Rabu, 20 September 2017

Hiburan Malam di Kota Cilegon, Ramai Saat Jam Larangan Beroperasi

Kehidupan di Kota Cilegon kini seolah tidak pernah mati. Mulai menjelang pagi hingga kembali menjelang pagi, aktivitas masyarakat terus bergerak. Terdapat sisi gelap Kota Cilegon yang seolah tidak tersentuh aturan yang berlaku. Yakni ramainya tempat hiburan malam, dikala memasukki jam larangan beroperasi. Pemberlakuan larangan beroperasi merupakan sebuah dilema bagi para pengelola tempat hiburan. Sebab kebiasaan para pengunjung mendatangi tempat hiburan, yakni ketika jam menunjukkan pukul 00.00 WIB.

Seperti halnya ketika wartawan Kabar Banten mendatangi salah satu tempat hiburan di jalur protokol, Sabtu (9/9/2017). Ketika disambangi pada pukul 23.00, jumlah pengunjung terbilang sedikit.  Lagu Electric Dance Music (EDM) dimainkan operator musik untuk menemani para pengunjung yang tiba terlalu ‘pagi’. Barangkali agar mereka tidak terlalu merasa sepi, karena kursi-kursi di hall tempat hiburan hanya diduduki sedikit pengunjung saja.

Waktu menunjukkan pukul 23.30 WIB, jumlah pengunjung mulai bertambah. Permainan laser beam dari arah panggung menambah suasana semakin menyegarkan pengunjung. “Saya biasa datang tengah malam Mas, biasa janjian dengan teman memang begitu,” kata Doni, warga Kota Serang saat didekati wartawan. Sebetulnya Doni sudah tiba di area tempat hiburan sejak pukul 22.30. Hanya saja dia sengaja mengulur waktu untuk menaikkan ‘mudnya’. “Sebelum masuk, kami minum-minum dulu di luar. Setelah adrenalin naik, baru kami masuk. Biar lebih nikmat Mas, jadi saat masuk kami sudah ‘on’,” tuturnya.

Tampaknya alasan inilah yang menyebabkan pengelola tempat hiburan sulit menaati aturan pemerintah yang tertuang dalam Perda Nomor 2 tahun 2003 tentang Penyelenggaraan Tempat Hiburan, zona larangan beroperasi diberlakukan mulai pukul 00.00 WIB. Namun persoalan tempat hiburan bukan hanya pada jam operasional. Di tempat-tempat tersebut beredar minuman keras dengan alkohol kadar tinggi. Seorang mantan manajer di salah satu tempat hiburan malam yang enggan disebutkan namanya mengatakan, hampir setiap hari puluhan botol minuman keras beralkohol kadar tinggi. “Dalam sehari, itu bisa sampai ratusan krat, antara miras kadar rendah hingga di atas 40 persen. Jadi dalam sebulan hingga ribuan miras,” ucapnya.

Tidak hanya itu, sering pula beberapa minuman oplosan ditawarkan kepada pengunjung. Tidak jarang, salah satu bahannya berupa minyak untuk korek api jenis Zippo. “Kan ada minuman keras yang keluar api,” tuturnya. Peredaran miras beralkohol kadar tinggi, katanya, juga diperjualbelikan secara ilegal. Menurutnya, konsumsi atas miras itu semestinya dikenakan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) kepada pengunjung. “Saya pernah usulkan untuk dibuat legal, tapi tidak pernah digubris,” tuturnya.  Parahnya lagi, praktik perdagangan manusia juga terjadi di sejumlah tempat hiburan malam. Bahkan ada seorang ibu bersama anak perempuannya yang menjadi pemandu lagu di salah satu tempat hiburan malam. “Ada di salah satu tempat hiburan malam, PL nya itu ibu dengan anak,” ujarnya.

Terkait hal itu, Akademisi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Suwaib Amirudin mengatakan, tingginya angka peredaran miras di tempat hiburan malam karena ada pihak-pihak yang memberikan perlindungan. Padahal peredaran miras beralkohol sudah diatur dalam Perda Kota Cilegon Nomor 1 Tahun 2005. “Perda kan sudah ada, tapi ada oknum orang kuat di balik peredaran miras itu. Jadinya ketika melakukan razia, informasi bocor duluan,” ucapnya. Dosen jurusan Sosiologi ini mengatakan, penegakan perda minuman keras tidah bisa hanya diberikan kepada satu instansi saja. Pemkot harus melibatkan unsur institusi penegak hukum yang ada di Cilegon. “Kalau memang ingin membasmi peredaran miras ilegal, tutup tempat hiburan malamnya,” katanya.

Sementara itu, tindakan tegas belum pernah diperlihatkan oleh Pemkot Cilegon. Pada dasarnya Pemkot telah melempar wacana untuk melakukan penutupan secara permanen tempat hiburan malam, hanya saja hal tersebut belum juga dilakukan. Plt Kepala Satpol PP Kota Cilegon Taufiqurahman Husein mengatakan, tim penertiban tempat hiburan malam sedang menyusun laporan untuk diserahkan kepada Wali Kota Cilegon Tubagus Iman Ariyadi. Isi laporan tersebut berupa hasil kajian berkaitan dengan pelanggaran-pelanggaran tempat hiburan malam.

Ia mengatakan, isi pada kajian tersebut mengarah pada pencabutan izin hotel dan restoran. “Sekarang yang dipersoalkan seputar jam operasional yang melebihi ketentuan. Tapi nyatanya, kesalahan yang muncul lebih dari sekadar jam operasional,” katanya. Ia pun mendengar adanya peredaran minuman keras ilegal, juga minuman berkadar alkohol tinggi. Ini pun masuk pada poin pelanggaran berikutnya. “Itu pun masuk pada hasil kajian kami,” ucapnya. Hasil kajian sendiri, kata Taufiq, akan diserahkan dalam waktu dekat. Setelah itu, pihaknya akan menunggu Wali Kota Iman Ariyadi untuk memberikan keputusan. “Setelah diberikan, kami tinggal menunggu sinyal Pak Wali. Kalau Pak Wali bilang cabut izin, kami akan segera melakukannya,” katanya.(Sigit Angki Nugraha)***


Sekilas Info

Kasus Kebakaran Meningkat Tajam

CILEGON, (KB).- Kasus kebakaran di Kota Cilegon meningkat tajam selama 2017. Dibanding tahun sebelumnya, tahun ini …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *