Senin, 11 Desember 2017

Dugaan Korupsi Dana Bansos, Kejati Tahan Pejabat Kemendikbud

SERANG, (KB).- Penyidik pidana khusus (pidsus) Kejati Banten menahan Kabag Pembendaharaan dan Pembiayaan pada Biro Keuangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI, Agustinus, Senin (12/6/2017). Agustinus merupakan tersangka atas kasus dugaan korupsi dana bantuan sosial (bansos) tahun 2014 senilai Rp 26,925 miliar. Selain menahan Agustinus, penyidik juga menahan pengepul dana bansos Kamaludin.

Kasi Penkum Kejati Banten, Holil Hadi mengatakan, tersangka Agustinus dan Kamaludin ditahan di tempat berbeda. Agustinus ditahan di Rutan Klas II B Pandeglang, sedangkan Kamaludin ditahan di Rutan Klas II B Serang. Penahanan terhadap kedua tersangka dilakukan selama 20 hari, karena dikhawatirkan akan melarikan diri dan menghilangkan barang bukti.

“Tersangka ditahan di Rutan Serang dan Pandeglang selama 20 hari. Penahanan dilakukan karena tersangka dikhawatirkan akan melarikan diri, menghilangkan barang bukti dan mengulangi perbuatannya. Penahanan sudah sesuai dengan Pasal 24 ayat 1 KUHAP,” ujar Holil didampingi Koordinator Tipikor Kejati Banten, Jaja Raharja di Kejati Banten.

Dia mengatakan, dalam dana bansos ini terdapat 1.474 lembaga pendidikan yang terdiri dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), lembaga kursus dan pondok pesantren di Provinsi Banten menerima bantuan. Dari ribuan penerima bantuan tersebut, penyidik baru mengusut untuk kasus dana bansos di Kabupaten Serang dan Kota Serang yang jumlahnya mencapai 110 lembaga dengan nilai Rp 2 miliar lebih.  “Nanti berkembang ke daerah lain. Kami ditarget batas waktu penyelesaian perkara biar tidak ada tunggakan,” kata Holil.

Dia menuturkan, dalam penyaluran dana bansos tersebut terdapat dugaan tindak pidana berupa pemotongan dana bansos sebesar 50 persen. Setiap lembaga menerima dana bantuan sekitar Rp 15 juta hingga Rp 20 juta. Pemotongan dana bansos diduga dilakukan oleh koordinator wilayah (korwil) FS dan FI.  Oleh korwil, dana pemotongan tersebut diserahkan kepada koordinator lapangan (korlap) AL, AP dan RM. “Oleh korlap dana pemotongan tersebut diserahkan kepada Fajar (alm) dan tersangka Kamaludin. Dugaan sementara kerugian negara Rp 1 miliar lebih,” tutur Holil.

Holil menjelaskan, tersangka Kamaludin dalam perkara ini berperan membantu penerima bansos dalam pembuatan proposal bansos. Ia juga menjadi penghubung antara penerima bantuan dengan tersangka Agustinus di Kemendikbud RI. “Tersangka membantu dalam membuat proposal dan penghubung dengan orang di Kemendikbud,” ucap Holil.

Dalam perkara ini penyidik baru menetapkan dua tersangka. Namun tidak menutupkan kemungkinan penyidik akan menetapkan tersangka baru. Hal tersebut bergantung dari fakta persidangan dan penyelidikan untuk lembaga penerima bansos lain seperti di Kabupaten/Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Lebak, Kabupaten Pandeglang dan Kota Cilegon. “Cilegon, Lebak, Tangerang belum. Kemungkinan berkembang ke sana. Sementara baru dua (tersangka),” tutur Holil.
Disinggung mengenai aliran dana yang mengalir ke tersangka Agustinus dan Kamaludin, Holil enggan menjawab. Menurutnya, hal tersebut sudah masuk ke dalam materi penyidikan. “Kalau aliran dana nanti lihat di persidangan,” ucap Holil.

Atas perbuatannya, kedua tersangka dijerat dengan dakwaan Primair, Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 18 UU RI Nomor 31 Tahun 1999 jo UU RI Nomor 20 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Subsider Pasal 3 jo Pasal 18 UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Perubahan atas UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberatasan Tindak Pidana Korupsi.

Pantauan Kabar Banten, kedua tersangka mendatangi kantor Kejati Banten sekitar pukul 10.00. Keduanya memenuhi pemanggilan untuk diperiksa sebagai tersangka. Pukul 15.15 tersangka Agustinus pertama kali keluar dari ruang pemeriksaan penyidik. Ia mengenakan rompi berwarna merah.
Saat akan dibawa ke mobil tahanan, Agustinus membantah tuduhan penyidik. Menurutnya, dia tidak bersalah atas penyaluran dana bansos tersebut. Setelah ditahan, dia berencana akan mengajukan upaya penangguhan penahanan dan praperadilan. “Enggak benar (tuduhan penyidik). Ya (mengajukan praperadilan),” katanya.

menggeledah di dua tempat

Selang beberapa menit setelah Agustinus dibawa ke Rutan Klas II B Pandeglang, tersangka Kamaludin keluar dari ruang pemeriksaan. Ia membenarkan telah menyerahkan uang kepada Agustinus dari dana bansos yang dikumpulkannya. “Ada uang (pemotongan), saya enggak tahu (lupa nilai). Saya sudah ceritakan kepada penyidk, dia (Agustinus) menerima uang,” ucapnya.

Koordinator Tipikor Kejati Banten, Jaja Raharja mengatakan, sebelum menahan kedua tersangka penyidik telah menggeledah di dua tempat. Pertama, di Lembaga Kursus LKPJ BCG, Balaraja. Di tempat tersebut, dikatakan Jaja, penyidik menyita laptop dan CPU. “Selasa kemarin kami menyita CPU dan laptop di tempat yang dijadikan tersangka (Kamaludin) mendata proposal,” katanya. Pada hari yang sama, penyidik menggeledah di kantor Kemendikbud RI, Jakarta. Sejumlah dokumen yang berkaitan dengan pencairan dana bansos disita penyidik. “Ada beberapa dokumen-dokumen yang kami sita,” tuturnya. (H-47)***


Sekilas Info

Jelang Tutup Tahun, Isu Rotasi Pejabat Pemprov Banten Santer

SERANG, (KB).- Isu rotasi dan mutasi pejabat di Lingkungan Pemprov Banten kian santer terdengar, jelang tutup …

One comment

  1. Sekolahan SMKS TIGA RAKSA coba di periksa,sebuah yayasan pendidikan di kp.tegalbaju tigaraksa milik bapak agustinus..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *