Kamis, 19 Oktober 2017

Dari Wayang Golek ke Industri Kreatif

Sudah lebih dari 11 tahun saya hidup dengan wayang golek, sebagai penggemar sekaligus peneliti dari bidang antropologi. Khususnya, saya tertarik dengan bagaimana warisan lokal budaya Sunda tersebut telah menjadi warisan dunia setelah diakui oleh UNESCO sebagai “Warisan Budaya Tak Benda Manusia” sejak 2003, sampai masuk daftar Warisan Budaya Tak Benda Manusia tahun 2008.  Saya sering sempat menanyakan status wayang golek sendiri di dalam masyarakat Sunda tetapi juga dalam konteks Negara Republik Indonesia yang, mau tidak mau, ikut juga serta dalam era globalisasi masa kini.

Tidak perlu memperkenalkan wayang golek lagi,sebuah bentuk pagelaran yang bisa disebut total karena mencakupi semua macam seni (seniukir, lukis, tentu pendalangan, yang mengandung juga sabetan, tari, pencak silat, pola suara dan antarwacana, gamelan, bahasa bahkan bahasa Sunda dan Jawa kuno. Dalang harus bisa membahas semua bidang kehidupan masyarakat, bahkan acara wayang sendiri, yang berlangsung semalam suntuk melibatkan semua aspek kehidupan masyarakat tersebut. Seperti agama, budaya, politik, ekonomi. “Wayang itu universitas,” ujar H. Abah Asep Sunandar Sunarya almarhum, dalang kondang wayang golek asal Bandung.

Cara penyampaian pesan pun tidak pakai bahasa saja tetapi juga menyentuh “lahir dan batin” manusia melalui panca indera peserta. Tidak heran saat wayang diakui sebagai tontonan sekaligus tuntunan, hiburan sekaligus ritual. Lebih penting, wayang golek ini adalah proses yang selalu berubah karena sifat yang sangat spontan, adaptatif sekaligus berdasarkan kode-kode yang berakar dalam sekali dalam kehidupan kebudayaan orang Sunda khususnya. Tetapi sebagai warisan bangsa, bahkan warisan dunia, wayang golek telah mengalami beberapa perubahan, khususnya dalam refleksivitas yang telah muncul mengenainya.

Sebenarnya proses tersebut tidak baru dan sudah mulai muncul pada abad ke-19 saat gagasan “(ke) budaya(an)”, “seni”, “tradisi” dan “ritual” mulai digunakan di Jawa oleh peneliti orientalis asal Belanda dan kaum elite Jawa khususnya. Pada zaman penjajahan, waktu keraton-keraton kehilangan kekuasaan militer dan ekonomi. Kaum elite mencari peran baru di bidang budaya dan berfungsi sebagai pusat dukungan, perkembangan sekaligus “penghalusan”seni dan budaya tersebut. Terjadilah “objektivikasi” unsur-unsur budaya, saat wayang, tari, gamelan dicabut dari konteks sehari-harinya dan diidentifikasikan (atau dikategorisasikan) sebagai budaya, atau seni yang muncul dengan jelas sebagai kategori politik.

Sementara,kemungkinan waktu itu pelaku maupun peserta wayang tidak menganggap wayang sebagai seni tetapi sebagai wayang saja. Suatu kategori yang justru jauh lebih luas daripada “seni”. Pada saat Indonesia merdeka, wayang golek pun berperan, terutama dalam pembangunan budaya dan identitas bangsa Indonesia. Ini mencakup beberapa politik budaya mengenai wayang golek, seperti sensor, propaganda atau normalisasi wayang golek supaya bisa “diangkat” sebagai budaya Indonesia (disini ada juga unsur standardisasi). Sejak tahun 1990-an, wayang pun berperan aktif dalam kesadaran identitas dan budaya Sunda yang sering disamakan dengan wilayah politik Jawa Barat, tetap di dalam konfigurasi nasional Republik Indonesia.

Setelah diakui sebagai warisan budaya tak benda manusia oleh UNESCO pada awal tahun 2000, wayang golek mengalami kategorisasi lagi saat dipandang sebagai warisan. Sekali lagi, warisan lebih muncul sebagai alat politik untuk ambil keputusan dan bertindak di lapang sedangkan wayang golek sendiri jauh lebih luas dari istilah “warisan” tersebut. Adapun dampak dari proses kategorisasi warisan ini, yang melanjutkan proses objektifikasi wayang. Dengan demikian, wayang menjadi sebuah objek yang bisa diambil dari konteks asalnya dan bisa digunakan untuk”representation” (gambaran)/citra (dari budaya Sunda atau Indonesia) dari pada sebagai “presentation” atau penyajian langsung/pagelaran.

Wayang golek sebagai objek juga lebih gampang untuk dikontrolkan atau dimanfaatkan. Bisa juga dipandang sebagai produk, sebagai capital budaya dan ekonomi yang mengandung nilai, maupun sebagai sumber pembangunan. Melalui istilah”industri kreatif” yang mulai popular pada akhir tahun 2000-an, UNESCO menyediakan alat untuk memikirkan komersialisasi unsur-unsur yang bersifat budaya dan kreasi, yang biasanya justru dianggap diluar logika perdagangan, apalagi di negara-negara Barat seperti Prancis, dimana kegiatan seni yang bersifat komersial dipandang secara negatif. Tentu ada juga unsur pelestarian dengan hak kekayaan intelektual, adapun istilah konsumsi pengalaman.

Sisi kedua dari industri kreatif adalah kreasi indutri, atau industri yang masuk kegiatan kreasi. Dalam proses ini, industri akan memberikan standar untuk produk hasilnya. Untuk wayang golek misalnya, ada ketentuan lama pagelaran yang dijadikan rekaman komersial, berhubungan dengan lamanya acara di televisi atau pun kapasitas kaset pita atau DVD rekaman. Industri juga membawa produksi seri produk-produk yang identik. Produksi serial ini menyangkutkan istilah latihan dan ulangan, sehingga wayang golek bisa bersaing di dunia industri kebudayaan dan dapat nilai jual di dalam maupun di luar negeri. Dengan kreasi yang bersifat industri, “kualitas” profesional terjamin, identifikasi bentuk dipermudah, sekaligus lebih gampang diprediksi, dikontrolkan dan dimanfaatkan. Ternyata, cara kita membahas dan memandang kepada sesuata sangat berdampak.

Apakah pada suatu saat tidak akan bertantangan dengan sifat spontan dan adaptatif wayang golek? Apakah tidak akan bertantangan dengan keberanekaragaman wayang golek? Dari sisi lain, wayang bukan sekadar seni, budaya, warisan atau produk, karena wayang masih hidup dalam masyarakat Sunda, dan mencakup dimensi yang jauh lebih luas dan dalam daripada semua kategori yang kami bicarakan sampai sekarang. Selama wayang golek masih bisa menjawab kebutuhan masyarakat, wayang akan tetap hidup. Yang penting, perkembangan wayang golek tetap di tangan pelaku dan penggemarnya. Dan saya kira, begitupun setiap unsur-unsur yang bersifat kreasi manusia, dimana pun. (Sarah Anaïs Andrieu, Peneliti Wayang Golek dari Prancis)****


Sekilas Info

Bedolan Pamarayan Diserbu Warga

SERANG, (KB).- Setelah 10 tahun tak pernah digelar, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang menggelar kembali Festival Bedolan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *