Sabtu, 16 Desember 2017

Maut Dibalik Rel Kereta Api Saketi-Bayah

Ratusan tahun silam, kereta pernah menjadi salah satu moda transportasi utama. Lebih dominan digunakan untuk mengangkut barang dagangan atau hasil pertambangan di bumi nusantara. Dalam catatan sejarah, rel kereta banyak dibangun saat pendudukan Belanda dan Jepang. Hampir semua jalur kereta yang ada di Indonesia merupakan peninggalan kedua negara tersebut.

Salah satu jejak yang masih tersisa yakni jalur kereta api Saketi, Kabupaten Pandeglang ke Bayah, Kabuputen Lebak. Jalur kereta yang dibangun pada masa pendudukan Jepang ini masih bisa dikunjungi, hanya saja lahan maupun jalurnya sudah banyak yang rusak, beralih fungsi, dan ditempati menjadi permukiman warga.

Menurut Direktur Banten Heritage, Dadan Sujana, jalur Saketi-Bayah memiliki panjang kurang lebih 89 kilometer. Pembangunannya terjadi antara 1943 sampai 1944, artinya dikebut hanya dalam kurun waktu 14 bulan. “Dibangun pada 1943 sampai 1944,” katanya kepada Kabar Banten, kemarin. Pembangunan jalur ini banyak melibatkan ribuan romusha yang didatangkan dari wilayah Jawa seperti Purworejo, Kutoarjo, Purwodadi, Semarang, dan Yogyakarta. Tidak sedikit romusha meninggal saat mengerjakan proyek ini. “Kebanyakan Romusha yang didatangkan berasal dari wilayah Jawa, kalau dari Banten tidak ada,” ucapnya.

Rel kereta tersebut sengaja dibangun Jepang untuk menjadi akses utama mengangkut batu bara dari wialayah Bayah. Saat itu, di Bayah terdapat tambang batu bara yang potensinya bisa menghasilkan 20-30 juta ton dengan ketebalan 80 sentimeter. Romusha dibayar dengan upah sangat tidak layak. Setiap harinya hanya mendapatkan uang 40 sen dan 250 gram beras setiap hari. Kala itu, uang 40 sen hanya cukup membeli satu pisang. Pekerjaan tidak manusiawi itu akhirnya menewaskan kurang lebih 500 romusha. “Mereka dipekerjakan, mereka terus membuat jalan kereta,” katanya.

Penderitaan romusha di Bayah terekam oleh salah satu pejuang Republik Indonesia, Tan Malaka. Tan Malaka menjadi saksi kebringasan Militer Jepang terhadap Romusha saat pergi ke daerah ini. Untuk menghindari deteksi militer Jepang, saat itu ia terpaksa menyamar. “Pada zaman Jepang itu memang tidak lama, 3,5 Tahun, tapi dia sedih sekali lah. orang-orang romusa ini kabarnya pada masa itu hidupnya juga susah makan, tidak teratur dan lain sebagainya,” ujarnya. (Sutisna/”KB”)***


Sekilas Info

Wisata Religi Dalem Wong Sagati

Umat Islam di berbagai penjuru dunia sangat bersuka cita dengan masuknya bulan Rabiul Awwal, atau …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *