Kamis, 24 Agustus 2017

Full Day School Rugikan Guru Madrasah Diniyah

SERANG, (KB).- Aktivis Mahasiswa dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Himpunan Mahasiswa Serang (Hamas) menyebut bahwa kebijakan Full Day School (FDS) yang diterapkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) akan merugikan guru Madrasah Diniyah. Hal itu disampaikan dalam unjuk rasa di depan Kampus UIN Banten, Jumat (16/6/2017).

Ketua Umum GMNI Cabang Serang, Solahudin mengatakan, kebijakan FDS akan menutup kesempatan pelajar tingkat sekolah dasar (SD) untuk masuk Madrasah Diniyah. Karena itu, guru yang saat ini mengajar di Madrasah Diniyah terancam kehilangan pekerjaan, terutama yang masih honorer.
“Kebijakan ini banyak berdampak negatif, terutama bagi Banten yang mempunyai banyak Madrasah Diniyah,” katanya, Jumat (16/6/2017).

Selain itu, kebijakan ini terkesan terburu-buru. Mestinya pemerintah memberikan sosialisasi terlebih dahulu kepada sekolah-sekolah agar mereka memahami secara detail terkait FDS. “Kebijakan ini malah semakin banyak negatifnya daripada positifnya, tidak bisa dilakukan dengan buru-buru,” ucapnya.

Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Hamas, Ahmad Kosasih mengatakan, beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan oleh pemerintah sebelum menerapkan FDS, yaitu psikologi siswa, dan ketersediaan tenaga pendidikan. “Psikologi siswa juga harus dipertimbangkan, mereka biasa sekolah sampai siang ini harus sampai sore,” katanya.

Tidak dipungkiri, kebijakan ini juga membuat orangtua siswa harus mengeluarkan kos yang lebih banyak untuk jajan putranya. “Perlu pertimbangan yang benar-benar matang sebelum menerapkan FDS, jangan sampai kebijakan ini malah memperburuk dunia pendidikan, bukan memperbaiki dunia pendidikan,” ucapnya.

Senada, Sekretaris Umum PMII Cabang Kota Serang, Abdurahahman Ahdori pesimistis kebijakan ini akan berdampak positif terhadap perkembangan karakter siswa. Kebijakan ini hanya akan memberikan tekanan kepada siswa yang umumnya belum terbiasa pulang sore hari. “Terutama untuk siswa sekolah dasar,” ujarnya.

Oleh karena itu, dia menuntut agar Presiden Joko Widodo mengevaluasi kembali kebijakan tersebut.
“Sistem full day school yang akan berlaku telah membuat resah para guru yang mengajar di pendidikan agama. Bahkan para ulama Banten juga resah. Ribuan pendidikan non formal seperti Madrasah Diniyah,” tuturnya. (H-51)***


Sekilas Info

15 Mahasisawa Untirta KKM di Petir

SERANG, (KB).- Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) kembali mengirimkan mahasiswa/i ke tengah masyarakat dalam program Kuliah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *