Selasa, 12 Desember 2017

Derita Kakek Renta Warga Wates Telu, Rumahku Bekas Kandang Kambing

PAGI itu Suharyono (67), warga RT13/RW05, Lingkungan Wates Telu, Kelurahan Purwakarta, Kecamatan Purwakarta menyapa para tetangga dengan tersenyum. “Pagi pak, pagi bu,” begitulah caranya menyapa penduduk setempat yang berpapasan dengannya. Sapaan Suharyono sering dia lontarkan mulai pagi buta hingga menjelang siang. Kalimat tersebut menjadi khas, sampai-sampai dia dijuluki pak Pagi oleh para tetangga.

Sopan santun pak Pagi berbanding balik dengan nasibnya yang cukup terpuruk. Bagaimana tidak, selama tiga tahun terakhir dia hidup di sebuah gubuk bekas kandang kambing keponakannya yang bernama Murjio. Ia menceritakan nasibnya, saat anggota DPRD Cilegon Dapil Jombang-Purwakarta, Rahmatulloh menyambangi pak Pagi di rumahnya, Kamis (5/12/2017).

Rahmatulloh saat itu mendatangi rumah pak Pagi dalam rangka menjalankan agenda reses, yang telah berjalan selama beberapa hari terakhir. “Saya sudah tinggal di gubuk ini tiga tahun. Dulu saya sempat bekerja sebagai buruh, tapi setelah usia 60 tahun, saya sudah tidak kuat bekerja,” katanya. Pak Pagi sebelumnya merupakan pria dengan ekonomi yang berkecukupan. Tinggal di Tangerang, dia sempat menjalani rumah tangga selama 14 tahun. Sayang mahligai rumah tangganya runtuh pada 2003, setelah itu kehidupannya menurun drastis.

Nasibnya yang semakin terpuruk tampaknya tidak cukup mengetuk hati mantan istri dan anak-anaknya. Terbukti selama lima tahun, tidak ada satu juga dari mereka yang menjenguknya. “Beginilah nasib saya sekarang ini,” ujarnya. Saat ini, hidup pak Pagi bergantung pada belas kasih para tetangga. Mulai makanan hingga pasokan listrik dia dapatkan dari tetangganya. “Dulu pernah mendapatkan BLT (bantuan langsung tunai), tapi sekarang sudah tidak lagi,” ucapnya.

Terkait perhatian dari pemerintah, pak Pagi menuturkan, tidak berharap terlalu banyak. Ia hanya ingin mendapatkan tempat tinggal layak huni, bukan sebuah gubuk bekas kandang kambing. “Saya tahu diri, tidak ingin menuntut banyak. Kalau pun pemerintah kasihan, paling ingin rumah tinggal yang lebih layak dari ini,” tuturnya.

Pantauan Kabar Banten, gubuk pak Pagi memiliki luas 3×4 meter. Dinding gubuknya hanya berlapis bambu dan bekas spanduk. Bangunan reyot yang diapit petakan sawah tersebut tidak memiliki kamar mandi untuk kepentingan mandi cuci kakus (MCK). Namun, sudah dilengkapi aliran listrik, berkat belas kasih tetangga.

Sementara itu, Camat Purwakarta, Balukia Iqbal mengatakan, tidak pernah mendengar ada warganya yang tinggal di gubuk bekas kandang kambing. Ia menuturkan, akan segera mendatangi rumah pak Pagi. “Kalau masih punya keluarga, barangkali akan kami hubungi. Supaya dia bisa tinggal dengan kerabatnya,” katanya.

Ia mengatakan, akan mencarikan solusi berkaitan ratapan hidup pak Pagi. Namun, untuk membangunkan rumah di atas lahan tersebut, dia tidak bisa menjanjikan. Pada bagian lain, anggota DPRD Cilegon Dapil Jombang-Purwakarta, Rahmatulloh prihatin dengan nasib pak Pagi. Politisi Partai Demokrat tersebut menuturkan, akan mendorong sejumlah instansi untuk memerhatikan pak Pagi. “Saya berharap, pak Pagi mendapatkan bantuan RTLH (rumah tidak layak huni) pada 2018,” ujarnya.

Menurut dia, Pemkot Cilegon telah mengalokasikan anggaran RTLH pada APBD 2018 sebesar Rp 150 juta. Ia menuturkan, akan memperjuangkan nasib pak Pagi melalui program tersebut. Minimal ada anggaran khusus di APBD-P 2018 jika di anggaran reguler tidak teralokasikan. (Sigit Angki Nugraha)***


Sekilas Info

Rp 4 M untuk ”Command Center”

CILEGON, (KB).- Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon berencana membangun “Cilegon Command Center” di lantai dasar Kantor Sekretariat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *