Selasa, 12 Desember 2017

Dengan Irhamna, Menghafal Alquran Semudah Membalik Tangan

Mutia Fatmawati tak pernah membayangkan jika di usianya yang baru menginjak 19 tahun ia hafal Alquran 30 juz. Sangat luar biasa, karena 30 juz Alquran itu berhasil ia hafal hanya dalam waktu 5 bulan 15 hari. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Pondok Pesantren Irhamna Bil Quran tahun 2015 (bulan Syawal), hatinya diliputi keraguan. Bukan hanya ragu soal kemampuan dirinya menghafal Alquran, tapi juga ragu terhadap kualitas pesantren barunya tersebut. Ketika itu, gadis kelahiran Kampung Cilanggar, Cimanuk, Pandeglang datang sendiri ke Pesantren Irhamna. Tak ada orang tua maupun saudara yang menemani.

Meski datang sendirian, Mutia tak menyalahkan kedua orangtuanya. Ia sangat memaklumi keadaan ayahnya yang petani dan ibunya yang buruh cuci. Minggu-minggu pertama tinggal di Pesantren Irhamna, hati Mutia masih gelisah. Ia semakin ragu bisa bertahan di pesantren ini dalam waktu lebih lama. Ia mulai menghitung hari-hari yang sudah dilalui.

Ia merasakan, itulah hari-hari terberat dalam hidup. Hatinya semakin gelisah ketika pikirannya menerawang menghitung hari-hari panjang yang akan dilalui di Pesantren Irhamna. Kepalang tanggung. Ia merasa, di hadapannya seperti terbentang lautan lepas. Sementara di belakang berkobar lautan api. “Meski sudah beberapa hari tinggal di pesantren, saya masih belum punya kepastian mau lanjut atau pulang,” kata Mutia, matanya menerawang mengenang masa-masa pertama menjadi santri Irhamna.

Meski tidak lahir di istana, Mutia tetap saja rindu keceriaan rumahnya yang sederhana. Ia membayangkan wajah kedua orangtuanya. Meski selalu berjibaku dengan keletihan, namun wajah itu tak pernah terlihat letih. Berkali-kali hatinya menjerit, memanggil-manggil nama ibunya. Jeritan itu semakin menjadi ketika terjadi perbedaan pendapat dengan teman, ketika melakukan kesalahan lalu dimarahi ustazah.

Perlahan ia merasakan, semua yang terjadi di pesantren justru menjadikan hatinya semakin kuat. Ketika dimarahi ustazah misalnya, ia berpikir di balik marahnya itu terdapat obat mujarab bagi segala gundah. Perlahan ia menemukan keceriaannya kembali, sebuah perasaan yang telah berhari-hari pergi. Teman-teman satu pesantren yang semula dirasakannya selalu nyinyir, ternyata sangat ramah.

Para ustazah yang semula dianggapnya sering memarahi, ternyata sedang menaburkan butiran nasihat. Hatinya semakin berbunga, ketika Ustazah Fitriyani Nur Fitroh rajin memberinya semangat. Belakangan ia ketahui, Ustazah Fitriyani Nur Fitroh ternyata bukan hanya istri sang kiai pemilik Pesantren Irhamna, Kiai Taftajani. Akan tetapi, wanita berperilaku lembut itu juga sang penemu metoda menghafal cepat, Metode Irhamna Bil Quran.

Awal diperkenalkan dengan metoda tersebut, Mutia merasa seperti sedang dituntun untuk melihat seluruh isi lautan. Dan ketika metoda tersebut dikuasai, ia benar-benar seperti sedang menyaksikan dasar lautan dengan segala rahasianya. Menyelami metoda Irhamna bukan hanya menjadikannya kecanduan Alquran, tapi juga memudahkannya menghafal kalimat demi kalimat Alquran.

Bahkan ketika tubuhnya diserang sakit, Mutia tak bisa lepas dari Alquran. Firman Allah itu terus memandu bibirnya agar tak henti melafalkan ayat demi ayat dari Kitab Suci. “Ketika itu saya diserang sakit hebat. Suhu tubuh panas tinggi, kepala pusing. Tapi anehnya, saya tidak mau berhenti menghafal. Berhenti menghafal lima menit saja, saya merasa dikejar-kejar hutang,” ujar Mutia.

Penderitaan, kelelahan, dan kucuran air mata Mutia terbayar lunas. Hanya dalam hitungan 5 bulan 15 hari, ia berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz. Prestasi tersebut mengantarkannya sebagai salah seorang santri yang dipercaya sang kiai untuk menjadi mentor tahfiz di Pesantren Irhamna Bil Quran.

Rahasia Metoda Irhamna Bil Quran

Ustazah Fitriyani Nur Fitroh, penemu metoda Irhamna bil Quran, menilai kemampuan santrinya tersebut sangat tidak berlebihan. Sebab, dengan metoda Irhamna, siapapun bisa menghafal Alquran semudah membalikkan tangan. “Dengan metoda Irhamna, menghafal Alquran bukan hanya mudah tapi juga mengasikkan. Dengan menguasai metoda ini, setiap orang bisa menjadi hafiz/ hafizoh,” katanya.

Ustazah Fitri tak keberatan berbagi rahasia metoda Irhamna. Pertama, hafal rumus angka. “Untuk memudahkan dan mempercepat menghafal Alquran dengan metode ini, terlebih dahulu penghafal memahami dan menghafal rumus angka,” ungkapnya. Diungkapkan, rumus yang harus hafal di luar kepala tersebut terdiri atas angka primer 0-9 dan rumus angka sekunder 00-99.

“Yang menjadi contoh surat terpanjang dalam Alquran, yaitu surat Al-Baqoroh. Jumlah ayatnya mencapai 286 ayat. Ayat dengan nomor 100-286 memakai gabungan sistem angka primer dan sekunder,” katanya. Ia menyontohkan, 100 (kunci caca), 105 (kunci cash), 112 (kunci koran), 200 (rambut caca), 218 (rambut koboi), dan seterusnya. Rumus tersebut, lanjut Ustazah Fitri, merupakan media untuk mempermudah asosiasi otak dalam menghafalkan nomor ayat dan mencantolkan urutan dan lafal ayat dan terjemahnya yang dirangkai menggunakan kata kunci.

Langkah kedua, sambung Ustazah Fitri, menghafal ayat dengan menggunakan teknik akselerasi learning. “Setelah memahami dan hafal maksud rumus angka, langkah kedua adalah menggabungkan rumus, ayat, sekaligus terjemahnya kedalam cerita yang sudah disusun dan ditulis menjadi sebuah kalimat,” ungkapnya.

Ditegaskan, penyampaian kalimat harus dengan gaya yang menarik, unik, dan penuh imajinasi. “Kalimat bisa diolah dan diganti dengan yang lebih lucu, dengan catatan harus ada 3 unsur kata kunci di dalamnya, yaitu rumus angka, ayat, dan terjemah,” katanya. Untuk menghafalkan ayat, tambahnya, terlebih dahulu dibaca sebanyak tiga kali, kemudian dihafal perkalimat yang disambungkan dengan kalimat lain dalam satu ayat. “Setelah hafal ayatnya, jangan lupa diulang sebanyak 3 kali. Setelah itu dilanjutkan menghafal ayat selanjutnya, menggunakan cara yang sama. Yaitu 3x3x3=hafal ayat,” ungkapnya.

Langkah ketiga, sambung Ustazah Fitri, menghafal susunan ayat dalam suatu halaman. “Untuk mengetahui nomor-nomor ayat dalam suatu halaman, hendaknya penghafal mengetahui nomor pojok ayat dalam suatu halaman. Yaitu nomor dan ayat pojok atas juga nomor dan ayat pojok bawah dalam suatu halaman,” ujarnya.

Dengan cara ini, menurut Ustazah Fitri, penghafal bisa tahu ada berapa jumlah ayat yang berada dalam satu halaman tersebut. Selain itu, penghafal tidak boleh lupa memberi tanda pada nomor dan ayat yang berada di tengah, yaitu yang berada di antara nomor dan ayat pojok atas dan bawah. Hal itu, untuk menjadi patokan nomor dan ayat sebelum dan sesudahnya. Sementara untuk mengetahui nomor halaman, penghafal bisa menggunakan rumus 1 juz = 10 lembar, 1 lembar = 2 halaman. “Setiap halaman harus ditambahkan dengan 1. Sebab, nomor 1 adalah surat Al-Fatihah,” ujarnya.

Mutia Fatmawati hanya contoh satu santri yang telah merasakan “kesaktian” metoda Irhamna Bil Quran. Dengan menekuni metoda ini, puluhan santri lain juga berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz Alquran kurang dari enam bulan.(SY)***


Sekilas Info

Irna Indah Wahdaniati: Bangga Menjadi Penyanyi Qasidah

Irna Indah Wahdaniati, usianya baru 12 tahun. Tapi siapa sangka, murid kelas VI SDN 4 …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *