Jumat, 24 November 2017

Udara Kota Cilegon Tercemar

CILEGON, (KB).- Hasil pengujian udara di Kota Cilegon tercemar oleh karbon monoksida. Hal tersebut dikatakan Kepala Seksi Pengawasan Lingkungan pada Dinas Lingkungan Hidup Kota Cilegon, Andi Rihana.  “Kami rutin melakukan pengujian kadar udara (di Kota Cilegon) per semester dan hasil yang didapat pada semester 1 menunjukkan, udara di Kota Cilegon tercemar oleh debu dan polusi kendaraan maupun cerobong industri,” katanya.

Ia menuturkan, hasil uji sampel tersebut didapat dari 15 titik, di antaranya di depan Samangraya, Kecamtan Citangkil, Kampung Cilodan Gunung Sugih, Kecamatan Ciwandan, Kampung Pangabuan Gunung Sugih, Kecamatan Ciwandan, depan PT Indoferro, Persimpangan Jalan Lingkar Selatan (JLS) atau depan PT Cemindo. “Tanggal sampling yang kami kirimkan 24 Juli lalu dan hasil analisis 9 Agustus lalu menunjukkan, udara yang di sekitar kami jadikan sampling menunjukkan lebih dari standar baku mutu,” ujarnya.

Ia mencontohkan, di Samangraya dengan acuan PP Nomor 41 Tahun 1999 standar baku mutu mencapai 1.000, ini hasilnya mencapai 2141,51. Bahkan, di Kampung Pangabuan Gunung Sugih, Kecamatan Ciwandan mencapai 2301,84. Yang paling tinggi di Persimpangan JLS yang dekat dengan PT Cemindo mencapai 3321,06. Semuanya dari standar baku mutu mencapai 1000.

Dari nilai tersebut, ucap dia, yang melebihi standar baku mutu memang harus ada langkah nyata antara pihak industri, masyarakat, dan pemerintah untuk mengantisipasi hal tersebut, sehingga udara yang tercemar oleh debu tidak tinggi lagi. “Bisa saja melakukan penghijauan, karena ada beberapa jenis tanaman yang bisa menyerap debu dan polusi udara yang dihasilkan oleh asap kendaraan dan cerobong industri, yakni tanaman trembesi,” tuturnya.

Ditemui terpisah, aktivis lingkungan dari LSM Rekonvasi Bumi, Saputra mengatakan, kualitas udara di Cilegon saat ini sudah sangat mengkhawatirkan. Polusi udara yang berasal dari emisi gas buang kendaraan serta industri menjadi penyebab memburuknya kualitas udara Kota Cilegon. Bukan hanya karena polusi udara, kurangnya daya serap yang dilakukan hutan lindung atau hutan kota ditengarai menjadi faktor melemahnya penyerapan karbondioksida (CO2) yang berasal dari sinar matahari.
“Hal ini sudah seharusnya diantisipasi sejak awal, misalnya terkait dengan industri, bagaimana dalam antisipasi debu yang dikeluarkan dari cerobong, namun tidak sampai di luar, tetapi berada di area industri tersebut,” katanya.

Menurut dia, debu yang dihasilkan oleh asap kendaraan maupun industri sangat berbahaya, bahkan jika kelamaan menghirup bisa menimbulkan penyakit pernapasan. “Karena memang sangat berbahaya sekali bagi manusia, lama-kelamaan akan menjadi sumber penyakit. Artinya, pemerintah bisa melakukan pengawasan ketat kepada industry yang tidak ramah lingkungan,berikan sanksi yang tegas kepada industri itu,” ucapnya. (H-45)***


Sekilas Info

OPD Diminta Segera Buat RUP

CILEGON, (KB).- Kepala Badan Pengelolaan dan Pengadaan Barang dan Jasa (BPPBJ) Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon, Syafrudin …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *