Kamis, 19 Oktober 2017

”Full Day School” Ancam Madrasah Diniyah

SERANG, (KB).- Kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy yang akan menerapkan Full Day School (FDS) bagi sekolah, dianggap akan mengancam keberadaan Madrasah Diniyah (MD) di Indonesia, tak terkecuali di Banten.  Kebijakan ini akan memakan waktu yang biasa digunakan pelajar, terlebih pelajar tingkat dasar untuk masuk MD, yang biasanya memulai pelajaran siang hari.

Ketua Presidium Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP) Banten, Anang Azhari Alie mengatakan, dari sisi aturan, kebijakan ini juga akan berbenturan dengan daerah yang menekankan ijazah MD sebagai syarat masuk ke pendidikan selanjutnya, seperti di Kabupaten Lebak. Persoalan ini perlu menjadi kajian tersendiri bagi pemerintah.  “Jadi harus ada kompromi antara pemerintah pusat dengan daerah biar tidak saling merugikan,” ujarnya kepada Kabar Banten, Selasa (13/6/2017).

Dari sisi muatan materi, pemerintah perlu mengkaji secara matang muatan yang terkandung dalam kebijakan penerapan FDS. Muatan yang terkandung harus seimbang antara muatan agama dengan muatan umum. “Kalau full day itu diberlakukan untuk kegiatan agama, orientasinya kepada pembangunan moral akhlak, jadi baik-baik saja. Tapi misalkan hanya pelajaran umum saja, itu merugikan sekolah-sekolah yang berkembang yang di bawah naungan departemen agama,” katanya.

Meski demikian, dia memandang kebijakan ini tidak sepenuhnya berdampak negatif. Di sisi lain kebijakan ini akan melahirkan persaingan antara pendidikan umum dengan pendidikan agama, dalam hal ini MI untuk terus mengedepankan karakter kepada siswanya. “Sekalipun itu nanti menjadi keputusan pemerintah justru itu menjadi persaingan yang baik juga, terutama madrasah yang mereka terganjal karena sekolah umum sudah melakukan full day,” ujarnya.

Ia berharap, pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan benar-benar mematangkan kajian tentang segala aspek negatif dan positif dari penerapan kebijakan ini. Kebijakan yang tidak melalui kebijakan matang berisiko menimbulkan penolakan dari masyarakat.  “Full day school itu baru rencana, belum menjadi keputusan. Mereka (pemerintah) sedang menunggu tanggapan-tanggapan dari masyarakat, umpamanya sudah mencapai kesepakatan baru muncul keputusan,” ujarnya. (Sutisna/Job)***


Sekilas Info

Ponpes Daar El Qolam Gelar Pra Milad, Pesantren Harus Maju dan Berkembang

RATUSAN alumni Pondok Pesantren Daar El Qolam, Gintung, Jayanti, Tangerang menggelar pra milad pondok pesantren …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *