas wilayah kekuasaan, salah satu misi penaklukan adalah menyebarkan ajaran Islam. “Salah satunya menyebarkan ajaran agama Islam,” katanya.

Seiring perjalanan waktu, sedikit demi sedikit peran watu gilang tak lagi dominan. Ada sebuah catatan menyatakan, masa kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa pada tahun 1596, raja bersama dengan para penasihatnya mengambil keputusan di Darpragi, yang lokasinya berada tak jauh dari Watu Gilang.

Waktu terus berjalan, pentingnya Watu Gilang terus memudar dan berganti dengan politik pragmatis. Lepas daripada itu, Watu Gilang tetap menyimbolkan kesakralan. Perjalanan yang menggiring benda itu telah menyimpan sejarah penting. “Batu ini menjadi salah satu kekayaan sejarah di Banten Lama,” ucapnya. (Sutisna/”KB”)***


Sekilas Info

Juru Pelihara Khawatirkan Galian di Sekitar Situs Patapan

Situs patapan yang berlokasi di Kampung Patapan, Desa Nagara, Kecamatan Kibin Kabupaten Serang merupakan salah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *