Kamis, 17 Agustus 2017

Arca Sanghyang Dengdek, Tempat Pemujaan Nenek Moyang

Sanghyang Dengdek merupakan sebutan untuk arca atau patung batu yang terdapat di kaki Gunung Pulosari, tepatnya di Kampung Ciparut, Desa Sanghyang Dengdek, Kecamatan Saketi, Pandeglang. Arca tersebut menjadi salah satu peninggalan tradisi Kerajaan Salakanagara. Pada lokasi tersebut terdapat beberapa batu yang berdiri miring atau dalam bahasa Sunda-nya Dengdek. Dari posisi itulah nama Dengdek diambil. “Jadi, ada arca batu yang posisinya miring, sebetulnya bisa diluruskan, tapi tidak ada yang meluruskan,” kata Direktur Banten Heritage, Dadan Sujana kepada Kabar Banten, Kamis (20/7/2017).

Sedangkan, nama Sanghyang merupakan sebutan untuk sang Maha Pencipta atau Tuhan.Sanghyang banyak digunakan oleh manusia saat itu, umumnya mereka yang beragama Sunda Wiwitan. “Jadi, sanghyang itu nama Tuhan yang banyak digunakan pada waktu itu,” ujarnya.  Melihat hal tersebut, dapat disimpulkan, bahwa lokasi tersebut pernah menjadi tempat pemujaan manusia terdahulu. Manusia waktu itu memang lebih banyak menggunakan batu sebagai simbol penyembahan atau peribadatan. “Dulu dipakai menjadi tempat peribadatan,” ucapnya.

peninggalan lain bernilai sejarah tinggi

Ia menuturkan, batu berupa menhir tersebut juga diduga sudah ada sejak zaman megalitikum. Kemudian, berlanjut hingga masa Kerajaan Salaknagara. Di Pandeglang, jejak peninggalan Salakanagara ditemukan di tiga lokasi. “Peninggalan itu ada di tiga lokasi, salah satu adalah ini (Sanghyang Dengdek,” tuturnya.

Arca Sanghyang Dengdek juga menggambarkan karya seni nenek moyang di daerah tersebut. Batu personifikasi sebagai sarana pemujaan arwah. “Lokasi benda cagar budaya ini berada di Kampung Ciparut, Desa Sanghyang Dengdek, Kecamatan Saketi, Pandeglang,” katanya.  Tidak jauh dari lokasi tersebut, terdapat juga peninggalan lain yang sama bernilai sejarah tinggi seperti batu sorban. “Jadi, ternyata ada batu lain yang keberadaaanya tidak jauh dari lokasi ini, di antaranya batu sorban, batu jenis dengdek juga banyak di beberapa lokasi lain,” ujar pria yang juga berprofesi sebagai dosen tersebut. (Sutisna/”KB”)***


Sekilas Info

Hilangkan Stigma Kumuh Banten Lama

Gubernur Banten Wahidin Halim (WH) menginginkan proses revitalisasi kawasan wisata religi Banten Lama yang berlokasi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *