Sabtu, 16 Desember 2017

Libatkan Pelaku Industri Kreatif dalam Pengelolaan Wisata

Pemerintah Provinsi Banten maupun pemerintah kab/kota harus memiliki terobosan dalam mengembangkan sektor pariwisata. Salah satunya dengan melibatkan industri kreatif dalam pengelolaan pariwisata. Hal itu mengemuka pada seminar internasional bertajuk “Industri Kreatif, Seni, dan Pariwisata, Sebuah Perbandingan Prancis dan Banten” yang diselenggarakan di Auditorium Untirta, Selasa (1/8/2017).

Seminar yang dibuka Wakil Rektor IV Untirta Prof. Dr. Ir. Kartina tersebut menghadirkan sejumlah narasumber yakni Dekan FISIP Untirta Dr. Agus Sjafari, Peneliti Wayang Golek asal Prancis, Dr. Sarah Andreu, Peneliti Pencak Silat Banten, Dr. Gabriel Fascal, dan Ketua Umum Banten Homestay Assosiation Muhammad Arif Kirdiat. Seminar yang dimoderatori Rachmat Ginandjar (Direktur HU Kabar Banten) dihadiri juga Sekretaris Dinas Pariwisata Banten Wadiyo, akademisi, mahasiswa, dosen, dan para pelaku pariwisata. “Saya pikir perlu ada terobosan yang sifatnya komprehensif dalam mengembangkan industri kreatif dan destinasi wisata di Banten,” kata Agus Sjafari.

Ia mengatakan terobosan yang dimaksud antara lain dalam bentuk kebijakan proteksi dari pemerintah daerah. Misalnya, ucap dia, mewajibkan pengelola tempat-tempat pariwisata, restoran, dan hotel untuk menyediakan makanan khas dan hasil industri kreatif khas Banten. Selain juga menampilkan pentas seni dan budaya daerah. “Ini merupakan salah satu bentuk mendekatkan industri kreatif dengan objek wisata,” katanya. Agus menuturkan, dengan demikian, perlu dibangun sinergitas di antara pelaku utama (pemerintah daerah, perbankan, swasta, pengelola wisata, praktisi insdustri kreatif) sebagai penggerak dalam industri kreatif dan destinasi wisata.

“Dengan adanya beberapa solusi strategis yang dilakukan oleh semua stakeholder yang terlibat dalam industri kreatif dan destinasi wisata tersebut, maka provinsi akan memperoleh kontribusi yang sangat besar dari kedua sektor tersebut,” ujar Agus. Menurut dia, Banten memiliki nilai jual ekonomi yang sangat tinggi, melihat kejayaan kerajaan masa lalu. Ia mengatakan nilai – nilai sejarah yang melekat pada Provinsi Banten masa lalu ternyata memberikan keuntungan dalam mengelola industri kreatif dan destinasi wisata yang menarik. “Brand image masyarakat di luar Banten ketika mendengar Provinsi Banten selama ini sangat positif, meskipun dalam beberapa hal terdapat image yang negatif antara lain: jawara, pencak silat, Baduy, Banten Lama, Batik Banten (Baduy), sate bandeng, wisata pantai dan sebagainya,” ucapnya.

Ketua Umum Banten Homestay Assosiation Muhammad Arif Kirdiat mengatakan, Banten memiliki potensi yang luar biasa dalam pariwisata. Namun demikian, berbagai permasalahan masih melilit pariwisata Banten. Antara lain soal sarana prasarana pariwisata seperti toilet, sampah dan akses jalan.
“Bagaimana wisatawan betah berkunjung ke objek wisata Banten jika kondisi tidak nyaman. Akibatnya, wisatawan enggan datang kembali,” ucapnya.

Ia melihat salah satu peluang dalam memajukan wisata yakni adanya kecenderungan wisatawan yang suka menginap di homestay bukan di hotel. “Jumlah wisatawan backpacker ini lumayan besar, tinggal bagaimana pemerintah mampu membuat regulasi yang memungkinkan masyarakat lokal turut terlibat.
“Banyaknya jumlah akomodasi murah yang ditawarkan untuk backpacker menimbulkan persaingan yang semakin meruncing. Kadang tidak memberikan pendapatan yang berarti bagi pemilik akomodasi saat musim tamu sepi,” tuturnya.

Oleh karena itu, dia menyarankan pemerintah daerah dapat menata kembali aturan-aturan mengenai cara mendisiplinkan wisatawan asing yang datang ke wilayah kawasan pariwisata Banten untuk menjaga ketertiban dan keharmonisan antara wisatawan dengan masyarakat lokal, pemerintah wilayah kabupaten dan provinsi yang dilakukan penertiban terhadap perizinan akomodasi murah.
“Sebetulnya sudah ada Ingub No.1 /2006 mengenai pariwisata dan pemerataan infrastruktur bagi peningkatan ekonomi masyarakat lokal demi terciptanya pemerataan pembangunan dalam pariwisata yang berkelanjutan. Tinggal bagaimana Ingub tersebut dilaksanakan,” katanya.

Peneliti Wayang Golek asal Prancis, Sarah Andreu mengatakan, Indonesia kaya akan seni dan budaya Indonesia. Salah satunya wayang golek yang ada di Jawa Barat. “Pagelaran wayang golek adalah sebuah contoh bagaimana budaya lokal bisa melibatkan semua bidang kehidupan masyarakat,” ujarnya. Menurut dia, demikain halnya juga dengan seni dan budaya lain seperti di Banten. Namun dia mengingatkan jika seni dan budaya dijadikan sebagai industri maka harus dilakukan secara baik dan hati-hati. “Jangan sampai seni dan budaya setelah dijadikan sebagai industri kreatif kehilangan jati dirinya,” ucapnya.

Sedangkan Peneliti Pencak Silat asal Prancis Gabriel Andreu mengatakan, pariwisata di Prancis berkembang maju. “Meskipun tidak ada Menteri Pariwisata tetapi berkembang maju. Ini tentu masalah pengelolaan,” tuturnya. Gabriel mengatakan, dirinya mengaku heran terhadap komitmen pemerintah daerah di Indonesia dalam memajukan pariwisata. Padahal, kata dia, dengan potensi yang besar, semestinya pariwisata Indonesia berkembang maju. “Pencak silat salah satu contohnya. Saya jauh-jauh dari Prancis belajar ke Banten. Semestinya, pencak silat bisa memajukan pariwisata,” kata Gabriel.

Dukungan pemerintah

Menurut dia, salah satu cara untuk berkembang adalah pemberian seminar praktik atau pelatihan langsung di luar negeri. Ada juga, ucap dia, rombongan pesilat yang membuat pertunjukan secara rutin di luar daerah. Lalu, ada dukungan politik dari pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata, budaya atau olah raga yang mendorong perguruan lokal untuk berprestasi di tingkat internasional.  Ia menyarankan agar perlu terobosan dalam pengembangan pencak silat sebagai industri kreatif seperti pengadaan festival, jaringan antar cabang atau antar perguruan melalui media sosial serta keterlibatan dalam organisasi seni yang terstruktur, harus didorong secara resmi oleh semua masyarakat dan terutama oleh pemerintah.

Ia mengatakan, untuk Banten agar memunculkan perkembangan seni bela diri pencak silat (dan beberapa ilmu seni yang lain) tetapi prosesnya harus bertujuan untuk jangka panjang. “Perlu juga perantara dan koordinator yang mahir menilai kebutuhan murid/wisatawan/konsumen dan yang peduli terhadap penahanan perguruan dan kualitas ilmunya,” katanya. Sekretaris Dinas Pariwisata Banten Wadiyo mengapresiasi kegiatan seminar yang mengangkat tentang industri kreatif dan pariwisata Banten. “Kalau DKI Jakarta dan Jawa Barat memiliki destinasi unggulan dan belanja, Banten memiliki seni dan budaya sebagai unggulan wisatanya. Tinggal bagaimana semua elemen bersinergi, dalam membangun dan memajukan pariwisata,” ujarnya.(Sutisna)***


Sekilas Info

Wisata Religi Dalem Wong Sagati

Umat Islam di berbagai penjuru dunia sangat bersuka cita dengan masuknya bulan Rabiul Awwal, atau …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *