Selasa, 12 Desember 2017

MEWUJUDKAN KELUARGA SAKINAH DENGAN CINTA KASIH

Diep op den bodem van de ziel van iedere vrow leeft de wens naar liefde en moederschap. Di dalam jiwa setiap wanita yang paling dalam, bersemayam keinginan kepada cinta dan keibuan. (Henriette Roland Holst). Dalam Islam, ikatan keluarga dianggap sebagai pemula kelompok sosial. Oleh karena itu upaya mewujudkan keluarga sakinah merupakan prioritas utama dalam membangun masyarakat Islam yang penuh damai dan sejahtera.

Banyak segi yang harus diperhatikan dalam upaya mewujudkan keluarga sakinah itu. Untuk membahas semua segi dalam waktu singkat dan terbatas ini tidak mungkin. Oleh karena itu, saya hanya memilih satu segi saja, yang saya anggap paling penting dalam membangun keluarga sakinah, yaitu cinta kasih.

Pengertian keluarga

Secara empiris setiap kita pasti mengenal keluarga. Tapi mengacu kepada pengalaman kita pribadi saja bisa menimbulkan generalisasi pengertian keluarga. Apabila kata keluarga dikaitkan kepada hubungan darah, ini juga tidak cukup untuk memahami apa itu keluarga. Karena pengertian keluarga secara umum dapat juga memasukkan orang yang tidak ada hubungan darah; misalnya anak angkat adalah bagian dari keluarga. Dalam beberapa kasus, teman-teman lama dalam beberapa struktur kekeluargaan, dipandang sebagai bagian dari keluarga.

Bahkan dalam Kamus Istilah Fiqh yang disusun Abdul Mujib dkk., disebutkan bahwa orang-orang yang masih ada hubungan keturunan atau nasab, baik ke atas maupun ke bawah, baik yang termasuk ahli waris maupun tidak termasuk ahli waris, adalah keluarga. Pengertian ini sudah tentu sangat umum. Dalam Merriam-Webster’s Collegiate Encyclopedia keluarga didefinisikan juga sebagai unit sosial dasar yang terdiri dari pribadi-pribadi yang disatukan oleh ikatan perkawinan, hubungan darah, atau adopsi dan biasanya mewakili suatu rumah tangga tunggal (representing a single household). Esensi dari kelompok keluarga adalah bubungan orangtua-anak.

Apa sebenarnya pengertian keluarga yang sedang kita bicarakan sekarang, terutama yang kita fokuskan pada upaya membentuk keluarga sakinah?

Adapun pengertian keluarga yang akan menjadi acuan kita adalah definisi Claude Lévi-Strauss yang merumuskan bahwa yang disebut keluarga itu adalah suatu kelompok masyarakat dengan ditandai tiga karakteristik yang sering kita saksikan, yakni: (1) berasal dari perkawinan; (2) ia terdiri dari suami, isteri dan anak-anak yang lahir dari perkawinan itu; (3) anggota keluarga disatukan: (a) dengan hubungan yang sah; (b) dengan hak dan kewajiban secara ekonomis, keagamaan atau lainnya; (c) dengan pertalian yang jelas berkaitan dengan kewajiban dan larangan hubungan seksual, dan adanya perasaan bersama seperti cinta kasih, ketertambatan hati, penghormatan, kekhawatiran dan sebagainya.

Demikian yang ia tulis dalam buku Dictionnaire Economique et Sociale yang disusun oleh Bremond dan Geledan. Pendek kata, keluarga adalah suatu sub-sistem dari organisasi sosial yang terbuka pada masyarakat dengan peran yang dimainkan anggota-anggota keluarga. Namun keluarga dibedakan dari organisasi sosial-organisasi sosial yang lain dengan peran, solidaritas dan fungsi khusus. Mendefinisikan keluarga seperti di atas mengandaikan suatu bukti model tingkah laku budaya bersama yang mengatur hubungan suami-isteri, ayah-anak, ibu-anak, orangtua-anak, saudara-saudari, dll.

Perkawinan yang sah adalah pintu masuk

Keluarga dalam Islam merupakan wadah kehidupan yang sangat terhormat dan amat dimuliakan. Salah satu fasenya yang paling menentukan dalam pembentukan keluarga adalah perkawinan. Tujuannya adalah untuk membina kehidupan yang tenteram dengan penuh kedamaian dan kebahagiaan. Dengan kata lain tujuan perkawinan adalah untuk membangun keluarga sakinah.

Dalam Alquran Allah telah mengajarkan kepada kita bahwa di antara tanda-tanda kekuasaannya adalah kehidupan bersama laki-laki dan perempuan dalam sebuah perkawinan. Masing-masing merasa tenteram hatinya dengan adanya pasangan itu. Semuanya merupakan modal paling berharga dalam membina rumah tangga bahagia. Dengan adanya rumah tangga yang bahagia, jiwa dan pikiran menjadi tenteram, tubuh dan hati mereka menjadi tenang, kehidupan dan penghidupan menjadi mantap, kegairahan hidup akan timbul, dan ketenteraman bagi laki-laki dan perempuan secara menyeluruh akan tercapai.

Dalam Undang-undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974, tujuan perkawinan juga adalah membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Untuk itu suami isteri perlu saling membantu dan melengkapi, agar masing-masing dapat mengembangkan kepribadiannya membantu dan mencapai kesejahteraan spiritual dan meteril. Dalam undang-undang tersebut juga dinyatakan bahwa sahnya perkawinan apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu; kemudian dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Cinta kasih sebagai landasan

Untuk membangun keluarga sakinah, Allah telah menanamkan dalam diri setiap manusia dua unsur kejiwaan yang paling berharga, yaitu mawaddah dan rahmah. Dalam kitab Alquran dan Tafsirnya Jilid 7 yang diterbitkan oleh Kementerian Agama, mawaddah adalah rasa cinta, kasih dan suka; sedangkan rahmah adalah rasa sayang, menaruh kasihan. Ibnu Abbas mengatakan dalam kitab Shafwatut Tafasir karangan Muhammad Ali al-Shabuni Jilid II, bahwa mawaddah adalah cinta kasih suami terhadap isterinya, sedangkan rahmah adalah perasaan belaskasihan suami terhadap isterinya apabila kemalangan menimpanya.

Dalam satu keluarga yang diikat kasih sebagai ikatan yang amat kokoh, setiap anggota keluarga akan merasa sebagai bagian yang tak terpisahkan dari keluarga itu. Konsekwensinya ialah bahwa setiap kepentingan keluarga akan dianggap sebagai kepentingan sendiri, kerugian kelauarga akan dianggap sebagai kerugian sendiri, kebaikan dan keuntungan keluarga akan dianggap sebagai kebaikan dan keuntungannya sendiri.

Dalam keluarga kebahagiaan anggotanya akan dianggap sebagai kebahagiaan dirinya sendiri, sedangkan penderitaan anggotanya akan dianggap sebagai penderitaan dirinya sendiri. Dengan begitu setiap kegembiraan dan penderitaan dapat dibagi bersama. Hanya keluarga yang keutuhan dan kesatuannya berdasar pada ikatan cinta kasih, akan sanggup terus berdiri dengan teguh dan kokoh kendati harus tetap berjuang untuk mengatasi berbagai tantangan yang sukar dan berat. Karena keluarga diikat oleh cinta kasih yang begitu mendalam dan setiap kegembiraan maupun penderitaan dapat dibagi bersama, maka egoisme dan egosentrisme yang berlebihan akan dapat disingkirkan.

Merawat cinta kasih

Cinta kasih antara suami isteri tidak sama dengan cinta kerabat yang dihubungkan dengan pertalian darah. Cinta kasih antara suami isteri itu adalah sesuatu yang dinamis, yang perlu dirawat supaya tetap hidup dan tumbuh. Dalam masa 5-10 tahun akan terasa oleh orang-orang yang bersangkutan bagaimana cinta kasih itu telah menjadi lebih mendalam daripada waktu mula-mula kawin atau ia telah menjadi layu, dingin, men-dekati proses kematiannya.

Dalam sebuah perkawinan yang baik dan bahagia, cinta kasih selalu tumbuh sebagai hasil perawatan dan pemeliharaan yang baik. Oleh karena itu, suami dan isteri sejak awal kehidupan perkawinan harus sama-sama menyadari bahwa cinta kasih itu adalah barang yang hidup. Jangan dibiarkan ia layu dan mati. Apabila ia mati, usaha menghidupkannya kembali, meskipun bukan hal yang mustahil, akan menjadi ikhtiar yang sangat berat dan tidak mudah.

Mengasuh anak dengan penuh cinta kasih

Mengasuh anak adalah membesarkan, menjaga dan mendidiknya. Masa kanak-kanak dalam Islam digambarkan sebagai suatu keindahan dunia yang diliputi oleh kebahagiaan, keindahan, cita-cita, cinta dan fantasi. Banyak ayat Alquran yang menunjukkan kecintaan Allah terhadap anak. Anak yang baru lahir di dalam Alquran dikatakan sebagai sebuah berita yang menggembirakan, dan mereka merupakan penghibur kita. Nabi Muhammad SAW melukiskan kepada kita bahwa dunia anak-anak seolah-olah kehidupan surga. Memelihara anak merupakan kebutuhan hidup dan mencintai mereka mendekatkan diri kepada Allah.

Ikatan yang kuat antara orangtua dan anak-anaknya merupakan salah satu bentuk hubungan antar manusia yang paling teguh dan mulia. Allah telah memelihara dan menjamin agar hubungan kuat tersebut langgeng dan berkembang sebagai upaya untuk menjaga kelangsungan hidup manusia dan memantapkan eksistensinya.

Cinta kasih orangtua kepada anak-anaknya tidak boleh sama sekali diselingi oleh keraguan. Cinta semacam itu merupakan tanda Ketuhanan dan suatu rahmat yang besar bagi kemanusiaan. Cinta kasih tersebut adalah cahaya yang diberikan oleh Allah kepada mereka. Cinta kasih orangtua terhadap anaknya diwujudkan dalam asuhannya, yakni membesarkan, menjaga kelangsungan hidupnya, dan mendidiknya serta menikahkannya. Kesemuanya ini harus dilakukan menurut pola dan tuntunan ajaran agama Islam.

Dari uraian di atas saya ingin menyimpulkan bahwa keluarga sakinah adalah keluarga yang dibangun dengan ikatan pernikahan yang sah kemudian terus mengembangkan dan melestarikan cinta kasih: antara suami-isteri dan orangtua-anak. Dalam keluarga sakinah, pengasuhan anak dilakukan dengan penuh cinta kasih serta berpedoman kepada ajaran Allah. Dengan menyadari betapa pentingnya cinta kasih dalam mewujudkan keluarga sakinah, setiap kita akan dapat berupaya memupuk dan memeliharanya seraya mengikis sikap egois dan egosentris kita. Dengan demikian setiap anggota keluarga menyadari akan hak dan kewajiban masing-masing. (A.M.ROMLY/Ketua Umum MUI Provinsi Banten)***


Sekilas Info

Lebak Menuju Kabupaten Ramah Anak

Saat mendengarkan nama-nama siswa berprestasi yang dicapai dalam berbagai cabang lomba, baik olah raga, karya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *