Sabtu, 18 November 2017
Sejumlah petugas Dishub Cilegon dan Satlantas Polres Cilegon mengatur lalu lintas di jalur protokol yang sedang terjadi kemacetan. Persoalan kemacetan dinyatakan telah memberikan sumbangan tinggi terhadap inflasi di Kota Cilegon.*

Mahalnya Biaya Hidup di Kota Cilegon

Perubahan besar hampir terjadi di semua tingkatan kehidupan masyarakat Cilegon. Gaya hidup warga pun mau tidak mau ikut terpengaruh, ini memaksa mereka untuk merogok kantong lebih dalam.
Pembangunan infrastruktur memang sedang marak di Kota Cilegon. Jalan raya yang dahulu karut marut karena rusak, kini kokoh berbahan beton.

Tidak hanya di jalan raya, betonisasi pun masuk ke jalur-jalur alternatif. Hal itu berpengaruh pada kehidupan ekonomi masyarakat, memicu kemunculan para pengusaha amatir yang mencoba keberuntungan membuka usaha bisnis, jasa, kuliner, dan lain-lain. Dunia investasi juga berkembang hingga tingkatan terendah. Para pemilik rumah kos berlomba meningkatkan kualitas bangunan, bahkan kini telah ada apartemen khusus masyarakat asing.

Jelas saja, biaya hidup warga yang tinggal di rumah kontrakan dan kos semakin menjulang tinggi. Biaya konsumsi rumah tangga pun ikut naik, tidak jarang warga Cilegon yang merogok uang antara Rp 3 juta hingga Rp 5 juta setiap bulan. “Di Cilegon ini bukan harga-harga barang yang mahal, tapi gaya hidup yang semakin tinggi. Kami tidak memiliki pilihan lain, karena menghindari pergaulan sosial hal paling sulit,” ujar Didit Sianipar (27), seorang penghuni rumah kos di Tegal Cabe, Citangkil, Cilegon.

Pria yang berprofesi sebagai karyawan swasta di salah satu perusahaan ternama Kota Cilegon, telah tinggal beberapa tahun di rumah kos itu. Ia mengatakan, pemilik kos sering menaikkan harga di setiap tahun. “Dulu perbulan sempat Rp 700.000, sekarang sudah Rp 950.000. Saya juga ambil paket laundry, sehingga per bulan Rp 1,1 juta,” ucapnya.

Dengan penghasilan Rp 3,5 juta per bulan, Didit yang masih mencari jodoh ini tidak memiliki masalah dengan biaya rumah kos. Masih tersisa Rp 2,4 juta untuknya menjalani hidup per bulan. Terlebih pendapatannya tidak hanya dari gaji, dia pun mendapatkan tunjangan dan bonus, sehingga total pendapatannya rata-rata Rp 4 juta hingga Rp 5 juta.

Namun menurut Didit, biaya kebutuhan sehari-hari secara tidak disadari telah menggerogoti isi kantong. Kebiasaan mendatangi tempat hiburan setiap akhir pekan, atau nongkrong di kafe pada malam hari, membuat biaya hidup bengkak. “Kadang kalau ada film bagus, saya ke bioskop. Di sana beli makanan biar nyaman nonton, keluar dari bioskop bisa menghabiskan Rp 300.000. Makan pun di restoran, jadi keluar mal habislah Rp 500.000.

Ke tempat hiburan lebih mahal lagi, bisa habis Rp 1 juta. Padahal itu sudah patungan dengan kawan,” tuturnya. Berbeda dengan Sartini (32), warga Temu Putih, Kecamatan Cilegon. Ibu dengan dua anak ini tidak pernah foya-foya dalam hidup. “Terpenting untuk saya, menyenangkan anak. Juga memenuhi kebutuhan rumah tangga,” tuturnya.

Namun biaya kesenangan anak ternyata cukup mencekik. Godaan sang anak untuk memiliki barang yang dimiliki temannya, sulit ditahan oleh Sartini. “Ingin sepeda, gawai, game, main ke mal, itu sulit saya larang. Setiap akhir pekan saya bisa keluar uang Rp 200.000 hanya untuk satu anak. Kebetulan si bungsu sudah SMP, kakanya SMA,” tuturnya.

Dahi Sartini kerap mengerut di setiap awal bulan. Tingginya tagihan listrik, air, serta biaya dapur mengeruk hampir 70 persen gaji sang suami. “Listrik saja sudah Rp 700.000 per bulan, belum biaya pulsa internet, pulsa selular, beras, bumbu dapur. Pusing pokoknya,” ucapnya. Setiap bulan, kata Sartini, biaya yang dibutuhkan rata-rata Rp 3 juta. Itu pun belum untuk biaya tidak terduga, seperti dokter, kegiatan sekolah, dan lain-lain. “Tidak jarang saya ngutang ke warung sebelah. Ini ketika uang habis duluan sebelum tanggal gajian suami,” tuturnya.

Biaya hidup di Kota Cilegon saat ini terbilang cukup tinggi. Dengan rata-rata per bulan Rp 3 juta hingga Rp 5 juta, menyebabkan inflasi di Kota Cilegon melebihi inflasi nasional. Diketahui, tingkat inflasi di Kota Cilegon mencapai 5,67 persen, sementara inflasi nasional 3,72 persen.

Tekan inflasi

Penjabat Kepala Bank Indonesia Perwakilan Banten Achris Sarwani mengatakan, tingginya inflasi di Cilegon telah disikapi. Tim Pemantau Inflasi Daerah (TPID) Cilegon telah mengambil langkah, semua pihak dikumpulkan untuk segera menekan angka inflasi. “Karena inflasi di Cilegon tinggi, BI selaku bagian dari TPID segera turun tangan untuk menyikapi hal ini,” katanya.

Menurut Achris, perkembangan pembangunan yang terbilang serentak di Kota Cilegon, pemicu utama tingginya inflasi. Terlebih Cilegon memiliki ketergantungan terhadap hasil produksi dari luar wilayah. “Mulai dari kebutuhan dapur, hingga sedotan minuman harus didatangkan dari luar Cilegon. Sehingga membuat tingkat kebutuhan Cilegon terhadap produksi luar daerah tinggi,” tuturnya.

Kemacetan parah pun memberikan sumbangan tinggi terhadap inflasi. Menurut Achris, kemacetan membuat biaya transportasi masyarakat Cilegon naik dua kali lipat. “Survei menyatakan bahwa seseorang untuk tiba di tempat tertentu, membutuhkan waktu dua kali lipat dari biasanya. Tingginya tingkat kemacetan membuat warga harus merogok uang dua kali lipat akibat hal ini,” tuturnya.

Ia pun memberikan sejumlah saran kepada Pemkot Cilegon, menyikapi persoalan inflasi tinggi. Salah satunya memperkuat kerja sama dengan daerah penyuplai barang produksi. “Tujuannya, agar distribusi barang untuk Kota Cilegon tidak terganggu. Dengan begitu tidak terjadi kelangkaan atau kenaikan harga,” tuturnya.

Ia mengimbau agar seluruh pihak terkait mempererat koordinasi guna menangani masalah inflasi di Kota Cilegon. Pihaknya pun akan terus memberikan pembinaan guna mengeluarkan kota baja dari zona merah inflasi. “Saya apresiasi, tingkat koordinasi antar instansi di Kota Cilegon terhadap harga pasar sudah bagus. Ini harus di pertahankan,” tuturnya.

Namun begitu, Achris membantah adanya penurunan daya beli masyarakat, Ia pun menilai hal tersebut tidak ada sangkut paut pada inflasi di Kota Cilegon. “Kami melihat masyarakat Cilegon rata-rata berpenghasilan tinggi. Jadi tidak ada penurunan kesejahteraan yang menyebabkan penurunan daya beli. Inflasi sendiri yang kami lihat, terpengaruh dari tingkat kemacetan dan tata niaga itu,” tuturnya. (Sigit Angki Nugraha)***


Sekilas Info

Bedah Buku “Dari Desa untuk Indonesia”

DINAS Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) Kota Cilegon menggelar bedah buku “Dari Desa untuk Indonesia” …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *