Jumat, 24 November 2017

Banten Masa Transisi, Peralihan Kekuasaan Pasca-Kemerdekaan

Pada masa pendudukan Jepang, Banten dikenal menjadi salah keresidenan di wilayah Jawa Barat. Jepang menjadikan Banten sebagai basis pertahanan pendudukan di wilayah Jawa, baik di bidang pertahanan laut, darat dan udara. Banten menaungi tiga wilayah asisten keresidenan, yakni Lebak, Pandeglang, dan Serang.
Setelah proklamasi digulirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia yang terdiri dari beberapa wilayah keresidenan resmi didaulat menjadi negara mandiri. Saat itu, berita kemerdekaan tidak langsung terdengar ke Banten. Berita ini sampai setelah ada beberapa pemuda dari Jakarta.

Menurut Suharto, dalam disertasinya berjudul “Banten Masa Revolusi 1945-1949, Proses Intergrasi Dalam NKRI”, kabar kemerdekaan yang sampai ke Banten kemudian disebarluaskan ke seluruh wilayah Banten.
”Oleh pemuda setempat (Pemuda di Banten) berita besar itu disebarluaskan ke seluruh wilayah keresidenan,” ujarnya. Selanjutnya, pemuda bergerak menurunkan bendera-bendera Jepang di seluruh kantor pemerintahan, diganti dengan bendera merah putih. Tindakan pemuda tidak mendapat perlawanan dari pegawai pemerintah. Bahkan ada beberapa di antaranya yang memilih pergi ke wilayah Bogor dan sekitarnya.

Masih suasana pascakemerdekaan, Residen Banten waktu itu mengalami kekosongan jabatan. Karena itu diadakanlah suatu rapat yang dihadiri oleh beberapa kalangan, hasilnya memutuskan mengangkat KH. Achmad Chatib, sekaligus menjadi residen pertama pasca Indonesia merdeka. Setelah itu, jabatan di lingkungan keresidenan diisi kembali oleh pejabat lama. Sementara di beberapa daerah, rakyat memilih mengangkat pejabat baru untuk mengisi jabatan yang semula diisi oleh pejabat masa pendudukan Jepang. Akhirnya, hampir seluruh jabatan daerah seperti camat diisi kalangan ulama.

Pengangkatan pejabat lama di lingkungan keresidenan mendapat penolakan dari dewan rakyat, saat itu dipimpin Tje Mamat. Alasannya, karena mereka merupakan warisan kolonial. Ketidakpuasan terhadap kebijakan residen itu berujung pada pengambil alihan kekuasaan. Hingga kemudian, dewan rakyat mengeluarkan maklumat berisi bahwa kekuasaan residen beralih ke tangan dewan. Sementara residen hanya berfungsi sebagai simbolis saja. Dewan yang notabene dibentuk kalangan komunis membentuk pasukan untuk menyasar kediaman kalangan priyai. Beberapa aksi ketegangan membuat Presiden Soekarno turun langsung meninjau ke Banten. Pada suatu ketika di Banten bahkan pernah terdengar desas-desus bahkan Kesultanan Banten akan kembali dihidupkan, Achmad Chatib disebut-sebut menjadi perwaris kesultanan. (Sutisna/”KB”)***


Sekilas Info

Kawah Putih Gunung Karang

Para pecinta traveling wisata alam banyak mengenal keindahan wisata alam Gunung Karang di Pandeglang, Provinsi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *