Selasa, 17 Oktober 2017

Awas, Bencana Mengintai

TASIKMALAYA, (KB).-“Mun gunung geus papanganten, legok ringgit geus kahimpit, ciawi jadi leuwi, Tasik jadi talaga” sebuah palsafah karuhun baheula menjadi pengingat betapa besar dampak bencana alam yang bisa saja terjadi di wilayah Tasikmalaya. Kalimat itu muncul sejak 100 tahun lalu. Namun peristiwa itu bisa saja terjadi saat ini. Peluang untuk terjadinya bencana alam sudah nampak. Gunung Cakrabuana huku sungai Citanduy di Kecamatan Pagerageung sudah rusak. Begitu juga Gunung Sawal di wilayah Kecamatan Ciamis tidak jauh beda.

Gunung Galunggung yang meletus pada tahun 1982, mulai memunculkan gelagat yang kurang baik. Beberapa waktu lalu terjadi longsoran di kawasan kawah yang mampu menutupi areal lebih dari 40 hektar. Dua warga menjadi korban. Bencana alam kini sedang mengintai. Jika saja tiga gunung tersebut rusak dan menimbulkan bencana alam atau menjadi “panganten” akan bertemu di kawasan Rajapolah. Dampaknya Ciawi akan menjadi Leuwi dan Tasikmalaya menjadi telaga dalam makna sebenarnya.

Ketua Komunitas Citanduy (konci) Lestari, Asep Hidayat mengatakan, apa yang menjadi cacandran karuhun dulu bisa saja terbukti, kalau tidak ada upaya untuk melakukan penyelamatan lingkungan. “Kawasan hulu Citanduy di gunung Cakra Buana rusak dan jika dibiarkan akan menjadi bencana. Alih fungsi lahan di hulu sudah terjadi. Kawasan gunung dalam kondisi kritis. Ini bahaya,” katanya pada saresehan mitigasi bencana DAS Hulu Citanduy di Leuwi Tiris, Desa Guranteng Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya, Rabu (4/10/2017).

Pegiat Lingkungan di wilayah Ciawi Abah Iwan Kustiawan yang sudah 25 tahun begrerak melestarikan kawasan Gunung Sawal mengatakan, kondisi Gunung Sawal saat ini juga sudah kritis dan bisa menjadi bom waktu. Ekosistem Gunung yang menjadi habitat Macan Kumbang tersebut kata dia sudah rusak. Saat ini ada lebih 400 hektar pegeatis hutan beralih fungsi menjadi lahan produksi dengan ditanami kopi. Padahal kondisi kemiringan lebih dari 30 persen dan ini berpotensi menjadi bencana longsor. “Ini bisa menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak. Karena di bagian atas ada danau raksasa yang tebing penahannya sudah keropos dan bisa menjadi bencana besar,” jelasnya.

Ia mengatakan, jika ini terjadi maka kerugian yang terkena dampak bencana nilainya jauh lebih besar dari bencana Cimanuk Garut silam. Karena potensi kebencanaannya lebih besar. Gunung Sawal saat ini kata dia sebagi gentong air yang kondisinya sedang di obok-obok sehingga dampak nya nanti bisa dirasakan oleh masyarakat Tasik Ciamis Banjar bahkan hingga Pangandaran dan Cilacap. Bah Asep dan juga Bah Iwan sepakat harus ada upaya serius untuk menyadarkan masyarakat yang tinggal di kawasan hulu sungai baik di Gunung Cakrabuana dan Gunung Sawal agar memiliki kepedulian yang besar dalam melestarikan kawasan.

Kalau tidak, apa yang dikhawatirkan oleh para karuhun mengenai bencana alam besar bisa saja terjadi. Dan menurut Budiman dari pihak Bale Besar Wilayah Sungai Citanduy, bencana datang dengan tiba-tiba dan bisa terjadi kapan saja. “Kami memiliki komitmen untuk memelihara kawasan hulu Citanduy, wujudnya tiap tahun melakukan penanaman pohon. Alam ini harus terus dijaga jangan sampai menimbulkan bencana, karena kalau sudah terjadi bencana biayanya besar,” ucapnya.

Ketua Paguyuban Peduli Alam dan Lingkungan Galuh Asri ((Pedalgas), Nur ZM mengatakan, butuh sinergitas dari semua lini baik itu masyarakat, para pegiat lingkungan pemerintah dan instansi lainnya dalam memelihara lingkungan. Saat ini kelihatanya belum sinkron dan ibu harus diupayakan agar satu sama lain saling bahu membahu menyelamatkan lingkungan. “Waluya alam Waluya diri ini yang harus ditanamkan kepada masyarakat dan semua elemen lainya termasuk pemerintah agar lingkungan terjaga,” kayanya.

Camat Pagerageung, Enceng Muchtar menjelaskan, kondisi hulu Citanduy saat ini sudah kritis dan harus dijauhkan kembali agar tidak menimbulkan bencana alam. Sebab kalau hulu rusak maka dampaknya akan meluas tidak hanya warga hulu tetapi warga di tengah dan hilir terkena dampak. “Ibadah itu tidak hanya shalat saja, tetapi juga memelihara lingkungan alam juga bagian dari ibadah. Karena berusaha menghindarkan bahaya bencana,” ucapnya. Ia mengaku bangga dengan langkah yang dilakukan masyarakat Guranteng yang sudah memiliki kepedulian yang besar dalam menjaga lingkungan alam.

Dinas Utama Tidak Hadir

Hanya saja dalam kesempatan itu Camat Pagerageung menyayangkan acara saresehan yang membahas bagaimana menyelamatkan lingkungan hulu Sungai tidak dihadiri oleh Dinas yang berkaitan dengan kebencanaan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah baik dari Kabupaten Tasikmalaya dan juga Kabupaten Ciamis tidak hadir. Padahal pengurangan resiko bencana bagian dari program yang dimiliki BPBD.

Bahkan Asep Hidayat menyebutkan pihaknya diminta oleh beberapa kementerian untuk melaporkan dinas mana saja yang tidak hadir dalam kegiatan tersebut, karena pentingnya agenda saresehan dalam menyatukan gerak dan langkah dalam menyelamatkan lingkungan. “Semuanya akan kami laporkan, siapa saja yang hadir dan tidak hadir karena kami diminta laporannya. Termasuk apa yang terjadi dalam saresehan ini akan dijadikan bahan dalam kongres sungai nanti,” ucapnya penuh Semangat.

Kapolsek Pagerageung, AKP Trisna Sukmayadi mengatakan, mitigasi bencana menjadi penting bukan saja bagi kelestarian lingkungan, tetapi juga keamanan lingkungan. Karena ketika sudah terjadi bencana, semua akan disibukan termasuk pihak kepolisian. “Kami sangat menyambut baik kegiatan saresehan mitigasi bencana ini, karena dampaknya besar bagi keamanan lingkungan,” ujarnya. Sementara itu, saresehan membahas kawasan hulu Citanduy juga akan digelar kembali. Itu sebagai upaya dalam membangun rasa kepedulian terhadap lingkungan dari kalangan masyarakat. (Abdul Latif/KAPOL)***


Sekilas Info

Pangandaran Fair Lebih Meriah

PANGANDARAN, (KB).- Carnaval Budaya bagian dari kegiatan Pangandaran Fair dalam rangka memperingati Hari Jadi Ke 5 …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *