Selasa, 12 Desember 2017

KEK Tanjung Lesung Tak Jadi Skala Prioritas, PHRI Dorong Semua Pihak Duduk Bersama

SERANG, (KB).- Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) BPD Banten medorong seluruh unsur seperti Akademisi, Pemerintah, Pelaku Bisnis, Media dan Komunitas, duduk bersama untuk memecahkan persoalan yang membelit pengembangan KEK Tanjung Lesung. Hal tersebut menyusul kebijakan pemerintah yang tak menjadikan KEK Tanjung Lesung dalam skala prioritas.

“Ini kita harus introspeksi, kenapa pemerintah pusat bisa melepas (KEK Tanjung Lesung), berarti ada apa?. Keseriusan kita seperti apa?. Enggak bisa menyalahkan siapa pun, kita harus introspeksi. Kalau introspkesi semuanya,” katanya kata Ketua Harian PHRI BPD Banten, Ashok Kumar kepada wartawan saat dihubungi melalui sambungan seluler, Jumat (1/12/2017).

Ia memandang, selama ini pengembangan KEK Tanjung Lesung terlalu banyak manajemen yang terlibat, akan tetapi aksinya tidak ada. “Karena disana itu single destination, multy management. Satu destinasi tapi manajemennya banyak. Satu kapal harus satu saja nahkodanya. Kalau ada 5 sampai 6, ambruk. Satu bilang kiri, satu kanan. Semua orang ikut campur, tapi engga ada konkritnya. Presiden datang, menteri datang, tapi engga ada action. Kemudian 2018 (KEK Tanjung Lesung) bukan prioritas, nah nanti 2019 katanya. Nanti (2019) kita sudah bicara apa, ada trust yang hilang,” katanya.

Kebijakan pemerintah pusat terhadap KEK Tanjung Lesung tersebut bukan saja perlu direspon oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten, tapi juga perlu menjadi perhatian berbagai kalangan yang dianggap punya peran penting dalam mendorong KEK Tanjung Lesung, seperti akademisi, pelaku bisnis, media, dan komunitas. “Perlu duduk bersama,” ujarnya.

Menurut dia, Pemprov Banten tidak bisa berjalan sendiri dalam mengembangkan KEK Tanjung Lesung. Namun, Pemprov Banten perlu melibatkan unsur pelaku bisnis. Sekalipun KEK Tanjung Lesung sudah ditentukan oleh pemerintah pusat, kalau tidak ada investor maka tidak akan berjalan pembangunannya. “Pemrov Banten tidak bisa sendiri,” tuturnya.

Secara keseluruhan, kata dia, pengembangan wisata di Banten belum memiliki portofolio. Sehingga, kondisi wisata tidak maju secara signifikan. “Kalau perusahaan kan ada targetnya berapa, indeks pendapatan berapa, indeks pengeluaran, pengelolaan bagaimana, kita harus ada. Pemerintah jangan berpikir bisa semuanya, berilah ruang pada pembisnis, investor. Tanjung Lesung sudah ada, investornya engga ada,” katanya.

Selanjutnya, jika nanti KEK Tanjung Lesung sudah dikembangkan, wisata Pantai Anyer juga dibenahi. Karena bukan tidak mungkin pengembangan KEK Tanjung Lesung akan berdampak pada kunjungan wisatawan ke Pantai Anyer. Sebagai contoh, dahulu sebelum ada Pantai Anyer, Pantai Salira Indah menjadi tempat yang sangat terkenal dan diminati oleh masyarakat. Sekarang sudah tidak ada, karena wisata Pantai Anyer berkembang pesat. “Bisa membuat Beachwalk. Saya juga udah usulkan kepada Bupati Serang terkait pembuatan desnitasi baru, dan Ibu menyetujui,” ucapnya. (SN)***


Sekilas Info

Temuan Baru Makam di Selatan Surosowan Banten Lama

Satu temuan baru di lingkungan Banten Lama beberapa waktu lalu diketemukan berkat informasi masyarakat. Lokasi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *