Kamis, 19 Oktober 2017

Penghasilan Nelayan Tengkurak Merosot

Sungai Ciujung kerap tercemar limbah industri. Akibatnya, penghasilan sejumlah nelayan di Desa Tengkurak, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, berkurang. Sedikitnya 200 kepala keluarga menggantungkan hidupnya dari hasil mencari ikan. Pantauan Kabar Banten, saat sampai di sekitar aliran Sungai Ciujung tercium bau menyengat seperti air got. Setelah didekati, tampak air tersebut berwarna hitam pekat dan berminyak di permukaannya. Selain itu, tampak pula bangkai-bangkai ikan yang mengambang di permukaan sungai.

Tak banyak aktivitas nelayan yang mencari ikan sore itu. Kapal-kapalnya pun lebih banyak bersandar di pinggiran sungai. Beberapa nelayan yang memaksa mencari ikan tampak pulang dengan wajah kecewa, sebab penghasilan mereka jauh berkurang.  Bergeser sedikit memantau ke Kecamatan Tanara, aliran Sungai Cidurian pun kondisinya tidak jauh berbeda.

Nelayan asal Kampung Tengkurak, Desa Tengkurak, Kecamatan Tirtayasa, Aspari mengatakan, jika jumlah ikan di aliran Sungai Ciujung kini sudah jauh berkurang. Bahkan bisa dikatakan sudah tidak ada ikan di sungai tersebut. “Sudah enggak ada ikan mah sekarang di sungainya (muara). Sudah pada mati, soalnya banyak limbah dari pabrik,” ujar Aspari saat ditemui di lokasi, Rabu (9/8/2017).

Dia lebih memilih tidak melaut dan berkumpul bersama teman-teman nelayan lainnya. Ia mengatakan, saat ini jika ingin mendapatkan ikan, nelayan harus menempuh jarak yang cukup jauh ke tengah laut. Padahal dahulu, nelayan tidak perlu sampai ke tengah laut untuk bisa mendapatkan ikan. “Ke laut itu lumayan sekitar 3 kilometer dari kampung kami ini,” ucapnya.

Menurutnya, dulu para nelayan bisa mendapatkan ikan puluhan kilogram. Penghasilan bersih sekali melaut dahulu bisa mencapai Rp 200.000-300.000 setelah dikurangi solar. “Kalau sekarang paling 2-3 kilogram dapat ikannya. Kalau dijual itu palingan dapat Rp 30.000. Turunnya drastis sekarang mah,” katanya.

Cemas penghasilannya yang terus merosot, pihaknya pun sudah menyampaikan keluhan kepada pemerintah setempat. Bahkan sudah berulang kali pihak pemerintah datang ke kampungnya untuk sekadar mengambil sampel air, namun tak ada tindak lanjutnya. “Sampai sekarang airnya tetap saja hitam. Kena limbah itu bukan baru kali ini tapi sudah puluhan tahun, tapi akhir-akhir ini yang paling parah. Di sini ada sekitar 200 kepala keluarga, dan dominannya nelayan,” tuturnya.

Nelayan lainnya, Siman mengaku sangat terganggu dengan limbah yang mencemari Sungai Ciujung. “Ini sudah ada seminggu mah, sampai enggak tahu ini yang ke berapa karena sering sekali,” kata Samin.
Menurutnya, sejak limbah sering mengalir ke sungai, warga sekitar sudah tidak berani mandi di sungai. Mereka lebih memilih mandi di areal pelelangan ikan, sebab di sana ada sumur yang dibuat oleh pemerintah, meski harus antre karena jumlahnya terbatas. “Takut gatal-gatal kalau mandi di sini. Orang dicium saja sudah bau, ikan pada mati, apalagi buat mandi,” tuturnya.

Siman mengenang, sebelum limbah masuk ke sungai, ikan sangat mudah ditemukan di sana. Bahkan warga pun sering menggunakan air sungainya untuk memasak, mencuci beras, baju dan lainnya. “Dulu mah cari ikan dapat 1 kuintal sekali melaut. Sekarang sudah enggak ada ikannya. Pada mati, ada yang ke laut juga,” ucapnya.

Warga lainnya, Yani, menuturkan hal yang sama. Dirinya pun tak habis pikir mengapa perusahaan-perusahaan tega membuang limbahnya ke sungai. Padahal air sungai saat ini sedang dangkal, sehingga sudah tidak mampu mengalirkan lagi ke laut. “Pengennya sih kaya dulu lagi, jernih dan banyak ikannya. Sejak ada limbah, penghasilan mencari ikan juga berkurang. Mau gimana lagi,” tuturnya.(Dindin Hasanudin)***


Sekilas Info

Tumpukan Sampah di Sungai Cibanten, Kesadaran Warga Rendah

SERANG, (KB).- Wali Kota Serang, Tubagus Haerul Jaman, mengatakan, tumpukan sampah di Sungai Cibanten, di Kampung …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *