Sabtu, 18 November 2017

SDN Citasuk 2, Sekolah di atas Bukit yang Memprihatinkan

Bangunan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Citasuk 2 yang berlokasi di Kampung Wangun, Desa Batukuwung, Kecamatan Padarincang kondisinya sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak, bangunan yang telah berdiri sejak tahun 1975 dan memiliki 152 orang siswa tersebut ruang kelasnya sudah dipenuhi banyak lobang.

Perjalanan untuk sampai ke lokasi sekolah pun terhitung cukup sulit dan harus melewati beberapa perkampungan, diantaranya Kampung wangun, Tarikolot, Wangun Cipurut dan juga Pakis. Bangunan sekolah itu berada di atas daerah perbukitan yang memiliki jalan menanjak dan sempit. Kondisi akses jalannya hanya dapat dilalui oleh satu buah kendaraan roda empat. Jarak sekolah dari jalan utama Palka (Palima-Cinangka) sekitar 2 kilometer.

Sesampainya di lokasi, tampak gedung sekolah satu atap yakni SDN Citasuk 2 dan SMPN 4 Padarincang. Sekilas, bangunan sekolah SD tersebut tidak tampak janggal. Sebab cat bagian depannya memang masih baik kondisinya. Namun saat masuk ke dalam ruang kelas, tampak beberapa bagiannya sudah rusak. Plafon yang sudah bolong, atap yang bocor hingga dinding bagian belakang kelas yang sudah nyaris ambruk. Di ruangan yang demikian itu, tampak anak-anak berbaju merah putih dengan wajah ceria sedang menimba ilmu. Tak ada raut sedih atau pun cemas, yang tampak hanya semangat belajar yang berbalut riang gembira.

Wali kelas 3 SDN Citasuk 2, Nurhani mengatakan, kerusakan bangunan sekolahnya tersebut sudah terjadi selama bertahun-tahun. Namun sampai saat ini masih belum ada perbaikan. Dari enam ruang kelas yang ada, kelas 1-4 kondisinya sudah memprihatinkan. Bahkan satu ruangan yakni kelas 1 sudah tidak bisa digunakan. Sebab bagian atas dan juga dindingnya rusak parah. “Ada enam ruangan, yang enggak kepakai itu satu. Tapi yang parah itu kelas 1-4,” ujarnya kepada Kabar Banten, Senin (13/11/2017).

Nurhani menuturkan, karena terbatasnya ruang kelas yang ada, akhirnya siswa kelas 1 itu pun dengan terpaksa dipindahkan ke gudang yang disulap menjadi ruang kelas. Namun kondisi gudang itu pun tidak jauh berbeda dari ruang kelas 1. Sebab dibagian atap bangunan itu pun sudah bocor, bahkan dindingnya pun dipenuhi lobang. “Kalau dari belakang itu kelihatan sekali. Kalau dari depan catnya memang bagus,” katanya.

Karena kondisinya yang demikian, lanjut pria berusia 25 tahun itu, kegiatan belajar mengajar pun kerap tak nyaman. Bahkan mereka tak pernah merasa aman saat sedang konsentrasi belajar. Sebab, jika udara panas, para siswa itu pun merasa kepanasan. Kemudian, debu-debu dari bangunan itu pun kerap mengganggu penglihatan para peserta didiknya.

Bahkan tak jarang, bila angin kencang atau pun hujan lebat tiba para guru lebih memilih memulangkan para siswanya. Sebab mereka khawatir bangunan tersebut ambruk dan menimpa murid-muridnya. “Daripada berbahaya, taruhanya nyawa. Kalau hujan kecil kita ungsikan ke kantor. Kadang pelajaran baru mulai tahu-tahu hujan, kita hentikan pelajarannya,” ucapnya.

Ia mengatakan, fenomena jatuhnya genting di ruang kelas tersebut sudah bukan menjadi hal langka. Bahkan anak-anak didiknya selama ini mereka pun cuek saja jika saat angin berhembus tiba-tiba ada genteng yang jatuh. Walau demikian, dirinya bersyukur selama ini tidak pernah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. “Enggak pernah kalau kejatuhan mah,” katanya.

Sementara itu, Kepala SDN Citasuk 1 yang sebelumnya menjabat kepala SDN Citasuk 2 selama 2 periode Eman Sudirman mengatakan, kondisi rusaknya bangunan sekolah itu sudah terjadi sejak lama. Bahkan sejak dirinya menjadi kepala sekolah pada tahun 2008 lalu, bangunan tersebut sudah rusak. “Saya jadi kepala sekolah dari tahun 2008 dan baru pindah April 2017 ini,” ujarnya.

Menurut dia, kerusakan di sekolah tersebut memang sudah sangat parah bahkan terkesan menyedihkan. Sebab bangunan yang rusak bukan hanya satu kelas namun hampir semuanya memprihatinkan. “Saya kasian sama mereka (Siswa-siswi),” katanya.

Eman menuturkan, pada saat menjabat sebagai kepala sekolah disana, dirinya bukan tanpa upaya untuk memperbaiki. Dirinya bahkan sudah beberapa kali meminta bantuan untuk pembangunan sekolah tersebut. Namun sampai saat ini masih belum juga. “Itu tahun 2012,2013 sama 2015 saya ajukan. Katanya gagal lelang,” ucapnya.

Menurut dia, seringnya gagal lelang untuk rehab sekolah tersebut lantaran keberadaan sekolah itu di atas bukit. Selain itu, akses untuk menuju sekolah pun terhitung sulit, sebab harus melewati jalan yang menanjak dan sempit. “Untuk kontraktor mungkin memperhitungkan medannya. Sekarang ada plur (semen jalan) dari TMMD, jadi mending,” katanya. (Dindin Hasanudin)***


Sekilas Info

Uang Rp 60 Juta Milik Panwaslu Digondol Maling

SERANG, (KB).- Kasus pencurian dengan modus pecah kaca terjadi di depan kantor Panwaslu Kabupaten Serang Jalan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *