Selasa, 12 Desember 2017

Generasi Micin, Yes or No?

Generasi Micin, menjadi hal yang viral belakangan ini, khususnya di media sosial. Bahkan, iklan vetsin (micin) atau penyedap rasa sempat menjadi trending topic dalam situs web berbagi video, Youtube. Generasi Micin merupakan julukan yang diberikan kepada kalangan muda saat ini, yang tingkah lakunya dianggap “nyeleneh” oleh generasi sebelum mereka.

Sebelumnya kita semua sudah mengenal istilah “alay”, yang ditujukan ke kalangan yang bertingkah norak, kali ini muncul julukan Generasi Micin. Meski tidak diketahui secara pasti siapa yang lebih dahulu mencetuskan istilah tersebut, namun Generasi Micin semakin viral melalui media sosial. Hal tersebut dikaitkan dengan vetsin atau biasa disebut micin, yang merupakan penyedap rasa dengan kandungan Monosidium Glutamat (MSG).

Kandungan MSG tersebut yang dianggap oleh beberapa kalangan dapat menurunkan tingkat kecerdasan, yang kemudian dikaitkan dengan generasi muda saat ini, khususnya yang dianggap sering bertingkah bodoh. Sehingga, muncullah penyebutan Generasi Micin. Meski belum diketahui secara pasti apakah MSG dapat menurunkan tingkat kecerdasan atau tidak.

Enggak heran, belakangan ini di kalangan generasi muda Indonesia sangat viral dengan kata-kata Generasi Micin, yang lebih senang bermain di dunia maya atau media sosial. Seringkali ingin eksis dengan cara sedikit-sedikit unggah kegiatan, posting foto, mudah baper (terbawa perasaan), mudah marah, terlalu sensitif, norak, alay, dan pamer. Bahkan, tak jarang perilaku seperti ini sering memancing keributan di kolom komentar media sosial orang lain.

Lantas apa yang menyebabkan sebutan Generasi Micin disematkan pada anak muda yang seringkali sering berkeluh kesah di media sosial. Kira-kira apa sih yang ada di dalam kandungan “micin”, sehingga banyak anak muda saat ini menyalahkan “micin”? Secara harfiah, kandungan yang ada pada micin atau penyedap rasa, yaitu Monosodium Glutamat atau lebih dikenal dengan sebutan MSG. Dalam ilmu pengetahuan, MSG itu sendiri, adalah salah satu asam amino non-esensial yang paling berlimpah secara alami, juga sebagai penguat rasa gurih pada makanan yang membuat kita menjadi ketagihan.

Sedikit sejarah tentang “micin” saat pertama kali diproduksi pada 1908 oleh Kikunae Ikeda asal Jepang. Ia menggunakan rumput laut kering dan garam untuk bahan dasar utamanya pada saat pembuatan micin pertama kali. Hingga diproduksi secara massal dan menyebar luas ke Asia dan Amerika. Setelah dilakukan penelitian, faktanya micin termasuk ke dalam bahan makanan yang aman untuk dikonsumsi. Jadi, tuduhan terhadap micin yang katanya berbahaya tidak terbukti dan lembaga sertifikasi keamanan makanan Amerika, dibuktikan dengan memberikan label Generally Recognised As Safe (GRAS) ke semua produk micin.

Fakta yang terjadi saat ini dengan adanya generasi yang bertingkah tidak wajar serta bermacam-macam, lantas dinilai dan dicap sebagai generasi micin menjadi pertanyaan tersendiri. Lalu, bagaimana pendapat anak muda serta pandangan psikolog yang ada di Kota Serang menanggapi fenomena “Generasi Micin yang Ke-Kidz Zaman Now” atau lebih dikenal dengan istilah “Generasi Milenial”.

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Kandung S Nugroho mengatakan, sebenarnya jika melihat perkembangan anak muda saat ini lebih mengutamakan gadget atau media sosial dalam berinteraksi. Berbeda dengan anak muda pada zaman dahulu sebelum datangnya era digital seperti sekarang ini. “Dan memang di zaman yang serba teknologi ini kami harus bisa mengikuti perkembangan zaman, terlebih anak-anak muda. Justru, dengan adanya fenomena gadget harus dapat diambil sisi positif bagi tumbuh kembang pergaulan. Generasi muda sekarang harus dapat lebih cerdas dalam menggunakan media sosial, agar dapat bermanfaat bagi diri sendiri juga pengguna lainnya,” katanya.

Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMA Negeri 5 Kota Serang, Sri Hartini menolak adanya istilah Generasi Micin. Namun, dia tidak mau ambil pusing terkait Generasi Micin, yang sedang marak pada anak-anak zaman sekarang atau yang lagi ngehits dengan istilah ”Kidz Zaman Now”.
“Terus terang saya menolak adanya istilah Generasi Micin yang lagi booming di kalangan anak-anak sekarang. Karena, lebih banyak hal yang bertentangan dengan pendidikan moral dan pendidikan karakter,” ujar bu Sri, begitulah siswa-siswi SMA Negeri 5 Kota Serang memanggilnya.

Bagaimana juga, menurut dia, peran orangtua untuk masalah tersebut sangat berperan penting. Orangtua harus mengerti tumbuh kembang anak. Ia berharap, selain dapat memantau anak-anaknya secara langsung, orangtua juga harus bisa melek media, sehingga bisa memantau melalui media sosial.
“Kadang kan kebebasan di media sosial itu orangtua sering gak ngerti. Untuk itu, perlu adanya pantauan dari orangtua baik langsung maupun tidak,” tuturnya. (Rizki Putri/Siti Cahaya Bestari)***


Sekilas Info

Unbaja Siap Bersaing di Dunia Usaha

SERANG, (KB).- Peningkatan dan pengembangan kompetensi lulusan menjadi salah satu perhatian Universitas Banten Jaya (Unbaja) dalam …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *