Sabtu, 18 November 2017

50 Tahun Terisolasi, Curug Tilu Purwakarta Menakjubkan

Tidak disangka, di Desa Ciririp, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat ternyata menyimpan harta karun alam yang sangat eksotis. Setelah 50 tahun desa tersebut terisolasi, namun setelah dibuka akses infrastruktur terdapat mutiara alam yakni air terjun Curug Tilu yang sangat menakjubkan.  Sehingga sangat membantu roda perekonomian masyarakat setempat.

Kecamatan Sukasari yang hampir 70 persen nya adalah hutan belantara, ternyata memiliki air terjun yang sangat indah, bahkan tak kalah dengan Grand Canyon yang berada di Amerika Utara. Air terjun ini oleh warga setempat diberi nama Curug Tilu, meski namanya sama dengan air terjun di kawasan Kota Cimahi, namun tampilannya jauh berbeda. Hal itu dikarenakan air terjun ini masih belum banyak terjamah.

Lokasi Curug Tilu ini tepatnya berada di Desa Ciririp, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta. Aksesnya pun cukup mudah untuk menjangkau air terjun indah ini. Wisatawan bisa menggunakan Jalan Cikao Bandung Jatiluhur yang langsung tembus ke ruas Jalan Sukasari. Dengan jalur tersebut hanya membutuhkan waktu 40 menit saja dari Purwakarta Kota. Sementara jalur lainnya melalui Kecamatan Maniis ke Kecamatan Sukasari tidak disarankan. Hal itu karena jalur tersebut masih dalam tahap pengerjaan.

Aming (27), pengunjung air terjun ini mengaku, untuk mencapai Curug Tilu dibutuhkan waktu hanya 10 menit saja dari pinggiran Jalan Sukasari. Sementara jarak yang ditempuh adalah sekitar 1 km saja.
“Saat akan memasuki lokasi di pintu masuk terdapat Pos yang diberi nama Kompas (Komunitas Pecinta Alam Sukasari). Pos ini cukup unik dan nyaman karena dibangun dengan bambu dan beratapkan ijuk,” ucap Aming seperti dikutip dari pikiran rakyat, Rabu (1/11/2017).

Aming merasa terharu dan bahagia karena baru pertama kali datang ke sini.  “Saya jauh-jauh dari Tanjung Garut di Purwakarta, datang ke sini, heran masih ada tempat yang indah seperti ini di Purwakarta,” ujarnya. Ketua Kompas, Muhammad Arifin (33), mengatakan, dirinya bersama tim terus berusaha menjaga objek wisata yang indah ini. “Kami pun lakukan eksplorasi di lokasi tersebut, ternyata sekitarnya pun indah,” ucapnya.

Menurut dia, karena tempat ini amat indah maka dirinya terus memperkenalkan tempat ini ke masyarakat luas. “Tapi meski wisatawan sudah banyak datang, kami tetap jaga sebaik mungkin keasrian dari tempat ini,” tuturnya. Arif menjelaskan fasilitas yang bisa dinikmati oleh wisatawan saat berkunjung ke Curug Tilu. Home stay sudah tersedia di pinggir air terjun.

Di bangunan untuk home stay ini sudah lengkap dengan hammock (ayunan) dan tempat khusus untuk berenang. “Ada hidangan nasi liwet juga dengan harga yang terjangkau. Hanya dengan uang Rp 50.000 saja, wisatawan sudah bisa menikmati fasilitas nasi liwet yang lengkap,” katanya seraya menambahkan nasi liwet ini bisa dinikmati hingga 5 orang.

Sementara itu tepat di curug utama, para wisatawan akan dimanjakan dengan pemandangan alam nan hijau. Ditambah pula dengan kontur bebatuan khas pegunungan. Warna air di tempat tersebut terlihat kehijauan persis seperti ‘Grand Canyon’ di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.

Selama ini, Arif hanya mengandalkan tenaga para pemuda di Desa Ciririp untuk melakukan pengelolaan. Kompas yang ia pimpin pun berencana melakukan pengembangan lebih lanjut berupa sarana untuk river tubing dan body rafting. “Terus terang masih jauh dari maksimal karena kami disini beranggotakan pemuda desa saja, inginnya tambah bagus. Tapi alhamdulillah, wisatawan dari Jakarta dan Karawang, dan khususnya Purwakarta sehari bisa 20-30 orang yang datang,” ujarnya. (TB. A. Turmahdi)***


Sekilas Info

Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang, Kereta Kencana Naga Paksi Dikagumi Siswa

KERETA kencana naga paksi di Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang, dikagumi sejumlah siswa pendidikan anak usia …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *