Rabu, 20 September 2017

Pancasila Harga Mati sebagai Ideologi Bangsa

PANCASILA sebagai ideologi negara merupakan pilihan final bangsa Indonesia yang perlu dijaga dan dilestarikan dalam kehidupan berbangsa serta bernegara. Selain itu juga Pancasila yang membesarkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan keanekaragaman ditengah perbedaan menjadikan kekuatan untuk meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa. Sejalan dengan pandangan bangsa, Mahasiswa Latansa Mashiro Rangkasbitung, Kabupaten Lebak menegaskan, Pancasila sudah menjadikan harga mati sebagai ideologi bangsa Indonesia yang beranekaragaman serta perbedaan suku, agama, budaya, dan bahasa.

“Kami siap melakukan perlawanan jika ada kelompok tertentu yang berkeinginan mengubah Pancasila,” kata Ketua Bidang Kemahasiswaan Latansa Mashiro Rangkasbitung Muhammad Husen saat dihubungi di Lebak, Kamis (18/5/2017). Husen menegaskan, mahasiswa berkomitmen untuk mempertahankan Pancasila sebagai ideologi bangsa. Sebab, Pancasila itu sudah menjadikan harga mati dan tidak bisa diganti atau diubah lagi. Apabila, ada kelompok tertentu yang ingin mengubah ideologi negara, tentu akan berhadapan dengan mahasiswa maupun aparat TNI dan kepolisian.

Namun, pihaknya tetap mengedapankan untuk memberikan pemahaman kebangsaan terhadap kelompok tertentu agar mereka menerima Pancasila.Sebab, Pancasila itu menjadikan bangsa Indonesia cukup besar melalui persatuan dan kesatuan mulai Sabang sampai Merauke. Untuk mengenalkan Pancasila di kalangan mahasiswa Latansa Mashiro Rangkasbitung, kata Husen, pada kegiatan ospek bagi mahasiswa baru melaksanakan kegiatan pembekalan pengetahuan kewarganegaraan maupun wawasan kebangsaan. ”Kegiatan itu tentu bertujuan untuk mencintai terhadap empat pilar kebangsaan antara lain nilai-nilai Pancasila, UUD 45, Kebhinekaan dan NKRI. Selain itu juga saat mahasiswa memasuki kalender belajar tentu diajarkan mata kuliah kewarganegaraan,” ujarnya.

Menyinggung aksi demontrasi dan mengancam keutuhan NKRI di berbagai daerah di tanah air, Husen berharap sebaiknya aksi tersebut dihentikan dan percuma saja menghabis-habiskan tenaga dan biaya.
”Lebih baik masyarakat meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa untuk membangun Indonesia negara maju dan disegani dunia. Kami optimistis Indonesia kedepan menjadi negara besar di dunia dengan ideologi Pancasila itu,” tutur Husen

Dia menjelaskan, selama 72 tahun Indonesia merdeka, banyak kelompok-kelompok tertentu yang ingin mengubah Pancasila sebagai ideologi negara. Misalnya, kelompok gerakan Permesta, DI/TII, RMS di Maluku, Gerakan Aceh Merdeka dan terakhir G 30 S/ PKl. Begitu juga saat ini masih ada yang menggelorakan ideologi komunis, meskipun sudah ada Ketetapan MPR No. XXV Tahun 1966 tentang Larangan Penyebaran Ideologi Komunis.

”Buktinya, meskipun simbol palu arit muncul di mana-nama, dan di kaca-kaca mobil ditempel lambang partai terlarang, hingga kini ideologi Pancasila masih tetap bertahan. Kami menilai Pancasila juga sebagai alat perekat bangsa karena dapat menangkal paham-paham yang ingin memecah belah Indonesia atau paham-paham radikalisme yang ingin mengganti ideologi bangsa kita,” ujarnya. (Nana Djumhana/KB).***


Sekilas Info

Pemberlakuan HET Beras Belum Berpihak ke Petani, Distanbun Naikkan HPP Gabah

LEBAK, (KB).- Pemberlakuan harga eceran tertinggi beras yan dikeluarkan pemerintah pada 1 September lalu lebih berpihak …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *