Header Priangan

Penerima Dana Gurdacil Diduga Fiktif

Friday, 07 Oct 2011 | 05:19:14 WIB

Terkait

PANDEGLANG, (KB).-
Sejumlah akivtis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Pandeglang, mendesak aparat penegak hukum mengusut tuntas adanya kasus dugaan penggelembungan (Mark-Up) jumlah Guru Daerah Terpencil (Gurdacil) dan juga piktif. Pasalnya, dari 533 gudradil yang ada, hampir 65 persen fiktif atau tidak terdaftar di masing-masing sekolah tersebut.
“Aparat hukum harus turun tangan menyelidiki dugaan markup dan Gurdacil yang piktif,” tegas pengurus LSM Mahatidana Pandeglang, E. Sukarna SE, kepada wartawan, kemarin.
Dia mengatakan, desakan agar aparat hukum mengusut kasus ini sangat beralasan, mengingat berdasarkan hasil investigasi yang dilakukannya, dilapangan, dari data-data yang ada, ternyata dari 533 65 persen diantaranya diduga fiktif.
“Jadi hampir 65 persen Gurdacil yang ada dan menerima bantuan sebesar Rp 15 juta/tahunya, itu piktif atau tidak terdaftar di sekolah yang bersangkutan,” tandasnya.
Dikatakan, sebagaimana diketahui tahun 2010 Pemerintah Pusat melalui Menteri Pendidikan (Kemendiknas) dengan Direktur Jendral (Dirjen) Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Kemendiknas tahun anggaran 2010 telah mengeluarkan bantuan kepada seluruh guru yang bertugas di daerah terpencil (gurdacil), sebesar Rp 1.350.000/bulanya per satu orang gurdacil.
“Realisasi pembayaran untuk Gurdacil itu sendiri dilakukan setiap tahun sekali,” katanya.
Sementara salah seorang guru di Kecamatan Pagelaran, yang enggan disebutkan namannya, mengaku, heran karena saat dilakukan pengecekan sebagian nama-nama penerima bantuan Gurdacil berjumlah 7 nama, tidak diketahui keberadaannya alias piktif.
“Saya juga merasa aneh. Kok daftar nama penerima bantuan gurdacil ada dalam daftar, tetapi orangnya tidak ada,” katanya.
Di Sekolah Lain
Hal senada juga disampaikan beberapa kepala sekolah di Kecamatan Patia, Munjul, Angsana dan Sukaresmi. Mereka mengaku kebingungan saat ada aktivis dan LSM yang datang menanyakan nama-nama yang tercantum sebagai penerima tunjangan gurdacil. Pasalnya, nama-nama penerima dana Gurdacil yang etrcantum tidak diketahui guru penerimannya atau tidak mengajar disekolahnya tersebut.
“Kalaupun kenal, nama gurrdacil penerima dana itu mengajar di sekolah lain,” tambah seorang kepsek lainnya. Sekedar diketahui, guru penerima dana gurdacil itu tersebar di 19 kecamatan, diantaranya kecamatan Cimanggu 13 SD, Cibitung 9 SD, Cikeusik 16 SD, Cigeulis 5 SD, Cibaliung 8 SD, Patia 15 SD, Angsana 14 SD, Munjul 8 SD, Sindangresmi 5 SD, Carita 2 SD, Mandalawangi 2 SD, Picung 3 SD, Bojong 1 SD, Panimbang 5 SD, Sukaresmi 11 SD, Jiput 12 SD, Pagelaran 12 SD dan Kecamatan Sobang 3 SD.
Anggaran untuk Gurdacil itu bergulir sejak tahun 2010. Dimana, Disndik Pandeglang telah memperbaharui usulan gurdacil tahun 2009, ke pemerintahn pusat untuk mendapatkan tunjangan kesejahteraan guru daerah khusus (terpencil). Keganjilan mulai terjadi di tahun 2010, dimana ditahun itu jumlah gurdacil mendadak membengkak dari tahun 2009 hanya berjumlah sekitar 100 guru tahun 2010 menjadi 533 guru yang diajukan. (H-38)***

Dibaca : 768 kali
Belom ada komentar pada artikel ini Kirim Komentar Anda

Kirim Komentar Anda



Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.