Rabu, 20 September 2017

Jejak Toleransi Islam-Budha di Banten Lama

Di tengah mencuatnya isu intoleransi antarumat beragama, terdapat pelajaran sejarah tentang toleransi di Banten Lama, Kecamatan Kasemen, Kota Serang. Toleransi itu sudah berjalan selama ratusan tahun sampai saat ini. Contoh yang paling nyata kuatnya toleransi di Kawasan Cagar Budaya ini yaitu berdirinya Vihara Avalokitesvara sejak 1652 sampai sekarang. Tak jauh dari vihara, berdiri juga sebuah masjid ikon Banten, yakni Masjid Agung Banten.

Dahulu, kesultanan Banten dikenal menjadi salah satu kerajaan Islam terkuat di bumi nusantara. Namun terlepas dari semua itu, di daerah ini tidak ada pengekangan untuk agama lain. Vihara itu untuk agama konghucu, juga ada sebagian yang beragama Budha. Pendirian vihara tidak terlepas kebesaran nama Sunan Gunung Jati. Dalam cerita sejarah disebutkan, ketika masa kejayaan Pelabuhan Karangantu mencapai puncaknya, banyak saudagar dari luar Banten berdatangan, salah satu di antaranya adalah Putri Ong Tin Nio dari Cina. ”Pelabuhan Karangantu telah mendatangkan banyak saudagar dari luar Banten,” kata Direktur Banten Heritage, Dadan Sujana, kemarin.

Singkat cerita, sesampainya di Banten ia memutuskan bermalam selama beberapa hari. Ternyata Banten membuat sang putri merasa nyaman, pada akhirnya iapun menetap. Namun, kedatangan sang putri membuat beberapa warga sekitar merasa terganggu dan resah, karena khawatir kehadirannya akan merusak tradisi dan kepercayaan masyarakat. Kekhawatiran warga sekitar terus berlanjut hingga berujung pada gesekan yang semakin memanas.

Saat situasi demikian, Sunan Gunung Jati menegur dan meminta agar warga tidak berbuat semena-mena terhadap keseharian sang putri. Karisma sang sunan membuat warga luluh.  Selang beberapa waktu kemudian ternyata Sang Putri menaruh hati pada Sunan, kemudian Putri Ong Tin Nio memutuskan untuk memeluk Islam dan menikah dengan Sunan Gunung Jati.

Melihat kuatnya kepercayaan pengikut Sang Putri, Sunan pun mendirikan sebuah vihara yang saat ini dikenal dengan Vihara Avalokitesvara. Meski sudah beberapa kali mengalami perubahan, cerita dibalik vihara ini masih melekat. Saat ini vihara berada Jalan Raya Serang, Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang. ”Memang sudah tidak masuk ke dalam cagar budaya karena sudah beberapa kali mengalami perubahan bentuk,” tuturnya. (Sutisna/”KB”)***


Sekilas Info

Aktivitas Sejarah di Perkebunan Cisalak Baru

Perkebunan Cisalak merupakan perkebunan pemerintah di bawah PT Perkebunan Nusantara VIII (PTPN VIII), lokasinya berada …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *