Sabtu, 18 November 2017

Situs Patapan

Situs yang berada di Kampung Parapan Pasir, Desa Nagara, Kecamatan Kibin ini berada di dataran tinggi, dan dilindungi kawat berduri yang berkarat untuk memisahkan jalan raya dengan areal situs. Selain pagar itu, di area situs pun dilapis dua pagar lagi, urbaners. Satu pagar kawat dan lainnya pagar. Ada jalan setapak yang bisa kamu jejaki menuju ke situs itu.

Area situs pohon tua dan besar dengan akar-akarnya yang mencuat seolah melindungi area punden yang terdapat batu pelinggih, lapik atau altar itu. Banyak dugaan untuk situs ini, urbaners. Beberapa mengatakan bahwa Situs Patapan merupakan peninggalan tradisi megalitik karena bentuknya berupa punden berundak. Ada pula yang menduga jika bangunan situs ini lahir pada zaman berikutnya.

Secara tertulis tidak ada sumber yang menyebut tentang Situs Patapan, namun daerah lokasi situs berada yaitu Cikande pernah disebut dalam catatan Portugis. Disebutkan oleh Tome Pires pada kunjungannya di daerah Banten tahun 1513 bahwa Cheguede (Cikande) merupakan sebuah kota dagang pada masa Hindu di bawah kekuasaan Pajajaran.

Sementara menurut cerita rakyat yang beredar di sekitar menyebutkan bahwa situs Patapan dibangun ketika masa Kesultanan Banten. Situs itu digunakan untuk tempat bertapa atau bersemedi.  Ada pula yang mengatakan bahwa tempat itu digunakan para ulama dan santri untuk menyiarkan agama Islam. Sedangkan cerita lainnya menyebutkan bahwa situs ini berhubungan dengan penguasa Banten Girang, Prabu Pucuk Umun.

Pada saat itu diceritakan bahwa Prabu Pucuk Umun dan para pengikutnya sedang membuat meja dan kursi untuk tempat bermusyawarah. Namun Sultan Banten mengetahuinya dan berniat menangkapnya. Prabu Pucuk Umun pun melarikan diri dengan melompat ke Rawa Ciateul dan menghilang. Tempat melompatnya Prabu Pucuk Umun kala itu, saat ini disebut Kampung Bunian. (Endang Mulyana)***


Sekilas Info

Taman Nasional Ujung Kulon, Serasa di ”Amazon”

Bicara soal keindahan alam Banten, memang tidak akan pernah ada habisnya. Destinasi yang akan diceritakan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *