Sabtu, 18 November 2017

Untuk Bulan Ramadan, Pemkot Diminta Buat Aturan Khusus

SERANG, (KB).- Pemerintah Kota (Pemkot) Serang diminta membuat peraturan khusus untuk bulan Ramadan yang harus diikuti seluruh masyarakat di Kota Serang tanpa terkecuali, seperti peraturan perayaan Nyepi yang diikuti seluruh masyarakat yang berada di Bali. Hal tersebut terungkap dalam kegiatan rapat koordinasi (rakor) bersama MUI kecamatan, pimpinan ormas Islam, pedagang, tokoh agama, dan warga, serta dialog bersama Wakil Wali Kota Serang, Kepala Kemenag, Kapolres, dan FKUB Kota Serang yang digelar di Kantor MUI Kota Serang, Kamis (18/5/2017). Kegiatan tersebut bertema “Cipta Kondisi Ramadan 2017, Toleran, Rukun, dan Berkeadilan”.

Ketua Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia, Adung Abdul Mukti mengatakan, di Bali saat perayaan Nyepi, seluruh warga yang non-Hidu dan pendatang tanpa protes semua ikut mendukung, menghomati, dan menjaga situasi kondusif. “Kenapa tidak dibuat peraturan khusus bulan Ramadan yang kemudian dipatuhi semua orang, seperti saat perayaan Nyepi di Bali,” katanya.

Sekretaris MUI Kota Serang, Amas Tadjuddin menuturkan, pihaknya setuju jika ada aturan khusus saat Ramadan yang diikuti seluruh masyarakat, seperti aturan saat perayaan Nyepi di Bali yang diikuti seluruh masyarakat yang berada di Bali, padahal tidak semua yang di Bali umat Hindu apalagi warga pendatang. “Aturan saat Nyepi di Bali itu dianggap sebagai kearifan lokal. Tapi, di sisi lain ketika menyebutkan kenapa tidak saat bulan puasa semua menghormati yang sedang puasa, seperti saat Nyepi, tapi ternyata dianggapnya diskriminasi atau mau penegakan syariah, sehingga malah muncul, kata-kata yang berpuasa harus menghormati yang tidak berpuasa,” tuturnya.

Ia mengatakan, Kota Serang sudah punya perda penyakit masyarakat dan ada larangan khusus saat bulan puasa, informasinya perda tersebut diperkuat dengan peraturan wali kota yang mempertegas apa saja yang dilarang saat bulan puasa. “Saya mendengar penjelasan sekilas dari Kepala Satpol PP, bahwa di perwal itu berbunyi beberapa larangan, di antaranya tidak boleh memakai pakaian yang dapat mengundang syahwat, tidak boleh makan dan minum di tempat umum, warung makan atau rumah makan harus tutup saat pagi sampai sore hari, tempat hiburan atau restoran yang merupakan bagian fasilitas dari hotel berbintang juga baru boleh beroperasi pukul 17.00 WIB, dan tempat hiburannya hanya untuk tamu yang menginap,” ucapnya.

Menurut dia, perda dan perwal-nya sudah keren isinya dan tinggal pelaksanaannya. “Kami harap, semua pihak saling menghormati. Persoalan puasa atau tidaknya itu urusan masing-masing, asalkan jangan menampakkan diri, bahwa tidak puasa dengan makan dan minum di tempat umum,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, untuk rakor tersebut, pihaknya juga mengundang 50 warteg yang terverifikasi dalam data MUI, namun satu juga tidak ada yang datang.

Sementara, undangan lainnya, seperti dari pihak hotel, pusat perbelanjaan, dan restoran cepat saji mereka hadir, termasuk manajemen Pasar Induk Rau. Dalam hal ini, MUI bukan mau membuat aturan, tapi kami berkewajiban menyampaikan ke masyarakat hal ini,” katanya. Ketua MUI Kota Serang, KH. Mahmudi juga setuju jika ada aturan khusus untuk Ramadan. Pihaknya juga mau mendorong pemkot agar membuat surat edaran untuk penertiban menjelang bulan Ramadan, agar semua pihak menghormati. (H-40)***


Sekilas Info

Uang Rp 60 Juta Milik Panwaslu Digondol Maling

SERANG, (KB).- Kasus pencurian dengan modus pecah kaca terjadi di depan kantor Panwaslu Kabupaten Serang Jalan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *