Sabtu, 18 November 2017
Nenek Wati saat melakukan aktifitas di rumah gubuk sempit berukuran 3x4 meter miliknya di Samping Rel Tanah Milik PT KAI, Lingkungan Sumur Pecung, Kota Serang, Jumat (20/10/2017).*

Mengaku Pernah Mengasuh Megawati, Nenek Berusia 110 Tahun Hidup Sebatang Kara

Seorang nenek renta berusia 110 tahun hidup sebatang kara di pinggir rel kereta api Lingkungan Sumur Pecung, RT/RW 03/01 Kelurahan Sumur Pecung, Kecamatan Serang, Kota Serang. Nenek bernama Wati itu, saat ini tinggal di gubuk sempit berukuran 3 x 4 meter.  Ia mengaku lahir di Cikampek. Setelah menikah dengan seorang lelaki asal Yogyakarta, berakhir perceraian 15 tahun lalu tanpa dikaruniai anak. Sementara itu, saudara-saudaranya pun telah berpulang.

Dia mengatakan, saat usia 8 tahun pernah tinggal di Istana Negara, Jakarta bersama ayahnya bernama Amsar, yang bertugas sebagai tukang sapu istana. Selama tinggal di istana, Wati mengaku pernah mengasuh tiga anak Soekarno, yaitu Megawati Soekarno Putri, Guntur Soekarno Putra, dan Guruh Soekarno Putra. “Waktu saya berusia 8 tahun, Megawati masih kecil, saya juga tidak begitu mengingat pengalaman itu secara detail,” kata Wati saat ditemui dirumahnya, Jumat (20/10/2017).

Saat Soekarno meninggal dunia, dia menuturkan, ayahnya ikut dalam rombongan yang akan memakamkan Soekarno di Blitar. Sebelumnya, ia akan diajak ikut bersama rombongan, namun kemudian dilarang oleh orang tuanya. Maka, ia pun tak sempat melihat makam Bung Karno. “Terus sekitar dua bulan bapak saya mengantar jenazah pak Soekarno, beliau pun meninggal. Saya langsung pindah dari Jakarta ke Serang sekitar 40 tahun lalu,” ujarnya.

Saat itu, lanjutnya, daerah yang ditinggalinya masih berupa hutan. Masih banyak babi dan ular yang dapat ditemui, dan warga pribumi Serang sering heran melihatnya berani tinggal di gubuk di tengah hutan seorang diri. “Dulu kata orang, ibu berani amat tinggal di sini. Ya yang penting nggak ngeganggu,” ujar Wati.

Saat tenaganya masih kuat, Wati berjualan sayuran dan ikan dengan berkeliling ke kampung-kampung. Tapi kini, dia sudah tak kuat lagi dan kini sehari-harinya hanya berjualan makanan ringan anak-anak, dengan menggunakan tampah di depan gubuknya. “Sehari bisa dapat Rp 10 ribu dari jualan jajanan anak-anak,lumayan dapat Rp 10 ribu buat jajan sama buat makan nasi,” ucap Wati.

Sementara itu, salah seorang tetangga Wati, Dedi menjelaskan, nenek Wati memang hanya hidup sebatang kara. Ia tidak memiliki saudara maupun keluarga. Maka, Ketua RT 03 Lingkungan Sumur Pecung memintanya menjamin bila ada apa-apa dengannya. “Jadi kami juga disuruh Pak RT buat menjaga nenek. Dari dulunya dia di sini. Kalau saya baru empat tahun tinggal di sini,” ujarnya.

Gubuk yang dihuni nenek Wati, lanjutnya, memang sudah banyak yang rusak. Terlihat atapnya banyak yang bolong dan jika hujan turun air akan banyak masuk. Sempat ia beberapa kali menutupi atap gubuk sang nenek menggunakan terpal agar air hujan tidak akan masuk.(Tresna Mulyawati)***


Sekilas Info

Uang Rp 60 Juta Milik Panwaslu Digondol Maling

SERANG, (KB).- Kasus pencurian dengan modus pecah kaca terjadi di depan kantor Panwaslu Kabupaten Serang Jalan …

One comment

  1. Jika ap yg d katakan oleh nenek Wati itu smua benar semoga ibu Mega Wati bisa membalas budi baik nenek Wati, meskipun hanya sekedar menjenguk…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *