Selasa, 17 Oktober 2017

Sang Hyang Heuleut

Kabupaten Pandeglang mempunyai banyak peninggalan zaman megalitikum. Tidak hanya Sang Hyang Dengdek, di kabupaten tersebut juga terdapat peninggalan zaman megalitikum berbentuk menhir, namanya dikenal dengan Sang Hyang Heuleut.

Sang Hyang Heuleut berada Kampung Cisata, Desa Sang Hyang Dengdek, Kecamatan Saketi, Kabupaten Pandeglang. Menhir berjenis batu tersebut terpasang berdiri dengan ketinggian 424 sentimter (cm) dan lebar 130 cm. Batuan tersebut termasuk batuan andesit dengan bentuk mengecil ke atas.

Pada bagian bawah terdapat batu-batuan kecil, ada juga berbentuk datar. Melihat bentuknya batu sering digunakan sebagai tempat pemujaan. Batu datar tersebut menjadi posisi di mana manusia zaman batu melakukan pemujaan.

Belum dapat dipastikan apakah batu tersebut telah mengalami modifikasi oleh masyarakat pendukung kebudayaan megalitik atau batu alam yang ditata sedemikian rupa untuk pemujaan. Untuk sampai ke batu tersebut, masyarakat yang ingin berkunjung harus melewati tiga tangga dari batu datar tersusun.

Sudarji Prijono dalam sebuah penelitian yang diarsipkan Badan Arkeologi Bandung berjudul budaya megalitik mata rantai penutur austronesia di Kawasan Pandeglang mencatat, bangunan susunan batu sebelum menhir juga terdapat dalam Situs Cengkuk, Sukabumi yang merupakan tinggalan megalitik asli.

Direktur Banten Heritage, Dadan Sujana menuturkan, batuan peninggalan megalitik memang memiliki kegunaan masing-masing sesuai dengan kebutuhan manusia zaman megalitikum. “Seperti menheir Situs Batu Lingga di Kecamatan Baros, Kabupaten Serang. Ini diduga menjadi tempat pemujaan orang-orang zaman dahulu (zaman megalitikum),” ucapnya. (SN)***


Sekilas Info

Bedolan Pamarayan Diserbu Warga

SERANG, (KB).- Setelah 10 tahun tak pernah digelar, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang menggelar kembali Festival Bedolan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *