Jumat, 24 November 2017

Dua Bulan Dilanda Kekeringan, Warga Tirtayasa Gali Kubangan Irigasi

Kekeringan yang telah melanda sejak 2 bulan terakhir, membuat sejumlah warga di wilayah Serang utara harus memutar otak untuk bisa mendapatkan air guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Begitu lah yang dilakukan oleh warga Desa Sujung, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang. Warga yang sudah terbiasa menggunakan air dari saluran irigasi Pamarayan itu kini mulai kesulitan air. Sebab saluran irigasi yang membentang melewati 5 desa yakni Desa Sidayu Kebon, Sujung, Tirtayasa, Laban dan Susukan kini kondisinya kering.

Untuk bisa memenuhi kebutuhannya, warga sekitar pun berinisiatif untuk menggali kubangan saluran irigasi. Dari sanalah sumber air itu diperoleh. Walau kualitasnya tidak begitu baik, namun setidaknya air tersebut masih bisa digunakan untuk aktivitas mandi, cuci, kakus (MCK). Pantauan Kabar Banten, tampak saluran irigasi yang sudah kering dan dipenuhi sampah. Sekalipun ada aliran air, warna airnya hijau dan berbau itu pun dengan jumlah yang kecil. Untuk itulah di sekitar bekas kubangan yang biasa digunakan warga untuk aktivitas MCK sebelumnya mulai dibuat sumur galian. Tersembul mata air dari sumur kecil tersebut. Airnya pun tidak jernih namun berwarna kuning.

Warga Kampung Sipon, Desa Sujung, Kecamatan Tirtayasa, Sukismiati menuturkan, kekeringan di wilayahnya sudah berlangsung selama hampir 2 bulan. Sejak saat itu, masyarakat sekitar kesulitan pasokan air. Selain adanya musim kemarau yang panjang, saluran irigasi yang menjadi andalan pun kini dibagian wilayah Kragilan sedang dalam perbaikan. Sehingga aliran air ke daerahnya untuk sementara dihentikan. “Lagi perbaikan di Kragilannya, makanya di stop, palingan 10 hari sekali ada air,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Selasa (12/9/2017).

Ia mengatakan, kondisi kemarau itu dirasakan cukup parah, dan membuat segalanya serba sulit. Karena tak adanya air di wilayahnya, akhirnya beberapa warga membuat sumur kecil di kubangan saluran irigasi. Dalamnya sumur tersebut sekitar 2 meter dengan lebar 50 sentimeter. Dari sumur itu memancar sumber air yang bisa digunakan. “Baru kemarin di buatnya juga ini sumur. Lumayan sajalah,” katanya.
Walaupun demikian, sumber air dari sumur tersebut hanya digunakan untuk keperluan MCK. Sedangkan untuk konsumsi, biasanya warga masih membeli dari depot air yang ada di wilayahnya. “Beli kalau air untuk minum mah, Rp 4.000 per galon, paling cukup sehari,” ucapnya.

Warga lainnya Sarnati mengatakan, sampai saat ini, untuk daerahnya khususnya Desa Sujung dan sepanjang aliran irigasi belum mendapatkan bantuan air bersih. Padahal saat musim kemarau tahun lalu daerahnya mendapatkan bagian, dan warga pun sampai berebut untuk mendapatkan air bersih tersebut. “Tahun lalu kan kemarau sampai 3 bulan juga, disini dapat air bersih, itu mah sampai rebutan pak. Yang enggak kebagian itu RT 4 dan 5, kalau RT 5,6 dan 7 pernah dapat,” tuturnya.

Karena kondisi itu, warga akhirnya banyak yang membuat sumur kecil di sepanjang saluran irigasi. Ada yang membuat dengan mencangkul lalu di tembok supaya saat ada kiriman air sumur itu tidak tercampur. “Banyak disinimah yang buat sumur, yang di bor juga ada,” ucapnya. Dirinya pun berharap, kekeringan itu bisa segera berlalu. Sebab daerah utara walaupun tidak musim kemarau, selalu kesulitan air bersih. Dengan adanya musim kemarau yang cukup panjang, kondisi itu terasa semakin menyulitkan. Sebab kebutuhan air adalah untuk segalanya. “Kalau enggak ada air mah repot pak,” katanya. (Dindin Hasanudin)***


Sekilas Info

18 Ulama Banten Dikirim ke Munas NU

SERANG, (KB).- Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PW NU) Provinsi Banten mengirim sebanyak 18 ulama ditambah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *