Sabtu, 18 November 2017

Protes Batas Tonase Kendaraan, Sopir Truk Blokade ”Tol Gate” Merak

CILEGON, (KB).- Sejumlah sopir truk ekspedisi yang hendak berlayar ke Bakauheni, memblokade Tol Gate (gerbang tol) Pelabuhan Merak. Mereka memprotes pemberlakuan batas tonase kendaraan yang diperbolehkan melintasi pelabuhan. Pihak pelabuhan memberlakukan aturan maksimal kendaraan yang boleh melintas 60 ton. Dalam aksi, para sopir truk memarkirkan kendaraannya tepat di Gerbang Tol Pelabuhan Merak, Kamis (18/5/2017). Dari total delapan gerbang tol untuk kendaraan besar, tujuh di antaranya telah ditutup oleh puluhan truk.

Mereka menilai, alat timbangan milik PT ASDP (Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan) mengalami kerusakan, karena hasil timbangan tidak sama dengan beban yang tertulis pada surat jalan yang mereka kantongi. “Aksi ini spontan kami lakukan sebagai bentuk protes. Kami merasa dirugikan, karena timbangan kendaraan barang itu tidak akurat. Bahkan, saat dilakukan penimbangan beban berat kendaraan lebih berat atau berbeda beratnya berdasarkan surat jalan. Ini jelas-jelas merugikan kami,” kata salah seorang sopir truk, Diki, di Pelabuhan Merak.

Sementara itu, Ketua Paguyuban Pengurus Truk Pelabuhan Merak, Suganda mempertanyakan aturan penerapan larangan tonase lebih dari 60 ton. Padahal, beban muatan tersebut terbagi menjadi dua, ada yang dapat terurai dan yang tidak terurai. “Jika memang ada dasar aturannya tolong dikeluarkan, sedangkan beban muatan itu kan ada yang terurai, seperti muatan pipa, besi, dan sebagainya. Kemudian, yang tidak terurai itu, seperti alat berat. Itu ada dispensasinya dari Menhub,” ujarnya.

Diketahui, aksi mogok tersebut terjadi sejak pukul 09.30 WIB hingga 14.30 WIB. Unjuk rasa sopir tersebut, berakhir setelah pihak PT ASDP membolehkan kendaraan yang dianggap lebih dari 60 ton untuk menyeberang.  Manajer Usaha PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Merak, Abdillah menuturkan, untuk kali ini mereka diperbolehkan menyeberang, meski bebannya lebih dari 60 ton. Hal tersebut merupakan keputusan emergency, karena untuk menghindari aksi mogok yang semakin parah. “Akan tetapi, tadi sudah disepakati, bahwa diperbolehkannya kendaraan lebih dari 60 ton melintas itu hanya untuk hari ini saja (kemarin). Jadi, besok (hari ini) sudah tidak boleh lagi,” ucapnya.

Sementara, terkait kondisi alat timbang yang dimiliki PT ASDP, tutur dia, hal tersebut alat tersebut sudah diuji terra. Sehingga, memiliki tingkat akurasi yang cukup tinggi. “Sebenarnya, jika alat timbang itu sudah teruji, sudah diterra ulang. Akurasinya mencapai 98 persen,” katanya. Sementara itu, Ketua DPC Gapasdap Merak, Togar Napitupulu mengatakan, insiden tersebut cukup merugikan khususnya terkait pendapatan pengusaha angkutan pelayaran. Meski hanya berlangsung beberapa jam, namun aksi mogok yang dilakukan sopir truk mengurangi pendapatan pengusaha angkutan penyeberangan.
Karena, ujar dia, insiden tersebut pendapatan pihaknya berkurang. “Karena, kami kan konsisten, aturan pemerintah kan apapun yang terjadi kami harus tetap berjalan tidak boleh engker. Sebenarnya, berat beban truk itu tak berpengaruh pada kapal atau juga berdampak pada keselamatan pelayaran, yang penting bagaimana nanti diatur posisinya saat di dalam kapal. Agar kapal seimbang,” ucapnya. (H-43)***


Sekilas Info

Guru Tingkatkan SDM Kota Cilegon

CILEGON, (KB).- Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Cilegon, Edi Ariadi menilai, guru mempunyai andil besar dalam …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *